Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Program televisi dari AI: Inovasi teknologi atau degradasi seni?

Program televisi dari AI: Inovasi teknologi atau degradasi seni?

program-televisi-dari-ai:-inovasi-teknologi-atau-degradasi-seni?
Program televisi dari AI: Inovasi teknologi atau degradasi seni?
service

● Program ‘Legenda Bertuah’ menjadi pionir tayangan televisi di Indonesia yang memanfaatkan AI secara penuh.

● Penggunaan teknologi ini memicu kritik terkait potensi hilangnya kedalaman makna dan peran kreatif seniman manusia.

● Menggunakan AI tanpa kehati-hatian berisiko menghilangkan fungsi karya seni dan memicu persoalan hak cipta.


Perkembangan teknologi menghadirkan perubahan serius dalam produksi karya seni. Salah satu acara televisi swasta bertajuk Legenda Bertuah, misalnya, menjadi program televisi pertama yang memanfaatkan teknologi artificial intelligence (AI) secara penuh di Indonesia.

Program televisi ini mengangkat legenda atau cerita rakyat di Indonesia, seperti Sangkuriang dan Malin Kundang. Tujuanya mengenalkan cerita rakyat Nusantara kepada penonton, terutama kisah-kisah monumental di Indonesia.

Dalam konteks ini, pengelola program memanfaatkan AI sejak tahap praproduksi—seperti pengembangan ide, penulisan naskah awal, dan perencanaan visual—hingga proses produksi. AI juga digunakan dalam pascaproduksi, termasuk penyuntingan gambar, pengolahan suara, efek visual, bahkan penentuan alur narasi berbasis data audiens.

Artinya, AI bukan lagi sekadar alat bantu teknis, melainkan instrumen produksi utama dalam program televisi.

Penayangan program televisi dengan AI ini mengundang pro kontra dari masyarakat umum. Beberapa penonton merasa program televisi tersebut adalah inovasi teknologi dengan tampilan visual penuh warna dan bergaya fantasi. Namun, tidak sedikit masyarakat yang mengkritik penggunaan AI karena dianggap menghilangkan kreativitas para seniman.

Dari sudut pandang sosiologi masyarakat digital dan sosiologi algoritma, masalah utama dari penggunaan AI dalam produksi seni bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada pergeseran kendali kreatif.

Ketika algoritma mulai menentukan alur cerita, gaya visual, dan emosi yang dianggap paling sesuai dengan selera pasar, karya seni berisiko kehilangan kedalaman reflektifnya.


Read more: AI bisa mengancam seniman dan melanggar hak cipta: Perlu diregulasi, bukan dilarang


Seni vs AI

Penggunaan AI dalam program televisi membuktikan pesatnya perkembangan teknologi digital dan algoritma. Namun, apakah ini benar-benar kemajuan kreatif, atau sekadar ilusi inovasi?

AI memang menawarkan banyak keuntungan. Proses produksi menjadi lebih cepat, biaya lebih murah, dan analisis preferensi penonton bisa dilakukan secara presisi.

AI juga mampu membaca pola cerita yang disukai audiens, memprediksi emosi penonton, bahkan menyarankan alur yang dianggap “paling laku”.

Dalam logika industri, ini tampak ideal: ceritanya efisien, terukur, dan minim risiko tak laku. Namun, di sinilah problem sosiologisnya bermula.

Ketika cerita diproduksi berdasarkan pola masa lalu dan kalkulasi algoritma, sinetron berisiko kehilangan fungsi budayanya sebagai ruang refleksi sosial.

Cerita tidak lagi lahir dari pengalaman, konflik, dan imajinasi manusia, tetapi dari dataset dan statistik perilaku penonton. Akibatnya, program televisi AI cenderung mereproduksi narasi yang seragam, aman, dan mudah ditebak—bukan cerita yang kritis dan transformatif.

Masalah lainnya: siapakah pemilik hak cipta dari naskah yang ditulis bersama AI? Bagaimana posisi penulis, sutradara, dan pekerja kreatif ketika sebagian proses kreatif dialihkan ke mesin?

Dalam konteks ini, AI bukan sekadar alat, melainkan berpotensi menjadi mekanisme baru penggeser kekuasaan dalam industri budaya—dari kreator manusia ke korporasi pemilik teknologi.

Artinya, meski bernuansa kultural dan historis, Legenda Bertuah justru menciptakan ilusi kreativitas dan mengurangi (bahkan mencabut) peran seniman ataupun pekerja kreatif untuk berkarya.


Read more: Disrupsi AI dalam industri kreatif: benarkah mengancam tenaga kerja muda?


Fungsi seni di ruang publik

Kemunculan program televisi AI seperti Legenda Bertuah menandai perubahan penting dalam cara produksi dan konsumsi karya seni. Teknologi kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian dari proses kreatif itu sendiri.

Namun, perubahan ini tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai kemajuan tanpa konsekuensi. Di balik efisiensi dan kecanggihan visual, terdapat persoalan yang lebih mendasar tentang arah seni, kreativitas, dan posisi manusia di dalamnya.

Cerita rakyat dan narasi historis yang seharusnya membuka ruang tafsir justru cenderung disederhanakan menjadi tontonan yang aman, repetitif, dan mudah dicerna. Di titik inilah AI kerap menghadirkan kesan inovatif di permukaan, tetapi rapuh secara makna.

Situasi ini juga berdampak langsung pada seniman dan pekerja kreatif. Kreativitas manusia perlahan ditempatkan sebagai sesuatu yang bisa digantikan oleh mesin. Padahal, proses artistik tidak hanya soal menghasilkan karya, tetapi juga menyangkut pengalaman, kepekaan, dan keberpihakan sosial yang tumbuh dari relasi manusia dengan realitasnya.

Ketika peran ini terpinggirkan, seni berisiko terkikis menjadi sekadar produk industri yang tunduk pada logika efisiensi. Karena itu, penggunaan AI dalam seni dan televisi perlu ditempatkan secara lebih hati-hati dan kritis. Teknologi semestinya mendukung proses kreatif, bukan menentukan arah cerita.

AI seringnya mereduksi makna seni dan membuatnya menjadi hasil industri semata.

Penggunaan AI dalam seni perlu mempertimbangkan faktor makna dan etika. faithie/shutterstock

Di sisi lain, kita juga masih memerlukan kejelasan etika, perlindungan hak cipta, serta pengakuan yang adil terhadap kerja kreatif manusia. Tujuannya agar transformasi digital tidak berujung pada pemusatan kuasa di tangan segelintir pemilik teknologi.

Di tengah derasnya arus inovasi teknologi, menjaga ruang kreativitas manusia bukanlah sikap antikemajuan, melainkan upaya mempertahankan seni sebagai medium refleksi sosial.


Read more: ‘Deepfake’ begitu banyak di internet: bagaimana strategi bedakan fakta dari fiksi ciptaan AI



0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.