Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan, disebut sebagai kandidat kuat untuk posisi Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Namun, dia memiliki 11 rival lain, seorang di antaranya adalah Jeremy Farrar dari Inggris.
Perbincangan calon direktur jenderal WHO ini mulai kencang menjelang berakhirnya mandat Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Agustus 2027. Health Policy Watch menggambarkan manuver politik penuh intrik untuk menentukan posisi itu makin intensif.
Lobi-lobi terjadi di gedung-gedung pemerintahan Jenewa dan ibu kota-ibu kota di seluruh dunia. Pengumuman resmi nominasi diperkirakan dilakukan pada April 2026 ini.
Sebagai mantan Direktur Wellcome Trust, Farrar mengelola portofolio riset global yang sangat besar dengan rekam jejak tata kelola keuangan yang kuat.
Sebagai warga negara Inggris yang lahir di Singapura dan dibesarkan di Selandia Baru, Siprus, dan Libya, pengalaman pelatihan dan penelitiannya mencakup Asia dan Eropa, serta belahan bumi Utara dan Selatan.
Rekam jejak penelitiannya sangat patut dihormati. Pada tahun 2004, ia dan rekannya dari Vietnam, Tran Tinh Hien, mengidentifikasi kemunculan kembali flu burung yang mematikan, atau H5N1, pada manusia.
Meskipun demikian, Farrar menghadapi tantangan signifikan sebagai anggota tim kepemimpinan senior Tedros. Sebab, ia terkait dengan rekam jejak Tedros.
Selain itu, Farrar menjadi sasaran berbagai serangan dari pendukung teori kebocoran laboratorium SARS-CoV2. Penyokong teori ini tidak menyukai pendirian Farrar yang mendukung teori asal usul alami virus itu.
Perdebatan teori ini penuh gejolak itu dan belum terselesaikan. Banyak ilmuwan terkemuka yang berpihak pada kedua sisi. Saat ini, iklim politik pemerintahan AS bersikap hostile terhadap WHO.
Kedekatan Farrar dengan posisi-posisi awal ini dianggap sebagai kemungkinan “pemutus kesepakatan” bagi Washington. Hal ini berpotensi mengasingkan donor yang sangat ingin dirayu kembali oleh WHO.





Comments are closed.