Mubadalah.id – Saat membaca Babad Tanah Jawi, sosok Ratu Kalinyamat tentu tak bakal kelewat dari halaman buku tebal itu. Namun, meski jumlahnya beratus-ratus halaman, nama Ratu Kalinyamat sedikit sekali penyebutannya.
Tentu, sebagai sesama penikmat bacaan-bacaan sejarah, publik akan segera sangsi: Mengapa narasi soal ratu agung dari Jepara itu begitu minim dalam literatur sejarah bangsanya sendiri?
Tak cuma minim, narasi soal Ratu Kalinyamat juga buruk. Penyusun Babad Tanah Jawi menyusun narasi-narasi penuh pengecilan terhadapnya. Misalnya saja, ia beroleh sebutan pendendam dan setengah gila.
Hal itu lantaran kelancangannya menuntut keadilan kepada Dewan Wali pasca suaminya tewas oleh sebuah pembunuhan. Alih-alih beroleh keadilan, ia justru hanya mendapat jawaban bahwa hal itu adalah takdir.
Sadar tuntutannya tak bersambut, Ratu Kalinyamat memprotes dengan cara lain. Ia bersumpah melakukan “tapa wuda” dengan menanggalkan seluruh pakaiannya dan mengurai rambut panjangnya.
Ia lantas mengasingkan diri di sebuah gunung dan menetap di sana selamanya. Ia tak menikah lagi dan setia dengan protes yang ia jalani. Meski semua tahu, tuntutannya tak pernah mewujud.
Kontradiksi dalam silang narasi
Sementara Babad Tanah Jawi lebih menghendaki bertutur soal Ratu Kalinyamat sebagai sosok perempuan subversif, Suma Oriental karya Tome Pires justru bercerita dengan narasi lain.
Sebagai sesama sumber sejarah tertulis, keduanya bertolak belakang. Ratu Kalinyamat dalam Suma Oriental justru tampil sebagai perempuan tangguh dan penguasa yang musuh-musuhnya segan.
Ia punya citra sebagai figur yang ahli strategi perang dan jagoan dalam diplomasi lintas wilayah. Kala Portugis menyerbu wilayah Aceh dan Malaka, Ratu Kalinyamat menyanggupi untuk membantu Malaka.
Ia mengirimkan armada perang, komplit beserta pasukan, logistik perbekalan, sekaligus amunisi senjata. Bantuan itu menunjukkan bagaimana reputasi armada laut Jepara di waktu itu.
Istimewanya lagi, sosok pemimpin perempuan di masa itu bukanlah suatu kelaziman. Meski tidak benar-benar satu-satunya raja perempuan, Ratu Kalinyamat punya prestise yang lebih mentereng.
Setidak-tidaknya, raja-raja lelaki yang di masa abad 15 dan 16 berkuasa menaruh hormat dan keseganan kepada Jepara. Artinya, Ratu Kalinyamat di masanya telah membuktikan bahwa keperempuanan bukanlah hambatan untuk memimpin.
Kartini sebelum Kartini
Keberanian, kegemilangan, dan keberhasilan menunjukkan kualitas diri seorang perempuan di tengah-tengah hegemoni maskulinitas yang Ratu Kalinyamat lakukan barangkali turut mengilhami gagasan emansipasi Kartini.
Apalagi, keduanya berasal dari wilayah tumbuh yang sama. Kartini lahir di Rembang, 21 April 1879, dari pasangan orang tua bangsawan dan ulama. Ayahnya seorang wedana, sementara ibunya putri seorang kiai.
Merangkak naiknya karier birokrasi sang ayah, Kartini lantas hijrah ke Jepara mengikuti ayahnya yang resmi menjabat sebagai Bupati Jepara. Di sanalah pergulatan emosi seorang Kartini muda bergejolak.
Ia sering mengikuti ayahnya meninjau masyarakat saat ada kejadian bencana atau peristiwa kriminal. Lewat aktivitas blusukan itu pula, ia bertemu dengan para perajin ukir yang didera kemiskinan.
Sejak saat itu, jiwa pemberontakan Kartini meletup-letup. Ia sangsi terhadap penindasan, ketidakadilan, juga praktik poligami. Namun, ia tak bisa berbuat banyak, sebab ayah yang ia cintai pun seorang pelaku poligami.
Namun, mewarisi nyala “Kartini sebelumnya”, Kartini tak gentar. Ia berkorespondensi dengan Stella Zeehandelaar di Belanda. Keduanya saling berkirim dan berbalas surat membahas seruan emansipasi.
Meski pada akhirnya harus tunduk pada kuasa adat di zamannya, Kartini telah menunjukkan kepada dunia bahwa sosok Ratu Kalinyamat telah menitis dalam dirinya. Ia melawan, melampaui sekat dan batasan, meski sejarah tak berpihak.
Ave Kartini! Halla ratu Kalinyamat! []





Comments are closed.