Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Riset: Bekerja Keras Tak Selalu Rusak Kebahagiaan

Riset: Bekerja Keras Tak Selalu Rusak Kebahagiaan

riset:-bekerja-keras-tak-selalu-rusak-kebahagiaan
Riset: Bekerja Keras Tak Selalu Rusak Kebahagiaan
service

Di tengah dunia kerja yang semakin kompetitif dan penuh dengan tekanan, organisasi mulai dituntut untuk mencapai target kinerja tinggi tanpa mengacuhkan kesejahteraan para pekerjanya. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan tetap merasa bahagia, berkembang, dan produktif di saat banyaknya tuntutan pekerjaan.

Hasil Riset Guru Besar Departemen Manajemen, bersama tim Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada (UGM) Reni Rosari menyebutkan bekerja berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan. Hasil dari penelitiannya yang melibatkan lebih dari 400 karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia menunjukkan individu memiliki kecenderungan workaholic justru dapat merasakan tingkat kebahagiaan kerja yang lebih tinggi ketika mereka mengalami thriving at work.

Artinya, selama pekerjaan tersebut memiliki kesempatan untuk berkembang di lingkungan yang positif, kerja keras dapat menjadi sumber makna dan kepuasan. Bekerja keras tidak selalu identik dengan penderitaan.

“Dalam konteks budaya kolektivitas seperti Indonesia, kerja keras bisa menjadi sumber makna, selama ada rasa berkembang dan dukungan dari pemimpin yang inklusif,” katanya, Jumat, 5 Juni 2026 di laman UGM.

Melalui riset yang berjudul “Inclusive Leadership and Workplace Happiness: Thriving as Mediator and Workaholism as Moderator in Indonesia”, ia mengkaji peran kepemimpinan inklusif dalam menciptakan kebahagiaan kerja di tengah budaya kerja yang cenderung menuntut dedikasi tinggi.

Reni mengungkapkan realitas organisasi di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Struktur organisasi yang hirarkis, target kerja yang tinggi, serta budaya kerja yang keras kerap dipandang sebagai bentuk loyalitas.

Hal ini, kata dia, membuat kepemimpinan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pengalaman kerja karyawan. Dalam konteks seperti ini, lanjut dia, kepemimpinan bukan hanya soal mencapai hasil, tetapi juga tentang bagaimana manusia diperlukan dalam proses mencapai hasil tersebut.

“Di sinilah, konsep inclusive leadership menjadi penting,” katanya. Ia menyatakan hal ini dalam Program Research Series bertajuk Kepemimpinan Inklusif dan Kebahagiaan di Tempat Kerja.

Reni menjelaskan konsep inclusive leadership merupakan gaya kepemimpinan yang terbuka, adil, mudah diakses, dan secara aktif melibatkan karyawan dalam proses kerja. Menurutnya, pimpinan yang inklusif bukan sekadar baik, tetapi juga menciptakan rasa aman secara psikologis yang setiap individu merasa dihargai dan didengar.

Menariknya, ucap dia, kepemimpinan inklusif tidak langsung membuat karyawan bahagia. Ada mekanisme psikologis penting, yaitu thriving work.

Menurut dia, thriving merupakan kondisi ketika individu tidak hanya produktif, tetapi juga merasa terus berkembang dan mengalami pertumbuhan dalam pekerjaannya. Reni menjelaskan, salah satu temuan menarik dalam penelitiannya berkaitan dengan fenomena workaholism, yaitu kecenderungan bekerja secara berlebihan.

Dalam banyak penelitian, ujar dia, workaholism umumnya dikaitkan dengan stres, kelelahan, dan burnout dalam bekerja. Namun, di Indonesia, workaholism tidak selalu berkonotasi negatif. Budaya kolektivitas membuat kerja keras sering dianggap sebagai bentuk dedikasi, loyalitas, bahkan nilai moral.

Reni mengatakan pemimpin organisasi memiliki peran yang cukup krusial. Kehadiran pemimpin penting untuk memastikan ada keadilan, dukungan, dan ruang untuk bertumbuh di balik tuntutan yang tinggi. Ia berharap temuan dari penelitiannya tersebut dapat memberikan implikasi penting bagi organisasi.

Ia mengatakan upaya untuk meningkatkan kebahagiaan kerja tidak cukup dilakukan melalui penyediaan fasilitas atau insentif semata. Organisasi perlu membangun kualitas relasi yang sehat antara pemimpin dan karyawan.

Bagi individu, kata dia, penelitian ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan di tempat kerja tidak selalu berarti bekerja lebih sedikit. Tapi kebahagiaan dapat muncul ketika pekerjaan dapat memberikan kesempatan untuk belajar, berkembang, dan menemukan makna dalam setiap kontribusi yang diberikan.

“Pada akhirnya, inclusive leadership mengajarkan satu hal yang sederhana tetapi juga mendalam. Ketika manusia diberi ruang untuk bertumbuh, bahkan kerja keras sekalipun bisa menjadi sumber kebahagiaan,” tuturnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.