Bincangperempuan.com- Perempuan ketika sudah berusia menuju 30, ekspektasi orang pasti harus menikah dan punya anak. Jika mereka memutuskan selibat bukan dalam artian mengabdikan diri kepada Tuhan seperti biarawati, maka akan dianggap aneh. Begitu pula perempuan childfree dianggap aneh dan tidak normal.
Di sini konsep insting maternal (maternal instinct) yang menjadi dasar ekspektasi masyarakat terhadap perempuan. Konsep ini mengasumsikan bahwa perempuan memiliki kemampuan instingtif untuk merawat, menyusui, dan membesarkan anak tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Seolah-olah, sekadar memiliki rahim secara otomatis membuat perempuan ahli dalam hal pengasuhan.
Ekspektasi ini berakar sangat kuat dan tersistematis, terutama dalam budaya kita di Indonesia. Perempuan yang menunda atau menolak peran keibuan dianggap sebagai entitas yang cacat, seolah nilai (value) eksistensial seorang perempuan hanya diukur dari sejauh mana kapasitas reproduksinya bisa dimanfaatkan. Padahal, jika kita berani membedah dogma ini secara kritis menggunakan kacamata sains, neurobiologi, dan psikologi modern, tidak semua perempuan memiliki insting keibuan tersebut.
Baca juga: Mengapa Pilihan Perempuan Sering Kali Bukan Miliknya?
Apa Itu Insting Maternal?
Lantas apa yang sebenarnya dimaksud dengan insting maternal? Melansir dari Healthline, Dr. Catherine Monk–psikolog dan profesor psikologi, menjelaskan bahwa kata “insting” merujuk pada sesuatu yang bawaan, alami, dan melibatkan respons perilaku tetap terhadap stimulus tertentu. Pada konteks konsep maternal, ini menyiratkan bahwa perempuan secara otomatis memiliki pengetahuan dan perilaku pengasuhan sejak lahir.
Namun, Dr. Monk dengan tegas membantah gagasan tersebut. Ia menyatakan bahwa narasi insting telah didramatisasi dan dilebih-lebihkan secara fatal oleh masyarakat. Dalam realitas objektifnya, menjadi orang tua—baik itu ibu maupun ayah—sepenuhnya adalah proses learning on the job (belajar langsung di lapangan). Banyak orang mengira bahwa begitu bayi lahir, perasaan kasih sayang ibu akan muncul secara instan karena “insting maternal”.
Padahal, sebuah studi tahun 2018 menunjukkan bahwa perasaan kasih sayang tersebut baru berkembang beberapa hari setelah kelahiran, dan sebagian perempuan bahkan butuh waktu hingga beberapa bulan. Sebagian besar ibu baru justru merasa kelelahan, hampa, atau bahkan merasa asing dengan bayinya sendiri. Ikatan emosional tersebut adalah sesuatu yang harus dibangun dan baru perlahan berkembang setelah beberapa hari, berminggu-minggu, bahkan butuh waktu berbulan-bulan pasca-kelahiran.
Apakah Insting Maternal Hanya Mitos?
Ya, menurut Dr. Catherine Monk, konsep insting maternal sebagian besar adalah mitos. Pengecualiannya adalah “sense keen” atau kepekaan orang tua terhadap kebutuhan spesifik anak mereka. Namun, kepekaan ini bukanlah bawaan sejak lahir. Kepekaan ini adalah hasil dedikasi murni dari kedekatan yang intens, rutinitas yang diulang-ulang, dan kuantitas waktu yang dihabiskan secara konsisten bersama anak. Dan kemampuan sense keen ini sama sekali tidak eksklusif milik ibu biologis saja. Ayah kandung, orang tua asuh, paman, kakek-nenek, atau pengasuh profesional pun memiliki kapasitas biologis yang sama untuk mengembangkannya.
Masih menyadur dari Healthline, Psikoterapis Dana Dorfman, PhD, menambahkan bahwa banyak aspek pengasuhan anak dipelajari melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Menyusui, mengganti popok, atau memberi makan bukanlah kemampuan biologis bawaan. Saat orang tua terhubung dengan bayi, otak mereka mengalami perubahan kimia (peningkatan oksitosin, serotonin, dan dopamin). Perubahan ini terjadi tidak hanya pada ibu melahirkan, tetapi juga pada ayah dan orang tua asuh melalui aktivitas bonding.
