Sat,23 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman

Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman

refleksi-di-hari-kehati:-kekayaan-pangan-lokal-terabaikan-di-tengah-keterancaman
Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman
service

Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat lokal. Sayangnya, kekayaan keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, seakan tak dianggap penting bahkan terus terancam eksploitasi alam skala besar yang menghancurkan hutan dan alam di negeri ini. Sejarawan Hilmar Farid mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia, salah satunya, keberagaman pangan. Namun, fakta paling fundamental ini seringkali tidak pernah disebut dalam dokumen kebijakan. Dia contohkan sagu. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek periode 2019–2024 itu mengatakan, 85% cadangan sagu dunia ada di Indonesia. Tak hanya sagu, Indonesia mempunyai lebih dari 100 jenis karbohidrat lokal dari umbi-umbian seperti ubi, telas sampai pisang, sukun dan lain-lain. Ironisnya, Indonesia masih mengimpor pangan berbagai komoditas dalam jumlah besar dari gandum, beras, kedelai dan lain-lain. Pada 2024 saja, data Hilmar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BPS, dan Badan Pangan Nasional menunjukkan,  Indonesia mengimpor gandum 11,7 juta ton alias 100% bulir yang kemudian proses jadi terigu yang memenuhi pasaran Indonesia ini impor. Dia menilai,  ini bukan soal ketidakmampuan, melainkan ada salah kaprah pola pikir yang terbentuk dari budaya makan. Sistem pangan diatur terpusat dan seragam. Pada era Orde Baru, misal, seluruh warga Indonesia dipaksa mengonsumsi beras. Secara kultural, hal ini dilanggengkan dengan guyonan, “orang Indonesia belum makan jika belum makan nasi.” Padahal, makanan pokok…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.