Wed,15 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Piala Dunia dan Cara China Menertawakan Diri Sendiri

Piala Dunia dan Cara China Menertawakan Diri Sendiri

piala-dunia-dan-cara-china-menertawakan-diri-sendiri
Piala Dunia dan Cara China Menertawakan Diri Sendiri
service

Piala Dunia 2026 menghadirkan ironi lama bagi China. Bus listrik dan kereta ringan buatan China mengangkut penonton di kota-kota tuan rumah Meksiko. Perangkat Lenovo menopang operasi dan penyiaran turnamen. Layar Hisense digunakan di ruang video assistant referee dan pusat penyiaran internasional. Kelme memasok seragam dua tim peserta. Pabrik-pabrik di Yiwu dan Qingdao mengirim jutaan bendera, syal, topi, boneka, bola suvenir, dan perlengkapan pendukung. Tiga orang China bahkan bertugas dalam tim perwasitan. Hanya satu produk nasional terus gagal dikirim ke Piala Dunia, yakni tim sepak bola putra China.

Lelucon tentang absennya tim nasional sudah beredar selama bertahun-tahun. Salah satu ungkapan paling terkenal menyebut bahwa segala sesuatu dari China hadir di Piala Dunia kecuali tim nasionalnya. Kalimat tersebut terus hidup karena terlalu dekat dengan kenyataan. China berhasil menempatkan diri di hampir seluruh rantai ekonomi sepak bola global, tetapi gagal menempatkan sebelas pemainnya di lapangan.

Humor semacam itu bukan sekadar cara menghibur diri setelah kekalahan. Di balik ejekan terhadap pemain, pelatih, dan federasi, terdapat kekecewaan lebih luas terhadap cara sepak bola nasional dikelola. Warga China menertawakan tim nasional karena harapan terhadap negaranya jauh lebih besar daripada hasilnya. Semakin tinggi ambisi resmi diumumkan, semakin tajam pula ironi saat pencapaian tidak mengikuti.

Sepak bola memiliki tempat khusus dalam politik China. Xi Jinping pernah menyampaikan tiga harapan besar bagi sepak bola nasional, yakni lolos ke Piala Dunia, menjadi tuan rumah, dan memenangkannya. Sejak saat itu, prestasi sepak bola tidak lagi berdiri sebagai urusan olahraga semata. Kegagalan di lapangan ikut memperlihatkan jarak antara target politik dan kemampuan nyata sistem.

Jarak tersebut membuat sepak bola menjadi salah satu ruang langka bagi publik untuk menertawakan kegagalan birokrasi secara terbuka. Sasaran langsungnya sering berupa Asosiasi Sepak Bola China, pejabat olahraga, pengurus liga, pelatih, atau pemain. Kritik terhadap mereka relatif aman karena dapat dibingkai sebagai keluhan penggemar. Sasaran tidak langsungnya lebih luas, yakni cara negara menjalankan proyek, menetapkan target, membangun kampanye, dan menuntut hasil melalui struktur administratif.

Federasi menjadi simbol paling mudah dari kegagalan itu. Korupsi, pergantian kebijakan, perekrutan mahal, liga bermasalah, dan pembinaan usia muda tanpa hasil telah mengikis kepercayaan publik. Setiap skandal memperkuat kesan bahwa sepak bola nasional dikelola bukan untuk membangun permainan, melainkan untuk memenuhi kepentingan birokrasi dan menunjukkan kepatuhan terhadap prioritas politik terbaru.

Masalahnya tidak berhenti pada beberapa pejabat korup atau pengurus tidak kompeten. Federasi merupakan bagian dari sistem negara. Budaya kerja, pola promosi, insentif, dan proses pengambilan keputusan tidak terpisah dari birokrasi lebih luas. Ejekan terhadap federasi secara tidak langsung juga menjadi komentar terhadap sistem pemerintahan yang sering menganggap semua persoalan dapat diselesaikan melalui perintah, dana, target, dan mobilisasi.

