Jakarta, Arina.id—Mencintai makhluk Allah menjadi jalan penting bagi manusia untuk mendekati kebenaran sekaligus mengenal Allah.
Hal ini disampaikan oleh filsuf Muslim dan penulis kajian filsafat Islam, Fahruddin Faiz saat mengulas salah satu gagasan sufistik dari Jalaluddin Rumi sebagaimana dalam tayangan video Channel Ngaji Filsafat.diakses Minggu (8/3/2026).
Menurutnya, dalam satu kalimat pendek dari Rumi tersimpan gagasan yang sangat luas: Cinta kepada makhluk Allah, cinta kepada kebenaran, dan pengenalan kepada Allah. Ketiga hal itu saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
“Selama kita tidak belajar mencintai makhluk Allah, kita tidak akan bisa mencintai kebenaran dan kita tidak akan mengenal Allah,” ujar Fahruddin Faiz.
Ia menjelaskan, manusia memiliki posisi khusus dalam proses menemukan kebenaran. Berbeda dengan makhluk lain seperti hewan dan tumbuhan yang sudah berjalan sesuai kodratnya, manusia justru diberi kemampuan untuk berproses dalam mencari dan mendekati kebenaran.
“Yang oleh Allah dititipi dengan urusan kebenaran itu manusia. Di luar manusia tidak sibuk mencerna, mendekati, apalagi mencintai kebenaran karena mereka sudah ‘paket jadi’. Binatang dan tumbuhan berjalan sesuai ketetapannya,” jelasnya.
Sementara manusia, lanjutnya, diberi berbagai perangkat seperti akal, hati, dan pengalaman hidup yang membuatnya mampu bergerak mendekati atau justru menjauhi kebenaran. Karena itu, menurutnya, mencintai manusia sebagai sesama makhluk Allah menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju kebenaran.
Jika seseorang tidak belajar mencintai manusia dan makhluk Allah lainnya, ia akan kesulitan mencintai kebenaran. Padahal, kecintaan kepada kebenaran merupakan pintu untuk mengenal Allah.
“Kalau kita tidak mencintai kebenaran, tidak mungkin kita bisa mengenal Allah,” kata tokoh yang juga dosen di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Fahruddin Faiz juga menyinggung fenomena kehidupan yang sering dipenuhi kebencian. Menurutnya, ketika hidup seseorang dipenuhi kebencian, hal itu menandakan bahwa ia semakin jauh dari kebenaran.
“Kalau hidup seseorang isinya kebencian terus, berarti dia jauh dari kebenaran. Kalau jauh dari kebenaran, tentu sulit mengenal Allah,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak agar kehidupan dikembangkan dengan semangat mencintai makhluk Allah. Cinta tersebut tidak hanya kepada manusia, tetapi juga kepada seluruh makhluk yang diciptakan-Nya.
Namun, ia menegaskan bahwa mencintai makhluk Allah tidak berarti menyetujui segala perbuatannya. Dalam praktiknya, ekspresi cinta bisa berbeda tergantung pada kondisi orang yang dihadapi.
“Orang baik dan orang buruk sama-sama kita cintai, tetapi cara mengekspresikan cintanya berbeda,” jelasnya.
Kepada orang yang berbuat baik, cinta dapat diwujudkan melalui dukungan dan apresiasi. Sementara kepada orang yang melakukan kesalahan atau keburukan, cinta justru ditunjukkan dengan cara menasihati, membimbing, dan mengingatkan.
“Kalau orang yang kita cintai melakukan keburukan, kita dekati dan kita nasihati karena kita peduli,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dalam kehidupan semestinya tidak ada ruang bagi kebencian. Menurutnya, kebencian justru dapat bertentangan dengan kebenaran, sebab segala sesuatu yang terjadi pada akhirnya berada dalam ketetapan Allah.
“Kalau kita membenci fenomena, membenci fakta, atau membenci kenyataan, pada akhirnya itu sama saja dengan membenci ketetapan Allah,” ujarnya.
Untuk menggambarkan bagaimana cinta diekspresikan secara berbeda-beda, Fahruddin Faiz memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya seseorang memiliki dua teman dengan kondisi berbeda: satu masih anak sekolah dasar, sementara yang lain sudah dewasa dan berkeluarga.
Cara menunjukkan perhatian kepada keduanya tentu tidak sama. “Kalau yang masih SD mungkin dibelikan mobil remote sudah senang sekali. Tapi kalau yang sudah menikah dibelikan mobil remote tentu tidak cocok,” katanya.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa cinta bukan sekadar perasaan, melainkan sikap yang diwujudkan sesuai kebutuhan dan keadaan orang yang dicintai.





Comments are closed.