Jakarta –
Post traumatic stress disorder (PTSD) menjadi ancaman nyata bagi para perempuan usai persalinan. Bahkan, ribuan Bunda diduga alami PTSD setelah melahirkan, ini temuan studi.
Perjalanan panjang dari kehamilan hingga persalinan bukanlah proses yang mudah. Hitam putihnya proses tersebut tak jarang mendatangkan dampak luar biasa bagi perempuan, salah satunya stres yang tak dirasakan tetapi mendalam.
Potret itu pun menjadi sebuah ancaman nyata yang perlu menjadi kewaspadaan. Bahkan, dalam sebuah studi terbaru ditemukan adanya ribuan perempuan di Inggris yang mengalami PTSD pasca melahirkan yang tidak terdiagnosis setiap tahunnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para ahli pun menyerukan dukungan terpadu selama masa pasca melahirkan di tengah kekhawatiran bahwa dokter umum tidak terlatih untuk mengenali gejalanya, seperti dikutip dari laman The Guardian.
PTSD, risiko yang perlu diwaspadai perempuan pasca melahirkan
Pasca melahirkan, ternyata banyak perempuan yang tak menyadari dirinya terkena gangguan PTSD. Kondisi yang menakutkan dan berbahaya tersebut luput terdeteksi pada setidaknya 15 ribu perempuan setiap tahunnya di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara. Angka sebenarnya bahkan bisa jadi dua kali lipat atau lebih tinggi, menurut para penulis penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis terkemuka.
Kesenjangan dalam layanan kesehatan mental ibu ini terungkap dalam tinjauan bukti yang diterbitkan baru-baru ini oleh para dokter dari Fakultas Kedokteran University of East Anglia yang memiliki spesialisasi di bidang kesehatan perempuan.
Studi tersebut menemukan bahwa banyak dokter umum keliru menganggap PTSD sebagai depresi pasca melahirkan. Akibatnya, perempuan yang sangat membutuhkan bantuan spesialis untuk PTSD justru menerima penanganan yang tidak tepat.
Kegagalan NHS yang meluas dalam mengidentifikasi PTSD pada perempuan yang baru melahirkan telah memicu kekhawatiran, karena gangguan kesehatan mental yang tidak terdiagnosis pada kelompok ini dikaitkan dengan masalah hubungan, penderitaan jangka panjang, dan risiko bunuh diri yang tinggi.
Penelitian yang diterbitkan dalam The British Journal of General Practice ini merupakan upaya pertama para ahli untuk mengukur jumlah kasus PTSD terkait persalinan di Inggris yang terdiagnosis maupun tidak. NHS tidak mendata angka-angka tersebut, padahal hingga satu dari 16 ibu mengalami kondisi kesehatan mental serius ini, sering kali akibat pengalaman traumatis saat melahirkan.
Diakui pimpinan dari 50 ribu dokter umum di Inggris bahwa kasus PTSD sering kali tidak dikenali dan tidak ditangani karena adanya kesenjangan. Padahal hal ini penting terutama dalam kemampuan dokter keluarga untuk mengenali gejalanya, yang meliputi mimpi buruk, kilas balik, kecemasan, dan pikiran negatif yang terus-menerus, termasuk rasa putus asa.
Penelitian memperkirakan bahwa antara 5 persen hingga 5,9 persen perempuan yang melahirkan mengalami PTSD, dan kurang dari separuh dari mereka yang mengalaminya mendapatkan diagnosis serta perawatan NHS. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa terjadi bahkan ketika perempuan tersebut menjalani proses persalinan tanpa komplikasi medis.
“Angka dari Office for National Statistics (ONS) untuk jumlah kelahiran hidup di Inggris dan Wales pada tahun 2025, tidak termasuk Skotlandia dan Irlandia Utara yakni sebanyak 585.396. Angka ini tidak mencakup kasus bayi lahir mati dan keguguran, yang merupakan faktor risiko signifikan bagi PTSD pascapersalinan,” ujar Dr. Megan Foreman, penulis utama makalah tersebut yang juga berpraktik sebagai dokter umum.
Karena itu, tambahnya, berdasarkan angka kelahiran ONS pada 2025 untuk Inggris dan Wales (29.269) sebesar 5 persen, serta dikombinasikan dengan bukti dari Moran dkk. bahwa kurang dari 50 persen perempuan dengan gejala PTSD pasca melahirkan dirujuk untuk mendapatkan dukungan kesehatan mental perinatal dari spesialis. Maka, perkiraan jumlah perempuan di Inggris yang terdampak yakni lebih dari 15.000 orang, namun berpotensi mencapai puluhan ribu dapat dibenarkan berdasarkan bukti yang ada.
