Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Pulau Sekatung, Pulau Mungil Terluar di Natuna yang Berbatasan dengan 3 Negara

Pulau Sekatung, Pulau Mungil Terluar di Natuna yang Berbatasan dengan 3 Negara

pulau-sekatung,-pulau-mungil-terluar-di-natuna-yang-berbatasan-dengan-3-negara
Pulau Sekatung, Pulau Mungil Terluar di Natuna yang Berbatasan dengan 3 Negara
service

20 Februari 2026 11.00 WIB • 2 menit

Pulau Sekatung, Pulau Mungil Terluar di Natuna yang Berbatasan dengan 3 Negara


Pulau Sekatung adalah salah satu pulau terluar Indonesia di Kepulauan Natuna. Ukurannya mungil, hanya sekitar 1,65 km2. Namun, meskipun kecil, perannya besar.

Terletak di Laut China Selatan, Pulau Sekatung secara administratif masuk ke dalam Provinsi Kepulauan Riau. Posisinya juga sangat jauh dari ibu kota Kepulauan Riau di Tanjung Pinang.

Pulau Sekatung merupakan bagian dari 12 pulau-pulau kecil dalam Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna. Pulau ini memang terletak bersebelahan dengan Pulau Laut yang ukurannya lebih besar.

Pulau Sekatung sangat strategis. Ini dikarenakan letaknya yang berbatasan dengan tiga negara, yakni Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Oleh karena itu, perlu ada penanganan khusus pada pulau ini sebagai bentuk untuk menjaga kedaulatan negara.

Pulau yang Hanya Dihuni TNI

Pulau Sekatung berada di bawah pegawasan Koramil 08/Pulau Laut Kodim 0318/Natuna. Pulau Sekatung hanya dihuni oleh personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL) yang merupakan bagian dari Badan Nasional Pengelola Perbatasan.

Terdapat rumah-rumah dan fasilitas penunjang lainnya yang dihuni oleh personel militer. Mereka secara aktif bergantian menjaga pulau dengan melakukan patroli rutin. Terdapat setidaknya 20 personel aktif yang ada di pulau tersebut.

Para tentara ini bertugas untuk memastikan bahwa tidak ada kapal-kapal asing atau nelayan yang melakukan illegal fishing di wilayah Pulau Sekatung dan perairan Natuna di sekitarnya. Selain itu, patroli juga dilakukan untuk mencegah berbagai potensi pelanggaran keamanan yang bisa terjadi, seperti pencemaran laut, narkotika, sampai perdagangan manusia.

Pulau ini menjadi salah satu dari deretan pulau terluar di Indonesia yang berperan sebagai titik dasar garis pangkal kepulauan di perairan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Artinya, Pulau Sekatung berperan penting dalam membentuk benteng pertahanan kedaulatan negara.

Meskipun hanya dihuni militer, pulau ini bisa dikunjungi wisatawan. Alamnya sangat indah. Melansir dari Dinas Pariwisata Kabupaten Natuna, lautnya memiliki terumbu karang eksotis dengan ikan-ikan kecil yang cantik.

Namun, karena lokasinya yang terpencil dan jauh, akses menuju Pulau Sekatung tidaklah mudah. Ada dua cara menuju pulau ini. Pertama, pengunjung bisa menggunakan speedboat dari Ranai, ibu kota Kabupaten Natuna, ke Sedanau; ibu kota Kecamatan Bunguran Barat dari Pelabuhan Binjai. Estimasi penyeberangan dengan cara ini memakan waktu antara enam hingga 10 jam.

Yang kedua, pelancong bisa melakukan perjalanan langsung dari Ranai ke Pulau Sekatung dengan menggunakan speedboat. Namun, cara kedua ini tetap memakan waktu yang lama.

Natuna dan Sengketa Panjangnya

Pulau Sekatung adalah satu dari pulau-pulau di perairan Natuna yang memiliki kekayaan melimpah. Sejak dulu, Natuna dikenal sebagai salah satu titik penghasil minyak bumi dan gas yang amat besar.

Pulau ini juga menjadi pulau terluar yang perairannya beririsan dengan nine dash line; sembilan garis batas imajiner yang dibuat oleh Tiongkok di Laut China Selatan. Klaim yang dibuat sepihak oleh Tiongkok ini dianggap bertentangan dengan UNCLOS 1982 dan banyak menuai protes dari negara-negara lain, termasuk Indonesia.

Garis buatan Tiongkok yang konon didasarkan oleh sejarah mereka itu meliputi wilayah Natuna Utara milik Indonesia. Namun, pemerintah Indonesia jelas menolak hal tersebut karena dianggap menyalahi hukum internasional.

Di sisi lain, Indonesia tetap melakukan eksplorasi minyak di Laut Natuna Utara. Proyek tersebut dilakukan oleh Pertamina East Natuna. Proyek strategis tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkuat ketahanan energi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.