KABARBURSA.COM – Di tengah tekanan sektor properti yang belum sepenuhnya pulih, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) tetap mencatatkan pergerakan bisnis yang stabil sepanjang 2025. Namun di pasar saham, ceritanya berjalan berbeda.
Harga saham justru bergerak tertahan di tengah tekanan jual yang masih terasa di akhir perdagangan. Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, saham APLN ditutup di level 150, turun 2,60 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 154.
Sepanjang sesi perdagangan, harga sempat bergerak naik hingga 159 sebelum akhirnya kembali tertekan dan menyentuh level terendah di 146. Rata-rata harga transaksi berada di kisaran 152, mencerminkan adanya tekanan jual yang cukup dominan sepanjang sesi.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp6,1 miliar dengan volume mencapai 399,56 ribu lot. Aktivitas ini menunjukkan likuiditas yang masih terjaga, namun arah pergerakan harga mengindikasikan bahwa setiap penguatan cenderung direspons dengan aksi jual.
Fundamental Stabil, Penjualan Meningkat
Di sisi fundamental, APLN mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp3,57 triliun sepanjang 2025. Angka ini ditopang oleh kombinasi penjualan properti dan pendapatan berulang dari aset komersial.
Kontributor terbesar berasal dari pengakuan penjualan sebesar Rp2,21 triliun. Segmen rumah tinggal menjadi penyumbang utama dengan nilai Rp1,06 triliun, diikuti apartemen Rp588,18 miliar, serta penjualan tanah Rp247,18 miliar. Penjualan rumah toko juga turut menyumbang Rp243,49 miliar.
Di luar penjualan properti, APLN mengandalkan pendapatan berulang sebesar Rp1,36 triliun. Sumbernya berasal dari operasional hotel dan pusat perbelanjaan yang tersebar di berbagai kota, termasuk aset seperti Senayan City, Central Park, hingga Hotel Indigo Bali Seminyak.
Struktur ini menunjukkan bahwa bisnis APLN tidak hanya bergantung pada siklus penjualan properti, tetapi juga ditopang oleh arus kas dari aset komersial yang berjalan secara berkelanjutan.
Namun, dari sisi profitabilitas, terlihat adanya penyesuaian. Laba kotor tercatat Rp1,47 triliun, turun dibandingkan Rp2,44 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan ini dipengaruhi oleh tidak adanya lagi kontribusi penjualan aset hotel seperti yang terjadi pada 2024.
Artinya, secara operasional, kinerja 2025 lebih mencerminkan aktivitas bisnis inti tanpa dorongan dari transaksi non-rutin. Hal ini membuat basis perbandingan menjadi berbeda dan terlihat sebagai penurunan dalam angka laba.
Marketing sales sepanjang 2025 tercatat Rp1,41 triliun, mencerminkan permintaan yang masih terbentuk meski belum sepenuhnya pulih. Fokus pada segmen hunian menengah menjadi strategi utama, seiring kebutuhan yang dinilai masih relatif tinggi di segmen tersebut.
Di pasar, pergerakan saham APLN tampak belum sepenuhnya merefleksikan stabilitas operasional tersebut. Tekanan harga yang muncul dalam sesi perdagangan menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dalam merespons kinerja yang ada.
Kondisi ini menciptakan kontras yang menarik. Di satu sisi, bisnis tetap berjalan dengan kombinasi pendapatan yang terdiversifikasi antara penjualan properti dan recurring income. Di sisi lain, pergerakan saham masih berada dalam fase penyesuaian dengan tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda.
Dengan struktur bisnis yang tetap berjalan dan strategi yang difokuskan pada penguatan proyek serta optimalisasi aset, arah pergerakan APLN ke depan tidak hanya ditentukan oleh kinerja internal, tetapi juga oleh bagaimana pasar merespons stabilitas tersebut di tengah dinamika sektor properti yang masih bergerak hati-hati.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.