Model tersebut memang menghasilkan keberhasilan besar di bidang lain. China mampu membangun infrastruktur dalam skala luas, memperkuat manufaktur, mengembangkan industri kendaraan listrik, dan mendominasi sejumlah cabang olahraga individual. Keberhasilan itu melahirkan keyakinan bahwa sepak bola dapat dikelola dengan formula serupa. Negara menetapkan sasaran, membangun akademi, mendorong investasi, mendatangkan pemain asing, dan meminta sekolah membuka program sepak bola.

Hasilnya tidak sebanding dengan sumber daya yang dikeluarkan. Banyak program berjalan sebagai kewajiban administratif. Akademi dibuka, turnamen diselenggarakan, dan laporan keberhasilan disusun. Aktivitas bertambah di atas kertas, sementara kualitas kompetisi, jumlah pelatih akar rumput, jalur pengembangan pemain, dan budaya bermain tetap lemah.

Brutal truth dari kegagalan tersebut bukan bahwa negara China terlalu lemah. Negara justru terlalu percaya pada kemampuannya sendiri. Sistem menganggap sepak bola dapat direkayasa seperti proyek industri. Keyakinan tersebut mengabaikan sifat permainan yang tumbuh dari partisipasi luas, kompetisi lokal, kebiasaan bermain sejak kecil, improvisasi, kegagalan, dan hubungan sosial di tingkat komunitas.

Negara tetap memiliki peran penting. Hampir semua negara sepak bola sukses memiliki federasi kuat, akademi, program pembinaan, dan strategi nasional. Persoalan China bukan keberadaan perencanaan, melainkan bentuk perencanaan yang terlalu politis, tidak konsisten, dan terputus dari kehidupan sosial. Target datang lebih dahulu, sedangkan basis partisipasi belum terbentuk. Pemerintah ingin mengendalikan hasil sebelum berhasil membangun ekosistem.

Kontras paling menarik muncul dari kompetisi akar rumput seperti liga desa di Guizhou dan liga lokal di Jiangsu. Pertandingan tersebut menarik perhatian bukan karena menampilkan pemain bintang, melainkan karena menghadirkan identitas komunitas, rivalitas lokal, partisipasi sukarela, dan kedekatan emosional. Penonton mengenal pemain sebagai tetangga, pekerja, pedagang, atau warga desa sebelah.

Liga semacam itu belum membuktikan kemampuan menghasilkan pemain elite. Popularitas lokal tidak otomatis menciptakan tim nasional kuat. Nilai terbesarnya terletak pada kenyataan bahwa energi sepak bola justru muncul di ruang dengan kontrol administratif lebih ringan. Masyarakat menciptakan keterlibatan yang gagal dihasilkan oleh kampanye resmi.

Humor publik bekerja dengan logika serupa. Lelucon memberi ruang bagi warga untuk mengatakan bahwa federasi gagal, pejabat gagal, dan model pengelolaan dari atas memiliki batas. Kritik tersebut tidak selalu berisi penolakan terhadap pemerintah. Banyak penggemar tetap berharap negara turun tangan lebih keras untuk memperbaiki sepak bola. Kontradiksi ini penting. Publik mengejek birokrasi sekaligus masih menunggu birokrasi menyelesaikan masalah.

Piala Dunia memperlihatkan dua wajah China. Wajah pertama menunjukkan kekuatan industri, teknologi, pasar, dan integrasi global. Wajah kedua menunjukkan kelemahan sebuah sistem yang kesulitan menciptakan kreativitas, partisipasi, dan budaya permainan dari bawah.
China dapat memproduksi hampir seluruh kebutuhan Piala Dunia. Warganya tetap harus menonton negara lain bertanding. Di antara kebanggaan industri dan rasa malu olahraga, lahirlah lelucon paling jujur tentang batas kekuasaan negara.

Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Politik China Nanyang Technological University, Singapura.
 


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Virdika Rizky Utama
Direktur Eksekutif PARA Syndicate. Saat ini sedang menempuh Program Doktoral Ilmu Politik di Nanyang Technological University, Singapura.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.