Setiap 22 Mei, dunia memperingati Hari Keanekaragaman Hayat. Ia bisa jadi momen refleksi dan berbenah, termasuk bagi Indonesia. Nusantara ini punya kekayaan alam berlimpah, bahkan jadi mega biodiversity nomor dua dunia, setelah Brasil. Pusat-pusat keragaman hayati termasuk yang menjadi sumber pangan itu berada di hutan-hutan dan lahan yang menjadi ruang hidup masyarakat adat maupun masyarakat lokal. Sayangnya, kekayaan keanekaragaman hayati ini masih terabaikan, seakan tak dianggap penting bahkan terus terancam eksploitasi alam skala besar yang menghancurkan hutan dan alam di negeri ini. Sejarawan Hilmar Farid mengatakan, keanekaragaman hayati Indonesia, salah satunya, keberagaman pangan. Namun, fakta paling fundamental ini seringkali tidak pernah disebut dalam dokumen kebijakan. Dia contohkan sagu. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek periode 2019–2024 itu mengatakan, 85% cadangan sagu dunia ada di Indonesia. Tak hanya sagu, Indonesia mempunyai lebih dari 100 jenis karbohidrat lokal dari umbi-umbian seperti ubi, telas sampai pisang, sukun dan lain-lain. Ironisnya, Indonesia masih mengimpor pangan berbagai komoditas dalam jumlah besar dari gandum, beras, kedelai dan lain-lain. Pada 2024 saja, data Hilmar dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), BPS, dan Badan Pangan Nasional menunjukkan, Indonesia mengimpor gandum 11,7 juta ton alias 100% bulir yang kemudian proses jadi terigu yang memenuhi pasaran Indonesia ini impor. Dia menilai, ini bukan soal ketidakmampuan, melainkan ada salah kaprah pola pikir yang terbentuk dari budaya makan. Sistem pangan diatur terpusat dan seragam. Pada era Orde Baru, misal, seluruh warga Indonesia dipaksa mengonsumsi beras. Secara kultural, hal ini dilanggengkan dengan guyonan, “orang Indonesia belum makan jika belum makan nasi.” Padahal, makanan pokok…This article was originally published on Mongabay
Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman
Refleksi di Hari Kehati: Kekayaan Pangan Lokal Terabaikan di Tengah Keterancaman





Comments are closed.