Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Program B50 Resmi Berlaku, Ekonom Khawatir Pasokan Pangan dan Ekspor Sawit Tertekan

Program B50 Resmi Berlaku, Ekonom Khawatir Pasokan Pangan dan Ekspor Sawit Tertekan

program-b50-resmi-berlaku,-ekonom-khawatir-pasokan-pangan-dan-ekspor-sawit-tertekan
Program B50 Resmi Berlaku, Ekonom Khawatir Pasokan Pangan dan Ekspor Sawit Tertekan
service

KABARBURSA.COM – Resmi berjalannya program mandatori biodiesel B50 per 1 Juli 2026 memicu kekhawatiran besar terkait stabilitas pasokan pangan serta kinerja ekspor komoditas nasional.

Kebijakan ambisius tersebut dinilai memicu dilema ekonomi yang mendalam karena berpotensi mengorbankan pasokan minyak goreng domestik dan memicu lonjakan harga di tingkat konsumen akibat ketatnya perebutan bahan baku kelapa sawit di sektor hulu.

Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menilai pemerintah terlalu memaksakan komoditas kelapa sawit untuk memikul terlalu banyak misi strategis dalam satu waktu.

Achmad mempertanyakan implikasi kebijakan ini dari sisi ketahanan domestik karena peningkatan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 otomatis mengerek permintaan minyak sawit dalam negeri secara drastis di saat pertumbuhan produksi sawit nasional sedang berjalan lambat dan program peremajaan kebun rakyat masih tertahan.

“Apa yang terjadi bila satu komoditas dipaksa memikul terlalu banyak misi sekaligus, menyelamatkan devisa energi, menjaga ekspor, mengisi dana sawit, menahan harga minyak goreng, dan tetap memberi ruang hidup bagi petani? Itulah dilema yang kini dihadapi Indonesia ketika program biodiesel B50 resmi berjalan mulai 1 Juli 2026,” ungkap Achmad kepada KabarBursa.com, Jumat, 3 Juli 2026.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan implementasi B50 mampu menekan biaya impor solar hingga mencapai Rp157,28 triliun atau menambah penghematan devisa sebesar USD10,84 miliar sepanjang tahun 2026.

Namun, Achmad mengingatkan bahwa kalkulasi di atas kertas tersebut tidak boleh mengabaikan potensi hilangnya devisa dari penurunan volume ekspor sawit serta pembengkakan nilai insentif dana sawit yang harus dibayarkan.

“Kebijakan energi yang baik bukan hanya yang tampak gagah di atas pidato, melainkan yang tidak memindahkan beban dari satu kantong negara ke kantong rakyat,” kata Achmad menekankan pentingnya menghitung manfaat bersih kebijakan secara jujur.

Ketegangan utama dari kebijakan baru ini bersumber dari lonjakan kebutuhan minyak sawit untuk biodiesel yang melonjak dari 15,64 juta kiloliter pada mandat B40 menjadi 20,1 juta kiloliter untuk menyokong penuh program B50.

Sementara itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia memperkirakan pertumbuhan produksi minyak sawit nasional hanya tumbuh sekitar lima persen tahun ini, sehingga volume ekspor sawit diproyeksikan bakal terpangkas sekitar 1,7 juta hingga 2 juta ton pada semester kedua tahun 2026 seiring prioritas pemenuhan domestik.

Kondisi ekonomi program ini juga menghadapi tantangan berat mengingat harga minyak sawit pada Juni 2026 tercatat lebih mahal sekitar USD260 per ton dibandingkan harga diesel komersial global.

Selisih harga yang melebar ini otomatis menuntut beban insentif dana sawit yang jauh lebih besar dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, yang justru berisiko menciptakan tekanan fiskal baru jika basis pungutan ekspor mereka melemah akibat penurunan volume pengiriman ke luar negeri.

Guna memitigasi risiko kelangkaan minyak goreng dan kejatuhan ekspor, pemerintah didesak segera menerapkan mekanisme mandatori yang fleksibel dengan mempertimbangkan indikator pasar kelapa sawit secara berkala.

Achmad menegaskan bahwa kemandirian energi nasional merupakan agenda strategis yang tepat, namun pelaksanaannya wajib diimbangi dengan transparansi neraca sawit bulanan serta pengawasan distribusi yang ketat agar pemenuhan energi mandiri tidak mengorbankan keterjangkauan harga pangan masyarakat.

Sebelumnya, Kementerian ESDM memastikan lonjakan harga minyak global tidak akan mengorbankan daya beli kelompok masyarakat bawah karena harga solar subsidi dan Pertalite dikunci rapat.

“Kita tahu harga minyak sedang naik turun. Namun sesuai arahan Presiden kepada Pak Menteri juga untuk BBM subsidi light dan juga solar subsidi ini dipastikan tidak mengalami kenaikan,” Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia.

“Tujuannya apa? Ini untuk memproteksi masyarakat di kelas paling bawah yang masyarakat rentan untuk memproteksi masyarakat miskin dan juga menjaga daya beli masyarakat sehingga dijamin untuk BBM subsidi ini untuk tidak naik,” pungkas Anggia. (*)
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.