Thu,6 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Petani Padang Pariaman Akali Cuaca Ekstrem Lewat Pola Tanam Berlapis, Bagaimana Caranya?

Petani Padang Pariaman Akali Cuaca Ekstrem Lewat Pola Tanam Berlapis, Bagaimana Caranya?

petani-padang-pariaman-akali-cuaca-ekstrem-lewat-pola-tanam-berlapis,-bagaimana-caranya?
Petani Padang Pariaman Akali Cuaca Ekstrem Lewat Pola Tanam Berlapis, Bagaimana Caranya?
service

23 Juni 2026 08.00 WIB • 2 menit

Ludhita Dwi A / Shutterstock.com


Ancaman perubahan iklim yang memicu rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di wilayah Sumatera Barat mendorong sektor akademis untuk mencari formula mitigasi yang aplikatif. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggali kembali sistem pertanian tradisional Minangkabau yang dikenal dengan nama parak untuk diselaraskan dengan konsep pertanian cerdas iklim.

Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Yulinda, menjelaskan bahwa model tata guna lahan tradisional ini memiliki modalitas besar dalam memperkuat ketahanan lingkungan.

Uji coba penerapan hasil kajian ini dilakukan secara riil melalui pengembangan sistem agroforestri di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Kawasan Hutan Nagari Salibutan dipilih karena posisinya yang strategis sebagai daerah tangkapan air sekaligus penyangga lingkungan di sepanjang daerah aliran Sungai Batang Anai yang menopang kehidupan warga di wilayah hilir.

Melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) serta Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), pola budi daya di kawasan tersebut diarahkan pada metode tanam berlapis guna mencegah degradasi lahan akibat perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu.

Mekanisme Pola Tanam Berlapis di Lantai Hutan

Dalam implementasi praktis di lapangan, vegetasi hutan diatur sedemikian rupa agar fungsi ekologis dan ekonomisnya berjalan beriringan.

Tanaman pohon keras berumur panjang seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang diposisikan sebagai pelindung utama di lapisan atas yang berfungsi menahan laju erosi tanah sekaligus bertugas sebagai penyerap karbon.

Tepat di bawah naungan pohon-pohon besar tersebut, masyarakat menanam komoditas pertanian lapis kedua berupa tanaman kakao.

Sementara itu, ruang kosong di area lantai hutan tidak dibiarkan menganggur, melainkan dioptimalkan untuk budi daya tanaman rempah yang tangguh di bawah naungan, seperti jahe, kunyit, dan serai.

Kombinasi jenis tanaman ini membuat struktur akar di dalam tanah menjadi lebih rapat dan kuat dalam mengikat air, sementara permukaan tanah tetap terlindungi dari hantaman langsung air hujan deras.

Model berlapis ini secara mekanis menurunkan risiko longsor di kawasan hulu tanpa harus mengusir masyarakat dari area kelola hutan.

Peluang Ekonomi Baru Melalui Pasar Karbon Komunitas

Data hasil kajian tim peneliti menunjukkan bahwa pemanfaatan ekosistem parak yang dimodifikasi ini berhasil memenuhi tiga target utama dalam manajemen pertanian berkelanjutan.

Model ini terbukti mampu menaikkan produktivitas lahan, memperkuat proteksi kawasan dari dampak cuaca ekstrem, sekaligus menekan volume pelepasan emisi gas rumah kaca.

Dari sisi finansial, skema diversifikasi tanaman dari strata atas hingga lantai hutan terbukti mampu mengamankan rantai pendapatan petani. Warga tidak lagi bergantung pada satu jenis komoditas musiman yang rawan gagal panen akibat pergeseran musim yang tidak menentu.

Selain hasil panen harian berupa rempah dan buah, lumbung vegetasi yang terdata dengan baik ini juga membuka peluang masuknya insentif finansial baru melalui mekanisme perdagangan karbon berbasis masyarakat.

Pengembangan pasar karbon lokal ini kini mulai dilirik oleh jaringan global sebagai salah satu solusi untuk memberikan kompensasi ekonomi langsung bagi komunitas adat yang konsisten menjaga kelestarian hutan penangkap air.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.