Arina.id – Momen kemerdekaan Indonesia tahun ini bersamaan dengan momen kelahiran Nabi Muhammad SAW. Banyak masyarakat yang merayakan keduanya dalam acara doa kebangsaan dalam balutan shalawat dan bacaan maulid Nabi. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat kemerdekaan dan juga berbahagia atas bulan kelahiran Rasulullah.
Merayakan keduanya dengan rasa syukur dan ekspresi kebahagiaan sejatinya sangat diperbolehkan, selagi perayaannya tidak dengan bentuk kemaksiatan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Yunus ayat 58 berikut:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Kedua momentum ini layak untuk dirayakan bersama. Pasalnya, jika dikaji ulang secara mendalam, pada dasarnya misi utama Rasulullah SAW dalam risalah kenabiannya adalah semangat kemerdekaan. Yakni memerdekakan masyarakat dari paganisme menuju ketauhidan.
Dr. Said Ramdhan al-Buthi dalam bukunya yang berjudul Fiqhus Sirah al-Nabawiyah [Beirut: Darul Fikr, 1991, hlm. 107.] menjelaskan filosofi dari para pengikut Islam awal era dakwah senyap dan dakwah terbuka adalah diperbanyak oleh kalangan fakir miskin, tuna susila, dan para budak.
Al-Buthi mencatat sebagai berikut:
والسر في ذلك أن حقيقة هذا الدين الذي بعث الله به عامة أنبيائه ورسله إنما هي الخروج عن سلطان الناس وحكمهم إلى سلطان الله وحكمه وحده. وهي حقيقة تخدش أول ما تخدش ألوهية المتألهين وحاكمية المتحكمين وسطوة المتزعمين, وتناسب أول ما تناسب حالة المستضعفين والمستذلين والمستعبدين, فيكون رد الفعل أمام الدعوة إلى الإسلام لله وحده هو المكابرة والعناد من أولئك المتألهين والمتحكمين, والإذعان والإستجابة من هؤلاء المستضعفين.
Artinya: “Rahasia di balik fenomena itu adalah sesungguhnya hakikat dari agama ini, yang telah dirisalahkan oleh Allah kepada seluruh nabi dan rasul-Nya adalah kemerdekaan dari kekuasaan dan otoritas manusia menuju kekuasaan dan otoritas Allah semata. Itu adalah hakikat yang merobohkan ketuhanan orang-orang yang mengaku tuhan, otoritas para penguasa, dan kediktatoran para pimpinan, dan sesuai dengan kondisi orang-orang tertindas, orang-orang lemah, dan orang-orang yang diperbudak. Maka respon yang dihadapi setelah adanya dakwah Islam adalah kesombongan, dan penolakan dari para pengaku tuhan dan para penguasa diktator tersebut. Sedangkan respon dari orang-orang tertindas tersebut adalah ketundukan dan penerimaan.”
Dakwah Islam dianggap sebagai stimulus negatif oleh para penguasa diktator dan para pengaku tuhan. Alhasil, respon yang mereka berikan adalah sebuah penolakan dan resistensi serta cenderung memerangi. Dakwah Islam dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas dan kekuasaan mereka.
Sedangkan kepada orang-orang lemah dan tertindas adalah stimulus positif, sehingga mereka cenderung menerima, tunduk, dan patuh terhadap dakwah Islam. Mereka menganggap bahwa dakwah Islam akan membebaskan mereka dari kezaliman dan tirani para pemimpin diktator.
Puncak kemerdekaan yang dicapai oleh Rasulullah dan para sahabat era itu adalah Fathu Makkah, atau penaklukan kota Makkah yang dikuasai oleh Rasulullah dengan tanpa penumpahan darah. Beliau menunjukkan kemenangan sejati dan menghapuskan diskriminasi rasial dalam khutbahnya dengan mengutip Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13 berikut:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”
Sebagaimana catatan al-Buthi, pada dasarnya seluruh nabi dan rasul membawa misi kemerdekaan dalam risalah kenabian mereka. Al-Buthi mendasari argumentasinya dengan beberapa ayat Al-Qur’an yang menunjukkan bahwa kaum para nabi terdahulu banyak diisi oleh kaum tertindas.
Seperti kata-kata Nabi Musa tentang kaumnya yang dijelaskan di surat al-A’raf ayat 137 berikut:
وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ
Artinya: “Kami wariskan kepada kaum yang selalu tertindas itu, bumi bagian timur dan bagian baratnya yang telah Kami berkahi. (Dengan demikian,) telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Kami hancurkan apapun yang telah dibuat Firaun dan kaumnya serta apapun yang telah mereka bangun.”
Sebelum itu, Nabi Musa telah memerdekakan mereka dari tirani Firaun dan kroni-kroninya sebagaimana dalam surat Ibrahim ayat 5 berikut:
وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اَنْ اَخْرِجْ قَوْمَكَ مِنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ەۙ وَذَكِّرْهُمْ بِاَيّٰىمِ اللّٰهِ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
Artinya: “Sungguh Kami benar-benar telah mengutus Musa dengan (membawa) tanda-tanda (kekuasaan) Kami (dan Kami perintahkan kepadanya), “Keluarkanlah kaummu dari berbagai kegelapan kepada cahaya (terang-benderang) dan ingatkanlah mereka tentang hari-hari Allah. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat penyabar lagi banyak bersyukur.”
Risalah kenabian tidak hanya tentang dakwah ketauhidan. Risalah kenabian juga membawa semangat kemerdekaan dari penghambaan kepada makhluk, tirani dan kezaliman pimpinan diktator, otoritas kekuasaan yang zalim dan penindasan terhadap orang-orang lemah. Sehingga seorang Nabi dan Rasul disebut sebagai orang yang membawa perubahan sosial terhadap satu kaum dan membawa tatanan sosial yang penuh keadilan. Wallahu a’lam.




Comments are closed.