Sun,23 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Solidaritas kampus dan desakan penegakan hukum menguat pascabencana di Sumatera

Solidaritas kampus dan desakan penegakan hukum menguat pascabencana di Sumatera

solidaritas-kampus-dan-desakan-penegakan-hukum-menguat-pascabencana-di-sumatera
Solidaritas kampus dan desakan penegakan hukum menguat pascabencana di Sumatera
service
MRPTNI–USU salurkan bantuan dan dukungan pendidikan bagi korban di Aceh Tamiang, Sumatera WALHI
MRPTNI–USU salurkan bantuan dan dukungan pendidikan bagi korban di Aceh Tamiang, Sumatera. (USU)

Upaya pemulihan pascabencana di Sumatera Utara dan Aceh terus menguat, tidak hanya melalui bantuan kemanusiaan, tetapi juga dorongan penegakan hukum lingkungan secara berkelanjutan.

Di kawasan Aceh Tamiang dan sekitarnya, Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) bersama Universitas Sumatera Utara (USU) menyerahkan bantuan bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor, Kamis (29/1/2026) hingga Jumat (30/1/2026). Kunjungan tersebut dipimpin Ketua MRPTNI Prof Eduart Wolok dan Sekretaris Jenderal MRPTNI yang juga Rektor USU Muryanto Amin bersama rektor dari 14 perguruan tinggi negeri lainnya.

Pada hari pertama, bantuan diserahkan kepada korban banjir di Kantor Camat Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, dan dilanjutkan ke RSUD Aceh Tamiang. Di lokasi ini, turut diresmikan sumur bor yang difasilitasi USU untuk membantu penyediaan air bersih bagi warga terdampak.

USU menyerahkan sembilan unit sumur bor dan dua alat penyulingan air yang ditempatkan di beberapa titik di Aceh Tamiang. Selain itu, bantuan dari perguruan tinggi anggota MRPTNI juga disalurkan dalam kesempatan yang sama.

“Setelah ini, kami akan terus memberikan bantuan teknis dalam berbagai bentuk untuk penanganan pasca bencana. Baik program pendidikan bagi anak-anak di Aceh, maupun kegiatan pengabdian masyarakat yang akan difokuskan untuk rehabilitasi kawasan terdampak,” ujar Muryanto.

MRPTNI juga membentuk Konsorsium Nasional Perguruan Tinggi untuk Ketahanan Bencana Alam yang diketuai Rektor USU. Para rektor bahkan bersepakat membuka jalur seleksi khusus bagi anak-anak dari kawasan terdampak agar akses pendidikan tinggi tetap terjaga.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan ke Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, dengan penyerahan perlengkapan sekolah, perlengkapan ibadah, serta kebutuhan pokok. Kunjungan ditutup dengan peninjauan fasilitas penyaring air bersih bantuan ITS di Meunasah Reuleut Timur dan ramah tamah bersama civitas akademika Universitas Malikussaleh.

Sementara itu di Medan, penguatan aspek pencegahan dan penegakan hukum lingkungan juga menjadi sorotan. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Utara menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Penegakan Hukum Berkelanjutan terhadap Kejahatan Lingkungan dan Perdagangan Satwa Pasca Bencana di Ekosistem Batang Toru di Hotel Grandhika Setiabudi, Kamis (12/2/2026).

FGD ini merupakan respons atas banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 di kawasan Ekosistem Batang Toru. Kawasan hutan hujan tropis yang membentang di Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah tersebut memiliki fungsi strategis sebagai daerah tangkapan air dan habitat satwa dilindungi, termasuk orangutan Tapanuli yang berstatus terancam punah.

Manager Advokasi dan Kampanye WALHI Sumut Jaka Kelana Damanik menegaskan, bahwa bencana ekologis tidak bisa dilepaskan dari tekanan terhadap hutan seperti deforestasi, perambahan, pembalakan liar, dan alih fungsi lahan.

“Bencana banjir dan longsor yang terjadi akhir November lalu harus menjadi alarm keras bagi semua pihak. Ini bukan sekadar peristiwa alam, tetapi ada konteks kerusakan lingkungan yang harus ditelusuri dan ditindaklanjuti secara hukum,” ujarnya.

FGD tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Kejaksaan, DLHK Sumut, Polda Sumut, BKSDA, Gakkum KLHK, pemerintah kabupaten di Tapanuli Raya, organisasi lingkungan, serta akademisi. Diskusi membahas efektivitas pengawasan pasca pencabutan izin, koordinasi aparat penegak hukum, penguatan patroli kawasan, hingga strategi pencegahan perdagangan satwa liar.

WALHI Sumut menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh berhenti pada sanksi administratif, melainkan harus mencakup proses pidana, perdata, serta pemulihan lingkungan secara konsisten dan transparan.

Dua pendekatan tersebut—bantuan kemanusiaan dan penguatan penegakan hukum—menunjukkan bahwa penanganan bencana di Sumatera tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pada pemulihan jangka panjang dan pencegahan kerusakan lingkungan agar bencana serupa tidak terus berulang.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.