Perubahan iklim tidak hanya mengancam cuaca ekstrem, naiknya permukaan laut, atau musim kering yang panjang. Ancamannya merambah jauh lebih dalam, hingga ke ekosistem dan perilaku satwa liar yang selama ini hidup berdampingan dengan manusia. Salah satu dampak yang kini mulai mendapat perhatian serius para ilmuwan adalah pergeseran habitat ular berbisa. Seiring suhu bumi terus menghangat, ratusan spesies ular berbisa di seluruh dunia mulai berpindah ke wilayah-wilayah baru, dan banyak di antaranya semakin dekat dengan permukiman manusia. Risiko gigitan ular terus meningkat di seluruh dunia seiring reptil-reptil ini berpindah habitat untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang semakin tinggi dan tekanan manusia yang kian besar. Demikian temuan sebuah studi terhadap ular-ular berbisa yang dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Ular Weling (Bungarus candidus) di Karawang, Jawa Barat. Salah satu mangsa King Cobra| Gambar oleh By Wibowo Djatmiko (Wie146) – Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=21654593 Ular obra ludah di Afrika, yaitu jenis kobra yang memiliki kemampuan unik untuk menyemprotkan bisa ke arah mata atau wajah ancaman/predator, ular viper di Eropa dan Amerika Selatan, moccasin cottonmouth (Agkistrodon piscivorus) di Amerika Utara, serta krait di Asia kini semakin sering bersentuhan dengan manusia akibat gangguan iklim dan perubahan bentang alam. Para peneliti memperkirakan tren ini akan semakin menguat dalam beberapa dekade ke depan, seiring ular-ular menyesuaikan wilayah jelajahnya untuk menghindari kondisi yang lebih panas. Sebagian besar spesies akan mengalami penyusutan habitat, namun sejumlah ular paling mematikan justru diprediksi akan memperluas wilayahnya; memasuki kawasan-kawasan yang belum pernah mereka huni sebelumnya dan berpotensi mengancam miliaran orang. “Tumpang…This article was originally published on Mongabay
Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat
Sebaran Ular Berbisa Makin Mendekati Manusia, Karena Bumi yang Menghangat





Comments are closed.