Fri,17 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Sempat Mengira hanya Sakit Perut setelah Melahirkan, Mantan Atlet Olimpiade Ini Ternyata Mengidap Kanker

Sempat Mengira hanya Sakit Perut setelah Melahirkan, Mantan Atlet Olimpiade Ini Ternyata Mengidap Kanker

sempat-mengira-hanya-sakit-perut-setelah-melahirkan,-mantan-atlet-olimpiade-ini-ternyata-mengidap-kanker
Sempat Mengira hanya Sakit Perut setelah Melahirkan, Mantan Atlet Olimpiade Ini Ternyata Mengidap Kanker
service

Jakarta

Mantan Atlet Olimpiade cabang biathlon, Emily Dreissigacker, mengalami sakit perut tak biasa usai melahirkan putranya pada November 2023. Saat itu, ia mengira sakit perut itu adalah kondisi normal yang dialami usai melahirkan, Bunda.

Namun, sakit perut tersebut berkembang menjadi keluhan yang tak biasa. Perut Emily sering terasa penuh, terjadi penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, hingga muntah tanpa mual.

“Saya melahirkan anak laki-laki pada November 2023. Keluhan yang pertama kali dirasakan adalah sakit perut, dan itu muncul sekitar empat minggu setelah melahirkan. Tentu saja, saat itu saya berpikir itu terkait postpartum,” ungkap Emily, dilansir laman The Patient Story.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Tim perawatan lalu memberi saya obat PPI (obat sakit perut), dan semua keluhan hilang. Saya pun berhenti minum obat. Namun, sekitar empat hingga enam minggu setelahnya, keluhan kembali muncul dan disertai rasa tidak nyaman lainnya.”

Emily lalu menjalani beberapa kali konsultasi dan tes medis. Ia bahkan melakukan endoskopi dan biopsi yang awalnya menunjukkan hasil negatif terhadap kanker.

“Tim perawatan menyarankan untuk melakukan pemeriksaan ke spesialis gastroenterologi. Saya menjalani endoskopi dan biopsi, semua hasilnya negatif. Mereka bilang, ‘kabar baiknya adalah kamu tidak memiliki kanker’. Mereka saat itu mendiagnosis anemia pernisiosa, atau ketidakmampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12,” ungkapnya.

“Saya pun mendapatkan suntik vitamin B12. Tapi, gejalanya tidak juga hilang,” sambungnya.

Emily tetap meyakini ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Bertekad untuk menemukan jawaban, Emily mencari pendapat kedua yang akhirnya mengarah pada diagnosis kanker lambung stadium 4. Emily didiagnosis kanker pada Juli 2024.

Cara Emily menjalani hidup usai diagnosis kanker

Alih-alih terpuruk karena kesedihan, Emily mengalihkan fokusnya pada apa yang bisa dikendalikan. Ia menjaga pola pikirnya tetap positif, menjaga kesehatan, dan banyak menghabiskan waktu dengan keluarga.

Meskipun diberitahu bahwa kankernya tidak dapat disembuhkan, Emily tetap berpegang pada harapan. Ia terus memperkuat sikap positif melalui afirmasi dan kepercayaan diri.

Tak hanya itu, olahraga juga tetap menjadi penopang utama Emily untuk bertahan. Berbekal latar belakang atletik, ia memasukkan aktivitas fisik ke dalam rutinitasnya. Emily rutin lari, bermain ski, angkat beban, dan bahkan jalan-jalan sederhana untuk membuatnya merasa seperti diri sendiri.

“Saya adalah atlet, saya pernah ikut kompetisi Olimpiade tahun 2018 di Pyeongchang. Jadi, latihan fisik selalu menjadi bagian dari hidup saya. Tujuannya sekarang berubah. Bila dulu saya berlatih untuk kompetisi, sekarang saya melakukannya untuk membantu perawatan dan membangun pola pikir positif,” ujarnya.

Emily juga menyalurkan energinya ke dalam proyek-proyek bermakna untuk keluarganya. Dia menulis surat-surat yang menyentuh hati untuk putranya dan menyusun buku resep untuk suaminya, memastikan kehadirannya tetap ada dalam kehidupan mereka.

“Berpikir bahwa saya tidak bisa hadir untuknya (sang putra) dan melihatnya tumbuh tentu saja sangat berat, terutama tiga sampai empat hari setelah menjalani kemoterapi dan saya harus memakai alat pumping selama 42 jam,” katanya.

“Saya tahu itu berat. Tapi saya mensyukuri semua hal baik yang terjadi di hidup saya. Saya pikir, saya sudah melakukan pekerjaan yang baik sebelumnya.”

Emily mengakui rasa takut akan masa depannya. Namun, ia menolak membiarkan hal itu mendefinisikan dirinya dalam menjalani kehidupan saat ini, Bunda.

Selama menjalani perawatan ini, Emily menganut pendekatan integratif terhadap kesehatan, di mana ia menggabungkan perawatan tradisional seperti kemoterapi dan imunoterapi dengan kebiasaan gaya hidup yang menyehatkan tubuh dan jiwanya.

Demikian kisah Emily yang didiagnosis kanker stadium 4 setelah melahirkan anak pertamanya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.