Bincangperempuan.com– Belum lama setelah kasus grup chat mahasiswa FHUI yang berisi pelecehan seksual sistemik viral, linimasa kita langsung dibanjiri serangan balik. Banyak akun mulai mengunggah tangkapan layar komentar-komentar perempuan di foto laki-laki bertubuh atletis atau selebriti pria. Isinya seperti “rahim anget,” “Mau digoyang atau ngegoyang?” hingga objektifikasi fisik lainnya.
Narasi yang dibawa biasanya: “Gimana dengan perempuan yang melakukan pelecehan di sosmed? Kok nggak seviral mahasiswa UI? Katanya mau kesetaraan gender?”
Mari mengenal Whataboutism—sebuah taktik retorika di mana seseorang merespons tuduhan atau pertanyaan kritis dengan cara melempar tuduhan balik, menanyakan hal lain yang seolah berkaitan, atau malah mengalihkan pembicaraan ke isu yang berbeda.
Taktik ini sengaja dipakai untuk mengurangi bobot atau keseriusan dari masalah utamanya. Caranya adalah dengan menggiring opini seolah-olah pihak yang mengkritik itu munafik, atau mengesankan bahwa kesalahan yang sedang dibahas itu “biasa saja” karena orang lain juga melakukan hal serupa.
Sesuai namanya, jurus pengalihan isu ini mudah dikenali karena selalu diawali dengan pertanyaan: “Gimana dengan…?” atau “Lah, kalau si.. itu gimana?”
Dalam kasus ini, pertanyaan “Gimana dengan cewek yang komen melecehkan di postingan cowok?” bukan cuma sekadar tameng untuk lari dari tanggung jawab, tapi juga menunjukkan kecacatan logika.
False Equivalence: Membandingkan Dua Hal yang Tak Sebanding
Secara definisi, false equivalence adalah kesesatan logika di mana dua hal yang bobotnya sangat berbeda diklaim sebagai sesuatu yang setara. Kesesatan ini biasanya muncul karena dua hal yang dibandingkan kebetulan memiliki satu kesamaan karakteristik, padahal skalanya beda jauh, dan ada banyak faktor krusial lain yang sengaja diabaikan.
Membandingkan grup chat FHUI dengan komentar “rahim anget” adalah sebuah false equivalence atau kesesatan logika dalam membandingkan dua hal yang seolah-olah sama. Ya, keduanya memiliki satu kesamaan yaitu sama-sama perilaku pelecehan. Tetapi, menganggap keduanya sebagai sebuah kejahatan yang setara, sama saja dengan membandingkan skalanya bumi dan langit.
Grup chat yang viral tersebut bukan sekadar komentar iseng. Di dalamnya ada pengumpulan foto teman sendiri secara diam-diam, distribusi data pribadi tanpa izin, hingga fantasi kekerasan seksual yang terencana. Ini adalah ancaman keamanan yang nyata dan sistemik.
Sementara itu, komentar “rahim anget” adalah pelecehan verbal di ruang publik yang menjijikkan, tapi dalam struktur sosial kita, ia jarang sekali berujung pada ancaman fisik, penculikan, atau penghancuran reputasi bagi si laki-laki.
Kedua perilaku tersebut jelas-jelas salah. Tapi kita tidak bisa menyamakan dampak keduanya.
Baca juga: Menggugat Kinerja Satgas: Mengapa Kampus Masih Gagap Tangani Kekerasan Seksual?
Anatomi Relasi Kuasa
Kenapa pelecehan terhadap perempuan lebih sering dianggap “serius”? Coba pikirkan kenapa ada Komnas Komnas Perempuan tetapi tidak ada Komnas Laki-laki? Kenapa ada lembaga khusus untuk perlindungan perempuan?
Itu semua karena secara sistemik perempuan adalah kelompok rentan yang terus-menerus dirugikan oleh struktur patriarki. Kebutuhan akan adanya komisi khusus ini lahir dari realitas bahwa perempuan tidak memiliki privilese dan perlindungan yang setara di masyarakat.
