Arina.id – Dalam perjalanan haji dan umrah, talbiyah menjadi bacaan yang paling identik diserukan oleh jemaah. Talbiyah bukan sekadar bacaan, tetapi mengandung seruan tauhid dan menyatukan hati para jemaah dalam satu tujuan yakni memenuhi panggilan Allah SWT.
Sejak niat ihram diucapkan hingga mendekati puncak manasik, kalimat talbiyah terus dilantunkan. Dalam kisah yang dinukil para ulama tafsir, seperti dalam penjelasan ayat haji oleh Nabi Ibrahim, Allah memerintahkan beliau untuk menyeru manusia agar berhaji.
Ketika seruan itu disampaikan, ruh-ruh manusia menjawab dengan satu kalimat agung: “Labbaika Allahumma Labbaik.” Sejak saat itulah talbiyah menjadi simbol jawaban seorang hamba atas panggilan Allah yang terus diwariskan hingga kini.
Bacaan Talbiyah yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan diamalkan para sahabat adalah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ، لَا شَرِيْكَ لَكَ
Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Kalimat ini mengandung inti ajaran tauhid yakni pengakuan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah, dipuji, dan dimintai pertolongan. Karena itu, para jemaah dianjurkan membaca talbiyah dengan suara lantang, sebagaimana perintah Malaikat Jibril kepada Rasulullah agar para sahabat mengeraskan suara mereka dalam bertalbiyah.
Dalam praktiknya, talbiyah dibaca terus-menerus, khususnya saat perjalanan menuju Makkah dan selama pelaksanaan manasik, hingga melempar jumrah aqabah pada 10 Dzulhijjah.
Dalam Buku Doa dan Zikir Manasik Haji dan Umrah, Kementerian Agama Republik Indonesia disebutkan bahwa setelah talbiyah, jemaah dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi sebagai bentuk cinta dan penghormatan:
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Artinya: “Ya Allah, limpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga beliau.”
Salawat ini menjadi penyempurna ibadah, karena menghubungkan perjalanan haji dengan teladan Rasulullah sebagai pembimbing utama dalam manasik.
Kemudian dilanjutkan dengan doa yang diajarkan Rasulullah SAW setelah bershalawat:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “Ya Allah, kami memohon keridaan-Mu dan surga, dan kami berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan neraka. Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari siksa neraka.”




Comments are closed.