Fri,22 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Prabowo undang pejabat ekonomi era SBY tampung pengalaman krisis 2008

Prabowo undang pejabat ekonomi era SBY tampung pengalaman krisis 2008

prabowo-undang-pejabat-ekonomi-era-sby-tampung-pengalaman-krisis-2008
Prabowo undang pejabat ekonomi era SBY tampung pengalaman krisis 2008
service

Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Presiden Prabowo Subianto mengundang sejumlah pejabat ekonomi era Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono untuk menampung pengalaman mereka menghadapi krisis ekonomi 2008 di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mendampingi Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut. Selain Airlangga, Menteri Purbaya Yudhi Sadewa juga turut mendampingi.

“Saya didampingi oleh Pak Menteri Keuangan Pak Purbaya, tadi mendampingi Bapak Presiden menerima beberapa tokoh yang pernah menjadi menteri atau gubernur Bank Indonesia,” kata Airlangga.

Tokoh yang hadir antara lain mantan Gubernur Bank Indonesia periode 2003-2008 Burhanuddin Abdullah, mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas periode 2005-2009 Paskah Suzetta, dan mantan Wakil Menteri PPN/Wakil Kepala Bappenas periode 2010-2014 Lukita Dinarsyah Tuwo.

Baca juga: Pakar: Kejatuhan bank tidak akan menjadi pengulangan krisis 2008

Menurut Airlangga, para tokoh tersebut membagikan pengalaman menghadapi krisis ekonomi pada periode 2004-2014.

“Dalam pertemuan tadi disampaikan beberapa hal yang menjadi pengalaman mereka saat menghadapi krisis di tahun 2008. Kebetulan mereka rata-rata di periodenya antara 2004 sampai 2014,” kata dia.

Salah satu pembahasan terkait inflasi yang sempat mencapai sekitar 17 persen serta gejolak nilai tukar akibat kenaikan harga minyak dunia pada 2005.

Airlangga mengatakan harga minyak dunia saat itu sempat menyentuh 140 dolar AS per barel dan berdampak pada kenaikan inflasi hingga 27 persen.

Menurut dia, jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, situasi makro ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih baik dengan fundamental yang lebih kuat serta depresiasi rupiah yang berada di kisaran 5 persen, lebih rendah dibandingkan berbagai kasus di masa lalu.

“Kalau kita cek dengan konteks hari ini, relatif situasi makro kita lebih baik, fundamental lebih kuat, dan depresiasi rupiah itu sekitar 5 persen. Jadi jauh lebih rendah dari berbagai kasus sebelumnya.
Dari situ sebetulnya kita belajar bagaimana mengantisipasi dan apa yang diperlukan untuk menghadapi situasi-situasi ke depan,” kata Airlangga.

Baca juga: Keruntuhan SVB dinilai bukan pengulangan krisis ekonomi 2008

Menurut dia, Presiden juga meminta pemerintah memantau regulasi untuk memperkuat sektor keuangan dan menjaga kehati-hatian perbankan nasional.

Selain itu, pemerintah akan mengkaji penguatan permodalan perbankan mengingat jumlah bank di Indonesia cukup banyak.

“Presiden meminta kami bersama Menteri Keuangan untuk memonitor bagaimana regulasi-regulasi untuk memperkuat situasi finansial dan juga menjaga prudensial dari perbankan kita. Kita memang jumlah perbankan banyak dan mungkin kita perlu kaji bagaimana permodalannya untuk diperkuat,” kata Airlangga.

Sementara itu, Burhanuddin Abdullah mengatakan pertemuan tersebut membahas pengalaman masa lalu yang dapat menjadi pelajaran dalam menghadapi kondisi ekonomi saat ini.

“Diskusi cerita masa lalu, ada peristiwa yang dulu juga pernah terjadi dan bisa dijadikan pelajaran sekarang,” kata Burhanuddin.

Baca juga: Ekonom: Tuntutan harga BBM turun harus belajar dari krisis 2008

Ia mencontohkan kenaikan harga bahan bakar minyak hingga 126 persen pada 2005 akibat faktor eksternal yang berdampak pada kondisi ekonomi domestik.

“Dulu di dalam negeri yang menaikkan, itu juga karena eksternal kan, faktornya maksud saya, eksternal kan. Nah terus kemudian dampaknya kan sama seperti sekarang. Mungkin cara penanganannya yang harus di-refine gitu,” ucapnya.

Menurut Burhanuddin, pembahasan dalam pertemuan tidak secara spesifik membahas nilai tukar rupiah, melainkan dampak menyeluruh dari kondisi global terhadap perekonomian nasional.

Dia juga menyampaikan perlunya langkah yang lebih rinci dari pemerintah, baik dari sisi fiskal maupun moneter, termasuk penguatan koordinasi antarlembaga dalam menangani situasi ekonomi.

“Di pemerintah lah. Jadi fiskalnya bagaimana, moneter bagaimana, secara teamwork-nya harus seperti apa untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar dia.

Baca juga: Ketua IMF: Kita sekarang dalam resesi, lebih buruk dari krisis 2008

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Abdul Hakim
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.