Sun,26 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Refleksi Pasca Ambruknya Musala Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo

Refleksi Pasca Ambruknya Musala Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo

refleksi-pasca-ambruknya-musala-pesantren-al-khoziny,-sidoarjo
Refleksi Pasca Ambruknya Musala Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo
service

Tragedi ambruknya bangunan musala di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, yang menelan korban jiwa dan meninggalkan luka mendalam bagi publik Indonesia, memunculkan pertanyaan-pertanyaan penting: apakah ini murni ‘takdir’, atau ada kelalaian yang semestinya dipertanggungjawabkan? Bagaimana seharusnya kita memahami takdir dalam bingkai Islam ketika musibah seperti ini justru menimpa lingkungan yang mestinya menjadi ruang pengajaran iman?

Menurut laporan resmi media dan lembaga terkait, runtuhnya bangunan terjadi pada 29 September 2025 saat santri melakukan salat Ashar berjamaah. Hingga 4 Oktober 2025, tercatat 17 orang tewas, 103 luka-luka, dan 46 orang masih dinyatakan hilang.
Pihak penyelamat menyebut bahwa kegagalan struktur, khususnya pondasi dan tiang penyangga yang terlalu kecil, menjadi penyebab utama robohnya konstruksi tersebut. Beberapa keluarga korban dan netizen mengunggah foto reruntuhan serta memperlihatkan kondisi bangunan tanpa penyangga memadai dan pondasi lemah.

Publik menunggu penjelasan mendetail dari pengurus pesantren: mengapa konstruksi dilanjutkan meski pondasi tampak rapuh? Kenapa tidak melibatkan profesional teknik sipil berpengalaman? Apa izin bangunan dan pengawasan struktur dilakukan secara sah?

Pernyataan “Takdir”: Benar, Tapi Konteksnya Salah

Dalam konferensi pers, pengurus pesantren menyatakan bahwa kejadian ini adalah takdir. Pernyataan ini — meskipun secara prinsip benar — memicu kritik luas di masyarakat karena dianggap sebagai penyangkalan terhadap tanggung jawab, terutama ketika bukti-bukti bahwa ada kelalaian konstruksi sudah muncul.

Pernyataan “takdir” diucapkan seolah mengakhiri semua kritik dan evaluasi: “Ini sudah kehendak Allah, kita harus ikhlas.” Tapi publik memandang bahwa takdir tidak bisa dipakai sebagai “tameng lidah” agar tidak mempertanggungjawabkan potensi kesalahan manusia.

Situasi ini mengingatkan pada peristiwa sejarah ketika sebagian orang pada masa Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata dengan lantang bahwa hanya hukum Allah yang pantas ditegakkan. Ali menanggapi bahwa ucapan itu memang benar, tetapi diletakkan pada tempat yang salah. Begitu juga dengan pernyataan takdir hari ini: ia benar secara prinsip, tapi salah konteks.

Sebenarnya, dalam kehidupan seorang Muslim, takdir punya dua wajah. Di satu sisi, ia bisa menjadi penghibur yang mendalam bagi orang yang sudah berusaha maksimal. Ketika semua langkah telah ditempuh, ikhtiar sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka hasil apa pun dapat diterima dengan lapang dada. Takdir menjadi sumber ketenangan: ada hal-hal yang memang tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya.

Namun di sisi lain, kata takdir juga bisa berubah menjadi semacam ‘akrobat lidah’. Ia dipakai untuk menutupi kelalaian, membungkam kritik, dan menghindari tanggung jawab. Dalam kasus bangunan yang jelas-jelas dikerjakan tanpa standar yang memadai, memanggilnya sebagai “takdir” terasa seperti melepas diri dari kewajiban paling mendasar: berhati-hati dan memastikan keselamatan nyawa orang lain.

Perdebatan seputar takdir memang panjang dalam tradisi Islam. Sejarah mencatat, ada kelompok yang cenderung menekankan kebebasan penuh manusia, ada pula kelompok yang seolah menyerahkan seluruhnya pada ketentuan Tuhan. Kelompok pertama ingin menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas apa yang ia lakukan. Dalam khazanah ilmu Kalam, mereka disebut dengan Qadariyah (yang bebas).

Kelompok kedua merasa nyaman dengan gagasan bahwa semua sudah ditetapkan, sehingga apapun yang terjadi adalah final, mutlak, dari sebelum bumi diciptakan sudah tertulis begitu. Kepada mereka disematkan label Jabbariyah (yang dipaksa). Keduanya lahir dari konteks sosial yang nyata: ada masa ketika umat terlalu pasif dan selalu menyalahkan nasib, ada pula masa ketika manusia merasa dirinya serba mampu dan melupakan Tuhan.

Hari ini, kita semestinya mengambil jalan tengah. Moderasi dalam memahami takdir berarti menyadari bahwa manusia diberi ruang untuk berusaha, memilih, merancang, bahkan membangun. Tetapi di atas semua itu, Allah yang menentukan hasil akhirnya. Pandangan ini membuat kita tidak jumawa atas usaha, tetapi juga tidak menyerah begitu saja pada keadaan. Kesalahan desain, kelalaian pengawasan, atau kecerobohan pembangunan adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Ia bukan takdir dalam arti “nasib” yang tak bisa dihindari, melainkan konsekuensi dari pilihan dan tindakan kita sendiri.

Karena itu, tragedi Ponpes Al-Khoziny mestinya menjadi titik balik untuk refleksi bersama. Bagi para pengelola lembaga pendidikan, ini alarm keras agar tidak bermain-main dengan keselamatan santri. Membangun tempat belajar agama bukan sekadar amal jariyah, tetapi juga amanah besar yang harus dijaga kualitasnya. Bagi pemerintah daerah dan aparat, ini peringatan agar pengawasan bangunan tidak sekadar formalitas, melainkan benar-benar menjamin standar keamanan. Dan bagi masyarakat, ini pelajaran pahit bahwa sikap kritis tetap perlu agar lembaga yang kita percayai tidak terjebak pada kecerobohan.

Maka, mengucapkan kata “takdir” saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk meminta maaf, melakukan evaluasi menyeluruh, serta memperbaiki sistem agar nyawa santri tidak lagi jadi taruhan. Takdir harusnya membimbing kita untuk ikhlas setelah berusaha, bukan jadi alasan untuk menghindari kewajiban berusaha dengan benar.

(AN)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.