Menurut keenam penulis studi tersebut, banyak kasus PTSD yang tidak terdeteksi ketika ibu baru mengunjungi dokter umum untuk pemeriksaan kesehatan diri mereka sendiri dan bayinya, yang merupakan layanan standar NHS, pada enam minggu setelah melahirkan.
Selain itu, hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa, meskipun terdapat panduan NHS mengenai prosedur konsultasi tersebut, belum ada kerangka kerja yang disetujui untuk menilai risiko PTSD pada perempuan.
Faktor lainnya yakni, beberapa perempuan mungkin merasa belum siap untuk membahas pengalaman persalinan yang traumatis karena hal itu dapat memicu kembali ingatan traumatis tersebut, ungkap makalah itu.
“Sebuah studi di Inggris menunjukkan bahwa meskipun separuh dokter umum mengenali tanda-tanda terkait trauma saat meninjau skenario kasus (vignette) yang menggambarkan PTSD akibat persalinan, diagnosis yang paling sering mereka berikan justru depresi pasca melahirkan,” tambahnya.
Sementara, kesalahan diagnosis sendiri dapat berdampak buruk bagi perempuan dengan PTSD karena mereka kemudian diresepkan antidepresan, yang tidak seefektif terapi psikologis dalam menangani kondisi tersebut. Dan juga karena bukti menunjukkan bahwa mengobati depresi saja mungkin tidak memperbaiki PTSD terkait persalinan yang terjadi bersamaan,” ungkap para penulis.
Kegagalan untuk mengidentifikasi PTSD secara tepat juga merupakan masalah serius karena kondisi ini serta depresi pasca melahirkan meningkatkan risiko bunuh diri, yang merupakan penyebab kematian paling umum di kalangan perempuan pada tahun pertama setelah melahirkan.
“PTSD terkait persalinan yang tidak diobati dapat berdampak besar pada perempuan dan keluarga,” termasuk kebutuhan perawatan NHS lebih lanjut, menghindari kontak dengan dokter dan rumah sakit, atau memilih untuk melakukan operasi caesar elektif atau persalinan di rumah dengan kehamilan di masa depan, tambah makalah tersebut.
Menurut Angela McConville, CEO NCT, bahwa temuan tersebut mengkhawatirkan dan menunjukkan bahwa perawatan pasca persalinan NHS perlu lebih fokus pada kesejahteraan emosional ibu.
“Kemungkinan bahwa begitu banyak perempuan bisa hidup dengan PTSD yang belum terdiagnosis setelah melahirkan sangatlah mengkhawatirkan. PTSD setelah melahirkan adalah kondisi serius dan sering diabaikan yang dapat berdampak mendalam pada perempuan dan ibu baru, serta orang-orang di sekitar mereka. Tidak ada yang seharusnya mencapai titik krisis sebelum mereka didengarkan dan dapat mengakses dukungan,” katanya.
Seperti diketahui bahwa pengalaman traumatis terkait kehamilan dan persalinan memang dapat memengaruhi kesehatan mental, hubungan, dan kepercayaan diri ibu pada saat orang sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan dengan bayi baru.
Dengan adanya temuan ini tentunya menjadi pengingat bahwa trauma kelahiran tidak berakhir ketika perawatan di rumah sakit berakhir. Ketika trauma tidak dikenali atau tidak didukung dengan baik, dampaknya bisa dirasakan seluruh hubungan, kehidupan keluarga, dan kualitas hidup yang bersangkutan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Dikatakan Prof Victoria Tzortziou Brown, presiden Royal College of GPs bahwa pemeriksaan pasca melahirkan enam hingga delapan minggu ini merupakan kesempatan penting bagi dokter umum untuk membahas kesejahteraan fisik dan mental seorang perempuan, serta kesehatan bayinya. Namun, PTSD terkait persalinan bisa sulit diidentifikasi.
“Gejalanya memang dapat tumpang tindih dengan depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental pasca melahirkan lainnya, dan mungkin baru terlihat beberapa bulan setelah kelahiran,” katanya.
Untuk itu, pengakuan tidak dapat bergantung pada satu sesi konsultasi saja. Perempuan membutuhkan dukungan terintegrasi sepanjang masa pasca melahirkan, meliputi layanan bersalin, kunjungan kesehatan, praktik umum, dan layanan kesehatan mental spesialis.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)





Comments are closed.