Sering kali masyarakat menggunakan argumen hormonal untuk menyudutkan perempuan. Dorfman menjelaskan fakta ilmiah bahwa ketika orang tua—siapa pun kelaminnya—terhubung, melakukan kontak kulit (skin-to-skin), dan berinteraksi secara fisik dengan bayi, otak mereka mengalami perubahan kimiawi yang radikal. Peningkatan hormon ikatan cinta (oksitosin), hormon kebahagiaan (serotonin), dan hormon kepuasan (dopamin) ini terjadi juga pada laki-laki (ayah) dan orang tua asuh yang tidak melahirkan. Ini adalah bukti kuat bahwa insting maternal itu bukan kodrat tapi hasil dari proses belajar dan berhubungan dengan anak atau bayi.
Baca juga: Mengenal Sexy Lamp Theory, Ketika Karakter Perempuan Bisa Diganti Benda Mati
Membongkar Agenda Patriarki: Otoritas Mutlak Atas Tubuh Perempuan
Jika insting maternal secara objektif adalah konstruksi sosial dan mitos yang merugikan, lalu mengapa narasi bohong ini terus menerus dipelihara dan dipertahankan mati-matian oleh masyarakat? Konsep maternal insting berakar dari pandangan historis yang secara inheren misoginis, di mana eksistensi perempuan direduksi hanya sebatas wadah reproduksi, inkubator biologis berjalan, dan pemasok tenaga perawatan gratis (unpaid care labor).
Jika perempuan diyakini masyarakat sebagai pihak yang “secara alami paling jago mengurus anak”, maka dianggap sangat wajar dan lumrah jika perempuan dipaksa mengorbankan karier profesionalnya, ambisi pendidikannya, dan kemerdekaan finansialnya demi mengurus keluarga. Di sisi lain, narasi ini memberikan “surat izin bebas tugas” bagi kaum laki-laki. Patriarki memvalidasi para ayah untuk bersikap pasif, tidak kompeten, dan lepas tangan dari pengasuhan dengan berlindung di balik alasan, “Saya kan laki-laki, saya tidak diciptakan dengan insting keibuan.”
Ekspektasi bias gender ini merugikan semua pihak, membebani perempuan dengan standar yang tidak mungkin dicapai, sekaligus mengebiri hak anak untuk mendapatkan keterlibatan penuh dari sosok ayah. Pengasuhan anak adalah perilaku komprehensif yang dipelajari bersama. Tidak ada satu cetak biru tunggal untuk menjadi “ibu yang baik”. Setiap perempuan membawa trauma, pengalaman hidup, kapasitas finansial, dan cara penyelesaian emosi yang berbeda-beda.
Sudah saatnya kita menghentikan omong kosong yang menggunakan pseudosains dan dogma mitos untuk mendikte kehidupan, tubuh, dan masa depan perempuan. Perempuan bukanlah properti masyarakat, dan rahim mereka bukanlah aset negara. Jika seorang perempuan memutuskan bahwa puncak kebahagiaan dan aktualisasi dirinya berada pada eksplorasi karier tingkat tinggi, advokasi kemasyarakatan, berkeliling dunia, atau sekadar memilih hidup tenang secara selibat dan childfree, itu adalah hak prerogatifnya yang absolut. Ketiadaan anak biologis tidak pernah mengurangi identitas kemanusiaan seorang perempuan.
Referensi:
- Lindberg, S. (2020, April 23). Maternal instinct: Does it really exist? Healthline. https://www.healthline.com/health/parenting/maternal-instinct#managing-expectations
- Røseth, I., Bongaardt, R., Lyberg, A., Sommerseth, E., & Dahl, B. (2018). New mothers’ struggles to love their child. An interpretative synthesis of qualitative studies. International Journal of Qualitative Studies on Health and Well-being, 13(1), Article 1490621. https://doi.org/10.1080/17482631.2018.1490621





Comments are closed.