Tue,4 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Safar Bukan Bulan Sial dan Pembawa Bencana

Safar Bukan Bulan Sial dan Pembawa Bencana

safar-bukan-bulan-sial-dan-pembawa-bencana
Safar Bukan Bulan Sial dan Pembawa Bencana
service

Arina.id – Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriah. Namun, bulan ini kerap dikaitkan dengan berbagai mitos dan keyakinan tentang kesialan serta datangnya bencana. Di sejumlah daerah di Indonesia, kepercayaan semacam ini bahkan masih cukup kuat dan diyakini oleh sebagian masyarakat.

Tulisan ini membahas keyakinan tersebut berdasarkan perspektif Islam dan budaya. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai bagaimana seharusnya seorang Muslim memandang dan menyikapi bulan Safar.

Di beberapa wilayah Indonesia, masih terdapat anggapan bahwa Safar merupakan bulan yang tidak baik untuk melakukan berbagai kegiatan penting. Sebagian masyarakat, misalnya, meyakini bahwa melangsungkan pernikahan atau memulai sebuah usaha pada bulan Safar dapat membawa kesialan. Padahal, keyakinan tersebut lebih banyak berakar pada adat dan tradisi budaya setempat daripada bersumber dari ajaran Islam.

Secara etimologis, istilah “Safar” berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti kosong atau nol. Dalam sejarah masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, bulan Safar sering dihubungkan dengan kondisi kosong dan kemiskinan. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat Arab pada waktu itu yang meninggalkan rumah untuk pergi berperang atau merantau demi mencari penghidupan.

Dari kondisi tersebut kemudian berkembang anggapan bahwa Safar merupakan bulan yang tidak baik. Seiring berjalannya waktu, keyakinan tersebut berkembang menjadi berbagai mitos dan kepercayaan yang berbeda-beda di sejumlah kebudayaan.

Hal tersebut sebagaimana diterangkan oleh Imam Ibnu Katsir:

صَفَرْ: سُمِيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوْتِهِمْ مِنْهُمْ، حِيْنَ يَخْرُجُوْنَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

Artinya: “Safar dinamakan dengan nama tersebut, karena sepinya rumah-rumah mereka dari mereka, ketika mereka keluar untuk perang dan bepergian.” [Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, (Dârut Thayyibah, 1999), j. IV, halaman 146].

Penjelasan yang hampir serupa juga disampaikan oleh Imam Syarwani. Ia menerangkan bahwa penamaan bulan-bulan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat Arab yang memberikan nama sesuai dengan kondisi atau keadaan yang terjadi pada masa itu.

Misalnya, bulan Ramadhan dinamakan demikian karena pada saat itu bertepatan dengan masa yang sangat panas. Demikian pula Rabiul Awal dan Rabiul Tsani dinamakan berdasarkan musim semi yang bertepatan dengan waktu tersebut. Hal serupa juga berlaku pada penamaan bulan-bulan lainnya, meskipun dalam perkembangannya waktu datangnya musim tertentu tidak selalu bertepatan dengan nama bulan yang diberikan.

Termasuk di antaranya adalah bulan Safar, sebagaimana disebutkan:

والصفر لما غزوا وتركوا ديار القوم صفرا

Artinya: “Dan Safar, ialah saat orang Arab meninggalkan rumah mereka dalam keadaan kosong”. [Asy-Syarwani, Hawasyi asy-Syarwani ‘ala tuhfah al-Muhtaj (Kairo: Dar al-Fikr, 2016), j. III, h. 371].

Keyakinan bahwa Safar merupakan bulan yang identik dengan bencana dan kesialan memang telah dikenal dalam tradisi masyarakat Arab Jahiliyah. Kepercayaan tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia.

