Sekian abad silam, Al Ghazali mengungkapkan: “Hati manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa bagai sebuah batu api. Ia mengandung api tersembunyi, yang terpijar oleh musik dan harmoni, serta menawarkah kegairahan bagi orang lain, di samping dirinya.” Pada abad XX dan XXI, orang-orang masih sempat ribut soal musik dan iman. Kita menemukan petikan Al Ghazali dalam buku berjudul Kimia Kebahagiaan (1984), mengingatkan kita tentang musik dalam arus iman saat dunia terlalu berubah.
Telinga kita terpikat kemerduan dan pesan-pesan saat menikmati lagu-lagu dibawakan Panji Sakti. Keinsafan atas musik menggerakkan iman. Kita pun “berjoget” makna saat memiliki detik-detik renungan. Musik tak sekadar kenikmatan. Di situ, ada panggilan iman dan ejawantah merindukan Tuhan. Panji Sakti dengan lagu-lagu telah membentuk kesadaran nada dan kata bagi para penikmat, sebelum bertemu lembaran-lembaran kertas berisi puisi-puisi. Ia mendatangi dan melenakan melalui buku berjudul Tasbih Kupu-Kupu (2026).
Kita membaca sambil mengingat pengalaman terserap dalam musik. Panji sakti itu panggung. Ia bergitar dalam selebrasi musik. Di buku, kita menemukan puisi berjudul Panggung Sementara bertaut predikat musisi: di atas panggung, Tuan/ jiwaku bergetar/ lidahku kaku/ ludahku beku// lantas kau merendah diri/ memeluk aku// lagu panggung menyala/ membakarku sampai hina/ lantas kau utarakan cinta/ bikin aku sirna/ dilumat panasnya. Ia telah bermain umpama-umpama biasa terbaca dalam tradisi sufi. Panji Sakti ingin sederhana tapi puisi itu membuat pembaca bertemu musik, sastra, dan religiositas.
Di buku berjudul Musik Dahaga Jiwa (2000), Kahlil Gibran seolah memberi selaras: “Musik adalah jemari halus yang mengetuk pintu kalbu untuk membangunkan kehangatan dari tidurnya yang lelap… Alunan nada-nada musik adalah senandung lembut kerap hadir di lembar-lembar imajinasi. Jika nada-nada itu dilantunkan dalam melodi kesedihan, maka ia menghadirkan kenangan silam saat gundah dan putus asa. Tapi, jika dilantunkan pada saat hati senang, maka musik menghadirkan kenangan silam saat damai dan bahagia.”
Suguhan musik Panji Sakti bukan untuk memuja asmara picisan. Ia justru memilih mengarahkan musik itu persembahan dan pembuktian penghambaan kepada Tuhan. Pengalaman bermusik terbawa saat ia menggubah puisi-puisi. Kita masuk ke puisi berjudul “Ketinggian”. Panji Sakti sodorkan renungan: tapi hatiku terkubur di sini/ di antara pohon-pohon/ yang diutus merangkum usia/ kami nyanyikan lagu kebanggaan: “jiwaku sekuntum kemboja”/ pohon-pohon diam/ daun-daun berhenti bersuara// pada kalimat lagu terakhir/ angin turun mengantar zikir/ lantas gerimis bersorak-sorai/ melepas kami yang berpamitan/ sambil menyambut yang baru datang/ petinggi pemberi izin dan kebijakan// gunung, engkaulah bahan bakar/ kendaraan yang mengantarku pulang/ pada dia, pemilik semesta. Pada saat berpuisi, ia pun bermusik. Ia mengerti pijakan-pijakan menafsirkan manusia dan alam sampai Tuhan.
Di buku berjudul Maslahat Sastra (2022), Italo Calvino mengingatkan: “Sastra adalah permainan kombinasi yang mengejar kemungkinan-kemungkinan tersirat dalam dirinya sendiri, terlepas dari kepribadian penyair.” Panji Sakti itu musisi. Pengenalan dan pengertian telah terbentuk selama sekian tahun. Pada titik jeda, ia menggubah puisi-puisi. Ia bukan dalam kehendak bersastra untuk mencari tempat keutamaan dalam kesusastraan Indonesia. Konon, berhasrat puisi menjadi penggenapan dari bermusik. Kita membaca puisi-puisi mengandung hal-hal tersirat tapi tak harus misterius. Pembaca mendingan mengandaikan menjadi pendengar dengan keberserahan agar mengalami kerelaan makna dari tersirat ketimbang kepikiran Panji Sakti.
Kita simak puisi berjudul Golok Cinta, bertemu kata-kata bernada sambil rela menerima makna-makna. Panji Sakti dalam kesungguhan mencantumkan peristiwa dan kecamuk batin: kaki kanan dicengkeram cinta/ kaki kiri diikat gelisah// aku diseret ke lantai zikir/ kena perintah disuruh mikir// punggungku jauh/ luka lama membusuk/ terbit lagi minta dibahas// maafkan aku yang tiba-tiba/ bisu dan buta kata-kata/ kalian memenggal kepalaku/ dengan golok cinta tanpa ragu. Kita memasuki pengalaman religius, membandingkan raga dan batin. Pembaca merasa dalam alur capaian: aku bersemadi/ membaca diri/ kalian sibuk/ menakar laba/ sedang aku mati hari ini/ tanpa sepeser pun harga diri. Puisi bukan ingin dijadikan “deklarasi” atau “dakwah”, sekadar kebutuhan atas kata dan makna untuk tapakan iman.
Usaha berpuisi memerlukan gairah dan kenikmatan. Panji Sakti mungkin pernah di perbatasan main-main dan kematangan dalam mengalirkan kata-kata. Ia mengerti tak sekadar sebagai musisi saat berpuisi. Kita pun disadarkan kekuatan musisi itu memungkinkan menghasilkan puisi mengarah “dengaran”. Di puisi berjudul Kitab Diri, pembaca merasakan berpuisi dengan kata-kata terpilih, berpedoman “dengaran” saat dibacakan: oh, ajari aku kerja mengeja/ biar paham jadi hamba/ cari-cari amal salih/ lalu arah tak salah pilih// oh, ajari aku membunuh diri/ dan keluar dari kampung halaman/ biar nanti saatnya ngerti/ kitab diri jadi peta perjalanan.
Kita mengandaikan puisi itu digarap menggunakan kesabaran dalam “gonta-ganti” kata. Dampak “dengaran” membetahkan pembaca tanpa dibebani memungut makna. Kita mengingat pengajaran Sapardi Djoko Damono dalam buku berjudul Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014): “Bunyi tetap merupakan warisan yang berharga bagi puisi tulis… Huruf-huruf yang tercetak di kertas berubah menjadi bunyi dahulu dalam pikiran kita sebelum menjelma makna.”
Buku puisi berjudul Tasbih Kupu-Kupu telah menemukan para pembaca di pelbagai tempat. Buku diajak berkeliling untuk dibacakan di pelbagai kota, digenapi pikat Panji Sakti membawakan lagu-lagu. Peristiwa tak sekadar menghendaki estetis. Puisi-puisi ingin termiliki para pembaca setelah mereka pendengar lagu-lagu. Puisi mungkin bergerak lambat untuk “menghuni”, bersaing ingatan dan pengalaman bertumpu lagu.
Begitu.
Baca artikel menarik lainnya dari penulis Bandung Mawardi..
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah





Comments are closed.