Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Semau-maumu

Semau-maumu

semau-maumu
Semau-maumu
service

Selamat datang di zaman “semau-maumu”.

Penguasa rebutan kuasa atas perut bumi
Paguyuban masyarakat
ikut antre jatah tambang.
Rakyat di bawah ikut bersorak
selama ada bantuan dan subsidi.

Semua mau hidup “seenaknya sendiri”
menuruti nafsu, tapi lupa bahwa
semua pilihan pasti ada akibatnya.

Hutan habis, sungai menghitam, udara jadi racun,
tapi kita masih bisa bercanda:
“Yang penting aku kebagian,
urusan alam belakangan.”

Manusia modern senang merasa hebat sendiri:
paling bebas, paling paham,
merasa tak butuh Tuhan, tradisi, nasihat.
Tapi di sisi lain, justru di situ letak kekonyolannya:
hidup di dunia yang fana,
terikat umur, terikat maut,
tapi berperilaku seolah dirinya pusat semesta.

Tapi siapa lah orang Maiyah kok sok mengingatkan,
kalau Tuhan saja tak didengarkan.
Kalau wahyu Tuhan saja diabaikan,
apa lagi ucapan manusia biasa seperti kita?

Kalau kamu tetap memaksa hidup seenaknya, silahkan.
Tapi jangan pura-pura terperanjat
kalau alam semesta marah.
Jangan pura-pura kaget
kalau nanti maut datang
dan semua ‘semau-maumu’ itu
harus kamu pertanggungjawabkan.

Mbah Nun sudah mengingatkan
lewat lagu Semau-maumu:

Kalau memang itu maumu
Mencari bahagia dengan menuruti nafsu
Terserah kamu…
Pandailah sendiri dan bodohlah sendiri

Kehidupan dan kematian
Keuntungan dan kerugian
Kau sendiri yang menentukan
Sesudah Tuhan

Ke utara atau ke selatan
Cahaya atau kegelapan
Kau sendiri yang mengambil keputusan

Buat apa kumengingatkan
Kalau Tuhan saja tiada engkau dengarkan
Silahkan jalan

Hebatlah sendiri dan konyollah sendiri
Kenikmatan dan kepuasan bukanlah pada khayalan
Tapi di dalam sehatnya akal pikiran

Mencari rahasia Tuhan
Sejatinya kebahagiaan
Memijakkan kaki di bumi kenyataan

Lampiaskanlah semau-maumu
Hanyutkanlah diri sesuka-sukamu
Telanlah api dunia sekenyangmu
Tapi jangan sesalkan akan cepat datang mautmu

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.