Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Sate Bandeng, Makanan Tradisional Khas Banten yang Jadi Hidangan Favorit Sultan pada Abad ke-16

Sate Bandeng, Makanan Tradisional Khas Banten yang Jadi Hidangan Favorit Sultan pada Abad ke-16

sate-bandeng,-makanan-tradisional-khas-banten-yang-jadi-hidangan-favorit-sultan-pada-abad-ke-16
Sate Bandeng, Makanan Tradisional Khas Banten yang Jadi Hidangan Favorit Sultan pada Abad ke-16
service

27 Maret 2026 08.00 WIB • 2 menit

Sate Bandeng, Makanan Tradisional Khas Banten yang Jadi Hidangan Favorit Sultan pada Abad ke-16


Sate biasanya identik dengan daging-dagingan yang dibakar, baik itu daging sapi, kambing, hingga ayam yang telah dibumbui dengan rempah tertentu. Namun apakah Kawan pernah membayangkan ada sajian sate yang menggunakan ikan bandeng sebagai bahan utamanya?

Sate bandeng, itulah nama kuliner yang satu ini. Makanan tradisional khas tersebut berasal dari sisi paling barat Pulau Jawa, yakni Banten.

Keberadaan sate bandeng sesuai dengan kekayaan alam yang ada di daerah tersebut. Sebab ikan bandeng menjadi salah satu kekayaan bahari yang bisa dijumpai di Banten.

Tidak hanya itu, keberadaan sate bandeng ternyata sudah ada sejak lama di tengah masyarakat. Bahkan kuliner tradisional yang satu ini diketahui menjadi salah satu hidangan favorit dari Sultan Banten pada abad ke-16 silam.

Bagaimana ulasan lebih lanjut terkait makanan tradisional khas Banten tersebut? Simak pembahasan terkait sate bandeng dalam artikel berikut ini.

Mengenal Sate Bandeng, Makanan Tradisional Khas Banten

Seperti namanya, sate bandeng menggunakan ikan bandeng sebagai bahan utama yang digunakan dalam proses pembuatannya. Ikan bandeng merupakan salah satu jenis ikan yang dikenal memiliki banyak duri di dagingnya.

Dalam proses pembuatannya, duri-duri yang ada di ikan bandeng ini akan dihilangkan. Setelah itu, daging ikan bandeng akan dibumbui dan dimasukkan kembali ke dalam kulitnya.

Nantinya ikan bandeng dalam bentuk utuh ini akan ditusuk menggunakan tangkai bambu dan sejenisnya. Hal ini membuat bentuk sate bandeng lebih besar jika dibandingkan sate lain pada umumnya.

Proses memasak sate bandeng tidak jauh berbeda dengan sate lainnya. Ikan bandeng yang sudah ditusuk nantinya akan dibakar di atas bara hingga matang dan disajikan dengan tambahan lainnya.

Hidangan Spesial untuk Sultan

Tahukah Kawan, ternyata sate bandeng menjadi salah satu hidangan yang digemari oleh Sultan Banten pada abad ke-16. Konon kesukaan sultan akan ikan bandeng ini pula yang menjadi cikal bakal kemunculan kuliner tradisional tersebut.

Dikutip dari Portal Resmi Provinsi Banten, Sultan Maulana Hasanudin yang memerintah pada 1552-1570 diketahui pernah meminta koki kerajaan untuk menyajikan hidangan dari ikan bandeng. Permintaan ini sempat membuat koki kerajaan kebingungan.

Sebab ikan bandeng memiliki banyak duri halus di dalam dagingnya. Hal ini dikhawatirkan bisa berbahaya untuk dikonsumsi bagi sang sultan nantinya.

Koki kerajaan ini kemudian mencoba untuk menghancurkan daging ikan bandeng sambil memisahkannya dengan duri-duri halus yang ada di dalamnya. Setelah itu, daging ikan bandeng ini dibumbui dengan rempah-rempah dan dibakar hingga matang.

Sajian ini ternyata disukai oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Tidak jarang sang sultan juga menyajikan hidangan ini untuk para tamu kerajaan yang datang ke Banten.

Seiring berjalannya waktu, sate bandeng tidak hanya dapat dinikmati oleh kalangan elite dan bangsawan saja. Masyarakat umum juga sudah bisa merasakan kenikmatan dari makanan tradisional khas banten tersebut hingga saat ini.

Nilai Budaya dan Filosofis

Selain nikmat untuk dinikmati, sate bandeng ternyata juga memiliki nilai budaya dan makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Hal ini membuat sate bandeng memiliki nilai lebih dari sekadar makanan saja di tengah masyarakat.

Eli Apud Saepudin, dkk, dalam artikel “Sate Bandeng sebagai Simbol Pelestarian Wisata Kuliner Makanan Khas di Kota Serang Provinsi Banten” yang terbit di Jurnal TOBA menuliskan jika sate bandeng dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kesejahteraan. Hal ini berdasarkan filosofi tentang ikan yang sering dikaitkan dengan simbol kelimpahan dan kesuburan.

Selain itu, cara membuat sate bandeng yang ditusuk bambu dianggap sebagai simbol persatuan dan kebersamaan. Proses pengolahan sate bandeng yang lama juga mengajarkan nilai-nilai ketelitian serta kesabaran bagi setiap orang yang mengolah makanan tradisional khas Banten tersebut.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.