Tue,1 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Technology
  3. Rusia Buru CEO Telegram Pavel Durov, Masuk Daftar Buronan Internasional

Rusia Buru CEO Telegram Pavel Durov, Masuk Daftar Buronan Internasional

rusia-buru-ceo-telegram-pavel-durov,-masuk-daftar-buronan-internasional
Rusia Buru CEO Telegram Pavel Durov, Masuk Daftar Buronan Internasional
service
Foto: Ilustrasi dibuat oleh AI

Teknologi.id – Pemerintah Rusia melalui Dinas Keamanan Federal (Federal Security Service/FSB) resmi mendakwa pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, atas tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme.

Tak hanya itu, Rusia juga memasukkan nama miliarder kelahiran Saint Petersburg tersebut ke dalam daftar buronan internasional dengan menerbitkan surat perintah penangkapan.

Kasus ini menjadi babak terbaru dalam konflik panjang antara Telegram dan pemerintah Rusia yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Baca juga: Apple Upgrade Resmi Hadir, Kini Bisa Sewa iPhone, iPad, hingga Mac Tanpa Beli

Rusia Tuduh Telegram Digunakan untuk Aktivitas Terorisme

Dalam pernyataan resminya pada Rabu (29/7/2026), FSB menuding Telegram gagal menghapus sejumlah kanal, grup percakapan, dan bot yang disebut digunakan oleh badan intelijen Ukraina serta organisasi yang dikategorikan sebagai teroris dan ekstremis.

Menurut FSB, saluran-saluran tersebut diduga dimanfaatkan untuk:

  • Merencanakan aksi sabotase.
  • Mengoordinasikan serangan teroris.
  • Melakukan pembunuhan massal.
  • Menjalankan penipuan siber.
  • Merekrut warga Rusia untuk melakukan aksi sabotase.

Atas dasar itu, Rusia mendakwa Pavel Durov sekaligus menerbitkan surat penangkapan internasional terhadap dirinya.

Hingga artikel ini ditulis, Pavel Durov maupun Telegram belum memberikan pernyataan resmi terkait dakwaan tersebut.

Telegram Unggah Gambar Pavel Durov di X

Foto: SS X.com

Tak lama setelah kabar dakwaan mencuat, akun resmi Telegram di platform X mengunggah ilustrasi Pavel Durov yang sedang mengacungkan jari tengah.

Telegram tidak memberikan penjelasan mengenai makna unggahan tersebut.

Konflik Telegram dan Rusia Sudah Lama Terjadi

Kasus ini bukan pertama kalinya Telegram berhadapan dengan pemerintah Rusia.

Telegram didirikan oleh Pavel Durov bersama saudaranya, Nikolai Durov, pada 2013. Aplikasi pesan instan tersebut kini diklaim memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif di seluruh dunia.

Pada awal 2026, Durov mengungkapkan bahwa otoritas Rusia telah membuka penyelidikan pidana terhadap dirinya. Menurutnya, penyelidikan tersebut hanyalah dalih untuk membatasi hak atas privasi dan kebebasan berbicara.

Sebelumnya, pada April 2026, Durov juga mengungkapkan bahwa surat panggilan atas nama “P.V. Durov” dikirim ke apartemen lamanya di Rusia, tempat yang telah ia tinggalkan sekitar 20 tahun lalu.

Ia menilai tindakan tersebut berkaitan dengan sikapnya yang membela kebebasan berbicara dan hak atas komunikasi pribadi sebagaimana dijamin dalam Konstitusi Rusia.

Terancam Penjara Seumur Hidup

Apabila nantinya dinyatakan bersalah oleh pengadilan Rusia, Pavel Durov berpotensi menghadapi hukuman penjara seumur hidup.

Rusia Pernah Gagal Memblokir Telegram

Hubungan Telegram dan pemerintah Rusia memang telah lama diwarnai ketegangan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Rusia memperketat pengawasan terhadap internet dengan membatasi sejumlah platform digital.

Facebook, Instagram, dan X telah diblokir di Rusia. YouTube mengalami pembatasan kecepatan akses (throttling), sedangkan Signal dan Viber telah diblokir.

Telegram sendiri juga sempat diblokir pada periode 2018 hingga 2020, tetapi upaya tersebut akhirnya gagal.

Di sisi lain, pemerintah Rusia kini mendorong penggunaan aplikasi pesan nasional bernama MAX sebagai alternatif Telegram.

Aplikasi tersebut dipromosikan sebagai platform terpadu untuk layanan pesan instan, pembayaran digital, hingga layanan pemerintah. Namun, sejumlah pihak mengkritik aplikasi itu karena berpotensi menjadi alat pengawasan pemerintah dan belum menggunakan sistem enkripsi end-to-end.

Pavel Durov Pernah Ditangkap di Prancis

Kasus di Rusia bukan pertama kalinya Pavel Durov berurusan dengan aparat penegak hukum.

Pada 2024, ia sempat ditangkap di Prancis terkait dugaan Telegram kurang aktif mencegah aktivitas ilegal di platformnya, termasuk perdagangan narkoba dan penyebaran materi eksploitasi seksual anak.

Otoritas Prancis juga menilai Telegram kurang kooperatif terhadap permintaan penegak hukum.

Namun, Durov membantah seluruh tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Telegram tidak memiliki kepentingan untuk melindungi aktivitas ilegal.

Pada Maret 2025, Durov mengumumkan telah kembali ke Dubai, Uni Emirat Arab, yang menjadi lokasi kantor pusat Telegram sekaligus tempat tinggalnya saat ini.

Baca juga: WhatsApp Web Kini Bisa Telepon dan Video Call, Termasuk Panggilan Grup

Keberadaan Pavel Durov Belum Diketahui

Hingga artikel ini ditulis, keberadaan terbaru Pavel Durov belum diketahui secara pasti.

Unggahan terakhirnya di Telegram pada pekan lalu menunjukkan bahwa ia sempat berada di Georgia dan berharap dapat kembali mengunjungi negara tersebut dalam waktu dekat.

Apa Dampaknya bagi Telegram?

Hingga saat ini, belum ada perubahan terhadap operasional Telegram. Aplikasi tersebut masih digunakan oleh lebih dari satu miliar pengguna aktif di seluruh dunia.

Meski demikian, kasus hukum terhadap Pavel Durov diperkirakan akan terus menjadi perhatian karena berkaitan dengan isu moderasi konten, privasi pengguna, dan kebebasan berekspresi di platform digital.

Kesimpulan

Rusia resmi mendakwa CEO Telegram Pavel Durov atas tuduhan memfasilitasi aktivitas terorisme serta menerbitkan surat penangkapan internasional yang membuatnya masuk ke dalam daftar buronan.

Kasus ini kembali memperlihatkan panjangnya konflik antara Telegram dan pemerintah Rusia terkait kebebasan berbicara, privasi pengguna, serta pengawasan terhadap platform digital. Hingga kini, Pavel Durov maupun Telegram belum memberikan tanggapan resmi atas dakwaan tersebut.

Baca Berita dan Artikel yang lain di Google News.

(dwk)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.