Dalam struktur patriarki, laki-laki memegang dominasi kekuasaan secara sosial, ekonomi, hingga fisik. Ketika laki-laki melecehkan perempuan—seperti dalam grup chat yang mengumpulkan foto dan menyusun fantasi kekerasan, semacam itu kerap bereskalasi menjadi kejahatan fisik, penyebaran konten intim, hingga pembunuhan karakter yang menghancurkan karier dan nyawa korban.
Di sisi lain, mari kita bedah kasus komentar “rahim anget” terhadap laki-laki. Apakah itu pelecehan? Ya. Apakah laki-laki merasa terhina atau tidak nyaman? Sangat mungkin. Tapi perhatikan bagaimana sistem meresponsnya.
Ketika laki-laki yang menjadi korban objektifikasi ini berani speak up, siapa yang paling sering menormalisasi pelecehan tersebut?
Ironisnya, sesama laki-laki. Alih-alih mendapat empati, mereka justru sering ditertawakan dengan komentar, “Lah, harusnya bersyukur dong,” atau “Menang banyak tuh”. Fenomena ini adalah bukti nyata dari toxic masculinity (maskulinitas beracun).
Dalam kacamata patriarki, laki-laki dikonstruksikan sebagai makhluk yang harus selalu “siap sedia” untuk urusan seksual. Akibatnya, trauma atau ketidaknyamanan laki-laki sebagai korban pelecehan malah dibatalkan (dianulir) oleh sistem nilai yang diciptakan oleh laki-laki itu sendiri.
Perbedaan paling krusialnya ada pada rasa aman yang sistemik. Seorang laki-laki yang membaca komentar agresif dari perempuan tidak lantas hidup dalam ketakutan bahwa komentar tersebut akan berubah menjadi pemerkosaan di gang gelap. Mereka tidak kehilangan otoritas, privilese, atau power-nya di masyarakat hanya karena sebuah komentar pelecehan.
Sementara bagi perempuan, satu foto yang tersebar di grup chat predator bisa berarti akhir dari ruang aman seumur hidup. Menyamakan dampak dari dua kondisi dengan relasi kuasa yang sangat jomplang ini adalah bentuk kebutaan terhadap realitas.
Logika Cacat: Kesetaraan atau Penderitaan?
Bagian yang paling menggelikan dari narasi whataboutism ini adalah tuntutannya. Para penganut whataboutism biasanya menuntut agar perempuan mendapatkan penderitaan atau penghukuman yang sama beratnya dengan laki-laki. Mereka bilang, “Kalau cowok dihujat sampai DO, cewek yang komen gitu juga harusnya digituin dong!”
Padahal kesetaraan gender menuntut hak yang sama—hak untuk aman, hak untuk berdaulat atas tubuh sendiri, dan hak untuk mendapatkan perlindungan hukum. Kesetaraan bukan soal “kalau aku menderita, kamu juga harus menderita.”
Jika mereka benar-benar peduli pada korban laki-laki, mereka seharusnya fokus pada bagaimana menciptakan ruang digital yang bersih dari objektifikasi, bukan malah menggunakan penderitaan laki-laki sebagai kartu AS untuk menjustifikasi perilaku bejat sesama laki-laki di grup chat.
Baca juga: Kasus FHUI: Mengapa Alasan “Cuma Bercanda” Adalah Benih Nyata Kekerasan Seksual?
Berhenti Menjadi Tameng
Pelecehan seksual tidak akan pernah selesai jika setiap kali ada kasus besar, kita selalu sibuk mencari “tandingan” dosanya dari pihak lain. Menggunakan komentar “rahim anget” untuk menormalkan room talk yang predatoris adalah tanda bahwa kita lebih peduli pada kemenangan argumen daripada kemanusiaan.
Objektifikasi terhadap tubuh laki-laki adalah perilaku sampah yang harus dikritik, tapi jangan pernah jadikan sampah itu sebagai tameng untuk menutupi kejahatan yang lebih besar. Menghargai tubuh orang lain adalah prinsip dasar, bukan bahan untuk adu nasib.
Referensi:
- Bennett, B. (n.d.). False equivalence. Logically Fallacious.https://www.logicallyfallacious.com/logicalfallacies/False-Equivalence
- Encyclopaedia Britannica. (2024, May 15). Whataboutism.https://www.britannica.com/topic/whataboutism





Comments are closed.