Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004

Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004

pulau-simeulue,-pulau-yang-“selamat”-dari-tsunami-aceh-2004
Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004
service

Pulau Simeulue, Pulau yang “Selamat” dari Tsunami Aceh 2004


Adakah Kawan GNFI yang pernah mendengar soal Pulau Simeulue? Sebuah pulau kecil di lepas patau barat Aceh. Pulau ini terletak di Samudra Hindia dan merupakan satu kabupaten di bawah Provinsi Aceh, yakni Kabupaten Simeulue.

Berbicara soal Pulau Simeulue, ada hal unik yang tidak boleh luput dari bahasan. Pulau Simeulue adalah wilayah yang paling sedikit terdampak saat terjadi tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 2004, padahal jaraknya dekat dengan pusat gempa. Mengapa demikian?

Pulau Simeulue yang Selamat dari Gempa Aceh 2004

Melansir dari Museum Tsunami yang dikelola oleh Pemerintah Provinsi Aceh, pernah ada gempa bumi dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada tahun 1907. Saat itu, pusat gempanya ada di dekat Pulau Simeulue dengan estimasi magnitude sebesar 7,6-8,4 SR.

Bencana ini menyebabkan banyak sekali korban jiwa, utamanya di Pulau Simeulue. Lebih dari 1.800 orang Simeulue menjadi korban.

Gempa dan tsunami tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat sekitar. Mereka pun banyak belajar hal baru, utamanya terkait cara menyelamatkan diri saat bencana terjadi.

Peristiwa kelam inilah yang kemudian melahirkan kearifan lokal yang dikenal dengan “Smong”. Dalam bahasa setempat, kata tersebut berarti gelombang air laut.

Smong disampaikan melalui lisan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Cerita soal bencana hebat pada 1907 dikemas dengan berbagai kesenian tradisional Simeulue, seperti Nanga-nanga, Sikambang, dan Nandong.

Bahkan, potongan syair-syair Smong lumrah ditemukan pada senandung pengantar tidur anak-anak Simeulue. Dalam senandung itu, ada lirik yang berbunyi;

“Jika gempanya kuat, disusul air yang surut, segeralah cari tempat, dataran tinggi agar selamat”.  

Pesan ini sudah tertanam dalam diri masyarakat Simeulue sejak mereka masih kecil. Pada akhirnya, masyarakat berhasil mengubah rasa trauma itu dengan ilmu pengetahuan dan kewaspadaan yang dibalut dengan budaya hingga bisa menjadi bagian dari jati diri masyarakat Simeulue hingga kini.

Pelajaran berharga yang mereka ambil dari tsunami 1907 itu mampu menyelamatkan Simeulue dari amukan ombak besar yang menghantam Aceh pada 2004. Dibandingkan daerah lain di Aceh, Simeulue menjadi daerah dengan dampak korban jiwa yang sangat minim.

Saat itu, masyarakat yang sudah menyadari air laut surut segera naik ke dataran tinggi. Alhasil, banyak nyawa yang berhasil selamat. Dari total 250.000-an jiwa yang meninggal dan hilang di seluruh Aceh, jumlah korban jiwa di Simeulue dikabarkan tidak mencapai 10 orang.

Lebih dari Smong: Sisi Lain Simeulue

Selain soal Smong, ada hal menarik lain yang dimiliki Pulau Simeulue. Pulau yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Barat ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Aceh Darussalam.

Disadur dari situs resmi Desa Lakubang, salah satu desa di Kabupaten Simeulue, Islam di Simeulue dibawa oleh seorang ulama bernama Khailullah. Proses “mengislamkan” Simeulue itu merupakan saran yang diberikan langsung oleh Sultan Ali Mughayat Syah.

Alasan Sultan ingin Khailullah mengislamkan Simeulue adalah karena di masa itu pulau tersebut pernah dikuasai oleh Songsongbulu yang menyebarkan ajaran sesat. Pihak Khailullah dan Songsongbulu berperang dengan perjanjian, siapa yang kalah, maka ia harus minggat dari Simeulue.

Uniknya, alih-alih berperang dengan senjata, mereka justru berperang dengan memasak telur di dalam lautan. Singkatnya, Khailullah menang dan ia mengusir Songsongbulu. Akhirnya, pulau itu pun diislamkan, sesuai dengan titah Sultan.

Singkat cerita, Pulau Simeulue juga sempat dikuasai Belanda dan Jepang. Bahkan, di era jajahan Jepang, Simeulue dijadikan lokasi strategis untuk pertahanan. Jepang membangun sistem pertahanan di sana dan memberi pelatihan kemiliteran.

Setelah merdeka, Simeulue sempat berada di bawah “binaan” Aceh Barat. Namun, pada 1999, pulau ini dijadikan sebagai daerah otonom dan resmi menjadi Kabupaten Simeulue hingga saat ini.

Menariknya lagi, di masa konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia dulu, Pulau Simeulue aman dari konflik. Hal ini dikarenakan letaknya yang terpisah dari Aceh daratan, sekitar 150 km dari pantai barat Aceh.

Di sisi lain, karena terletak di kawasan Samudra Hindia, Pulau Simeulue memiliki ombak yang cukup kuat. Banyak peselancar dunia yang menjadikan Simeulue sebagai lokasi selancar mereka. Saking ikoniknya, ada yang menyebut Simeulue dengan “The Next Mentawai”.

Daerah ini memiliki potensi alam yang begitu melimpah. Salah satu komoditas unggulannya adalah lobster.

Kawan GNFI, Pulau Simeulue mengajarkan bahwa kearifan lokal bukan hanya cerita masa lalu. Smong menjadi bukti bahwa pengetahuan yang dibalut dengan budaya mampu menyelamatkan ribuan warga Simeulue dari tsunami Aceh 2004. Smog juga bisa menjadi contoh sistem mitigasi bencana efektif yang bisa diajarkan dan diterapkan di daerah lain di Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.