Bincangperempuan.com– Perempuan terus menemukan cara untuk menguatkan diri dan komunitasnya. Dari kebun rumahan hingga dokumentasi pengalaman hidup, perempuan adat dan akar rumput menunjukkan bahwa merawat kehidupan tidak hanya soal rumah atau keluarga, tapi juga politik sehari-hari, solidaritas, dan pengelolaan sumber daya.
Peluncuran buku “Tumbuh Bersama” karya Titik Kartika dan Pramasti Ayu Koesdinar, yang digelar Selasa, 3 Februari 2026, menjadi salah satu contoh bagaimana pengalaman perempuan yang sering tak tercatat dalam sejarah resmi bisa dihimpun dan diberdayakan. Buku ini diterbitkan dalam dua Bahasa Bahasa Indonesia dan Inggris, dan merupakan kumpulan pengalaman peserta konferensi dua tahun sebelumnya.
Titik Kartika menekankan bahwa tujuan penulisan adalah menghargai perjuangan perempuan dan mewariskan pengetahuan kolektif.

Pramasti Ayu Koesdinar menambahkan bahwa inspirasi penulisan muncul dari perubahan yang dialami perempuan, termasuk yang tidak selalu terlihat dan sulit diukur.
“Menulis berbasis pengalaman membutuhkan kepekaan tinggi, untuk menangkap perubahan kecil yang bermakna dalam kehidupan perempuan,” ujar Dinar.
Lilis Listyowati dari Kalyanamitra menekankan pentingnya mengarsipkan pengetahuan perempuan yang tersebar dari berbagai wilayah. Buku ini menjadi upaya mendokumentasikan pengalaman perempuan dan mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan monopoli laki-laki.
“Menulis dan mendokumentasikan pengalaman dianggap sebagai alat pemberdayaan, sekaligus memantik perempuan lain untuk berbagi cerita,” katanya.
Commoning Movement: Strategi Kolektif Perempuan

Selain buku, konferensi menjadi ruang Commoning Movement, di mana perempuan berbagi pengalaman membangun solidaritas, mempertahankan tanah, dan memperkuat ekonomi lokal.
Peserta dari Banten menceritakan bagaimana perempuan bisa memimpin, termasuk dalam pertanian, terinspirasi perempuan adat, dan terus belajar mengambil peran dalam komunitas. Peserta lain berbagi pengalaman bahwa perempuan sering menjadi garda terdepan dalam aksi sosial dan perlawanan, namun tetap memanfaatkan solidaritas untuk mengelola risiko.
Yuli dari Yogyakarta mencontohkan keberhasilan perempuan petani menolak tambang galian C melalui musyawarah, pengumpulan tanda tangan, dan negosiasi langsung dengan aparat desa. Di Pino Raya, Bengkulu Selatan, perempuan bersolidaritas menghadapi kekerasan untuk mempertahankan tanah adat. Di Enggano, perempuan mendukung penolakan masuknya perkebunan sawit, dan di Lampung Selatan, perempuan membangun ekonomi kolektif melalui pertanian bersama dan tabungan gotong royong.
Empat Lumbung Kekuatan Perempuan

Ruth Indiah Rahayu mengatakan pola gerakan perempuan di berbagai wilayah memiliki kesamaan, yakni mereka (perempuan, red) melumbungkan kekuatan, pengetahuan, solidaritas, dan kreativitas. Perlawanan dibangun melalui negosiasi, tradisi, pertanian kolektif, dan pengorganisasian perempuan.
Ruth menjelaskan bahwa kekuatan perempuan dalam Commoning Movement dapat dilihat melalui empat lumbung utama yang menopang gerakan ini: lumbung keperawatan dan solidaritas, yang menekankan saling merawat dan membangun jaringan; lumbung pengetahuan dan budaya, yang memelihara tradisi, pengalaman, dan pembelajaran kolektif; lumbung tanah dan pengelolaan sumber daya, yang memperkuat posisi perempuan dalam menjaga dan mengelola lingkungan dan sumber penghidupan; serta lumbung tubuh dan strategi gerakan, yang menjadi fondasi perencanaan, keberanian, dan aksi perempuan dalam mempertahankan ruang hidup dan komunitas.
Keempat lumbung tersebut, lanjut Ruth, menjadi dasar politik perempuan adat dan lokal, memperkuat posisi perempuan sebagai penggerak perubahan di komunitas maupun wilayah.
“Berkebun, menulis, memimpin, dan menyuarakan pengalaman bukan sekadar aktivitas sehari-hari. Ini adalah praktik politik perempuan merawat kehidupan, mempertahankan ruang hidup, dan membangun masa depan bersama,” tegas Ruth Indiah Rahayu.
Untuk diketahui, selama empat hari, dari 1 hingga 4 Februari, Yayasan Akar Global menyelenggarakan kegiatan International Indigenous Women’s Conference: “Rebuilding the Commons”. Forum internasional ini mempertemukan 106 perempuan adat dan perempuan akar rumput dari berbagai wilayah di Indonesia, serta dari Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan, penguatan solidaritas, dan penyusunan agenda kolektif perempuan dalam memperjuangkan hak atas tanah, lingkungan hidup, budaya, dan penghidupan yang berkelanjutan.





Comments are closed.