Sun,30 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Profil KH Afifuddin Muhajir, Ulama Ahli Ushul Fiqih yang Jadi Anggota AHWA

Profil KH Afifuddin Muhajir, Ulama Ahli Ushul Fiqih yang Jadi Anggota AHWA

profil-kh-afifuddin-muhajir,-ulama-ahli-ushul-fiqih-yang-jadi-anggota-ahwa
Profil KH Afifuddin Muhajir, Ulama Ahli Ushul Fiqih yang Jadi Anggota AHWA
service

Jombang, NU Online

Nama KH Afifuddin Muhajir berada di lingkaran penting Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ulama asal Sampang, Madura, itu terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), forum yang diisi ulama terpercaya untuk menjalankan fungsi khusus dalam jam’iyah NU, termasuk memilih Rais Syuriyah.

Keberadaan Kiai Afifuddin di Ahwa bukan semata karena rekam jejaknya sebagai pengasuh pesantren. Ia dikenal sebagai ulama yang menguasai fikih sekaligus metodologi dalam menetapkan hukum Islam. Kepakaran itu membuat pemikirannya kerap digunakan untuk membaca persoalan keagamaan yang bersinggungan dengan kehidupan kebangsaan.

Ketua Umum PBNU periode sebelumnya, KH Said Aqil Siroj, pernah menyebut kepakaran Kiai Afifuddin, terutama dalam bidang ushul fikih, sebagai keahlian yang telah diakui luas di kalangan ulama. Pengakuan terhadap kapasitas keilmuannya juga datang dari ulama asal Suriah, Syekh Wahbah az-Zuhaili, yang memberikan apresiasi dan pengantar untuk karya Kiai Afifuddin berjudul Fathul Mujib al-Qarib Syarah Matan Taqrib

Kiai Afifuddin lahir di Sampang, Madura, pada 20 Mei 1955 dengan nama Khafifuddin. Ia merupakan anak kelima dari delapan bersaudara. Masa kecilnya dijalani di lingkungan pesantren sebelum pada usia sekitar delapan tahun ia dibawa ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

Di pesantren yang diasuh KHR As’ad Syamsul Arifin itu, hampir seluruh jenjang pendidikannya ditempuh. Ia menyelesaikan pendidikan dasar hingga perguruan tinggi di lingkungan Pesantren Sukorejo. Adapun pendidikan magisternya ditempuh di Universitas Islam Malang karena ketika itu Pesantren Sukorejo belum memiliki program magister.

Kiai Afifuddin kemudian dikenal sebagai salah satu murid yang mendapat kepercayaan khusus dari Kiai As’ad. Sejak berusia sekitar 20 tahun, ia telah mengajar berbagai kitab kuning, mulai dari fikih, ushul fikih, hingga nahwu dan sharaf. Kepercayaan tersebut terus berlanjut ketika ia diberi tanggung jawab dalam pengembangan keilmuan pesantren. Ia kemudian menjadi Wakil Pengasuh Bidang Keilmuan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo sekaligus Naib Mudir Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah.

Kepakaran Kiai Afifuddin tidak berhenti pada kajian kitab di lingkungan pesantren. Ia menggunakan perangkat ushul fikih untuk merespons persoalan sosial, keagamaan, dan kebangsaan yang berkembang di masyarakat. Salah satu gagasan yang pernah dirumuskannya berkaitan dengan Islam Nusantara. 

Ia juga terlibat dalam pembahasan sejumlah isu yang kemudian menjadi keputusan NU, antara lain metode istinbath al-ahkam, konsep Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, serta konsep penyebutan non-Muslim dalam negara bangsa.

Kiai Afifuddin juga memiliki keterlibatan dalam sejarah perumusan hubungan Islam dan Pancasila di lingkungan NU. Naskah awal Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dan Islam yang dibahas dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada 1983 disebut merupakan tulisan tangan Kiai Afifuddin muda yang didiktekan langsung oleh Kiai As’ad.

Jejak Kiai Afifuddin di NU juga panjang. Ia aktif dalam forum Bahtsul Masail, mulai dari tingkat cabang, wilayah hingga pusat. Forum tersebut menjadi ruang bagi ulama NU untuk membahas persoalan keagamaan dengan merujuk pada khazanah fikih dan metodologi pengambilan hukum.

Ia pernah menjadi Katib Syuriyah PBNU dan kemudian dipercaya memimpin Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Sejak 2019, ia diangkat sebagai Rais Syuriyah PBNU.

Dalam berbagai forum Bahtsul Masail, Kiai Afifuddin juga kerap dipercaya menjadi ketua tim perumus. Sejumlah gagasan yang ikut dirumuskannya antara lain konsep Islam Nusantara, metode istinbath hukum NU, serta konsep kafir dalam konteks negara bangsa.

Di luar NU, aktivitasnya juga beririsan dengan dunia akademik.

Ia mengajar di Fakultas Syariah Universitas Ibrahimy dan Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Ia juga menjadi pembicara dalam berbagai seminar, lokakarya, halaqah, hingga forum internasional, termasuk International Conference of Islamic Scholars. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.