Padahal, Nabi Muhammad SAW telah memberikan peringatan bahwa datangnya kesialan dan bencana tidak bergantung pada bulan tertentu maupun pertanda tertentu. Segala sesuatu yang terjadi berada dalam kehendak dan ketentuan Allah SWT. Demikian pula kapan seseorang mendapatkan kesialan atau tertimpa bencana, semuanya berada dalam kuasa dan ketetapan-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الْأَسَدِ

Artinya: “Tidak ada wabah (yang menyebar dengan sendirinya tanpa kehendak Allah), tidak pula tanda kesialan, tidak (pula) burung (tanda kesialan), dan juga tidak ada (kesialan) pada bulan Safar. Menghindarlah dari penyakit judzam sebagaimana engkau menghindar dari singa.” (HR. Al-Bukhari).

Syekh Abu Bakar Syata menjelaskan bahwa hadits tersebut hadir untuk menghapus keyakinan masyarakat Jahiliyah yang menghubungkan suatu kejadian, seperti wabah, kesialan, dan bencana, dengan tanda-tanda tertentu ataupun bulan tertentu.

Beliau menjelaskan:

المراد لا عدوى مؤثرة، فلا ينافي أنه قد تحصل العدوى، لكن بفعل الله تعالى فإن الحديث ورد ردا لما كان يعتقده أهل الجاهلية من نسبة الفعل لغير الله تعالى

Artinya: “Yang dimaksud adalah “tidak ada wabah” yang bisa berefek, maka jangan sampai meyakini bahwa sesungguhnya hal (bulan, dll) tersebutlah yang menghasilkan wabah, namun kuasa Allah lah yang membuatnya demikian. Sesungguhnya hadits ini dihadirkan ketika orang-orang Jahiliyah memiliki kepercayaaan dan keyakinan semacam itu, yakni menisbatkan sebuah kejadian pada selain Allah SWT”. (Abu Bakar Syattha, Hâsiyyah I’ânatuth Thâlibîn, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiah: 2003], j. III, h. 382).

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa setiap peristiwa yang berlangsung di dunia ini tidak pernah terlepas dari kehendak Allah SWT. Suatu kejadian tidak ditentukan oleh pertanda tertentu atau karena bertepatan dengan bulan tertentu.

Keyakinan bahwa suatu peristiwa pasti terjadi hanya karena adanya tanda tertentu atau karena berlangsung pada bulan tertentu dapat membawa persoalan serius dalam hal tauhid. Sebab, keyakinan tersebut berpotensi membuat seseorang tidak sepenuhnya menyerahkan seluruh urusan kehidupannya kepada kekuasaan Allah SWT.

Jika benar bulan Safar merupakan bulan yang identik dengan kesialan dan bencana, tentu dalam perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW tidak akan ditemukan peristiwa-peristiwa besar yang berlangsung pada bulan tersebut. Namun kenyataannya tidak demikian.

Dalam Mandzumah Syarh al-Atsar fî mâ Warada ‘an Syahri Safar (hal. 9), Abu Bakar al-‘Adni justru menyebutkan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah kehidupan Rasulullah SAW yang terjadi pada bulan Safar.

Ia menyebutkan enam peristiwa penting dalam nadzam yang disusunnya. Di antara peristiwa tersebut adalah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Ummul Mukminin Khadijah, pernikahan Ali bin Abi Thalib RA dengan Sayyidah Fatimah az-Zahra, penaklukan Khaibar, dan sejumlah peristiwa penting lainnya.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita kembali meyakini bahwa seluruh ketetapan mengenai waktu, jumlah hari dalam satu bulan, jumlah bulan dalam satu tahun, perhitungan bulan, serta berbagai ketentuan lainnya, seperti waktu pelaksanaan puasa, ibadah haji, dan kapan perang diharamkan, semuanya berada dalam ketentuan dan kehendak Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah ketika Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.

Dengan demikian, seorang Muslim tidak semestinya meyakini bahwa bulan Safar adalah bulan pembawa kesialan atau bencana. Setiap waktu adalah ciptaan dan ketetapan Allah SWT, sedangkan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya berlangsung atas kehendak dan kuasa-Nya. Wallahu a’lam bi shawab.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.