Sun,9 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Suara Ibu Indonesia Desak Moratorium MBG karena Tak Sesuai dengan Standar Kelayakan Pangan

Suara Ibu Indonesia Desak Moratorium MBG karena Tak Sesuai dengan Standar Kelayakan Pangan

suara-ibu-indonesia-desak-moratorium-mbg-karena-tak-sesuai-dengan-standar-kelayakan-pangan
Suara Ibu Indonesia Desak Moratorium MBG karena Tak Sesuai dengan Standar Kelayakan Pangan
service

Jakarta, NU Online

Suara Ibu Indonesia (SII) mendesak pemerintah segera menghentikan sementara (moratorium) pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program ini dinilai tidak sesuai dengan standar keamanan dan kelayakan pangan, serta menimbulkan banyak persoalan, mulai dari kasus keracunan massal, mobilisasi produksi pangan tanpa pengawasan, hingga minimnya akuntabilitas pelaksana.

Desakan tersebut disampaikan dalam diskusi daring bertajuk Bincang CarutMarut MBG: Keracunan Massal, Keterlibatan Militer, Hingga Bias Gender melalui Space X, pada Rabu (22/10/2025).

Perwakilan Suara Ibu Indonesia, Ika Ardina, menyoroti lemahnya mekanisme pertanggungjawaban dalam program tersebut. Hingga kini, menurutnya, para korban keracunan tidak mengetahui kepada siapa harus menuntut keadilan atau kompensasi.

“Melihat kekacauan ini, kami menuntut agar proyek MBG dihentikan dan dikembalikan ke program yang benar. Harus ada audit total, evaluasi menyeluruh, serta keterlibatan ahli gizi agar program ini tepat sasaran dan aman bagi anak-anak,” tegas Ika.

“Jadi, kami menuntut agar MBG ini dihentikan sementara (moratorium) untuk kemudian dilakukan secara lebih baik lagi,” imbuhnya.

Ika juga memaparkan bahwa pelaksanaan MBG yang tergesa-gesa menunjukkan program tersebut lebih berorientasi pada kuantitas daripada kualitas.

“Para pengambil keputusan seolah melihat MBG sebagai proyek yang harus cepat mencapai target jumlah, bukan memastikan mutu dan keamanan makanan,” ujarnya.

“Banyak dapur baru dibangun demi memenuhi ribuan porsi dalam waktu singkat tanpa memenuhi standar kelayakan pangan, yang berujung pada kasus keracunan anak di berbagai daerah,” tambahnya.

Mewakili SII, Ika menuntut keterbukaan hasil investigasi kasus-kasus MBG. Dalam audiensi dengan pihak Badan Gizi Nasional (BGN), mereka telah menyerahkan laporan hasil laboratorium dan data lapangan untuk dijadikan bahan evaluasi. Namun, mereka menilai hingga kini belum ada langkah konkret dari pihak pemerintah.

Ika menegaskan bahwa penolakan SII bukan bentuk antipati terhadap pemenuhan gizi anak-anak, melainkan kritik terhadap cara pelaksanaan program yang dinilai terburu-buru dan tidak transparan. Ia juga mengingatkan bahwa pemenuhan gizi adalah mandat konstitusi, bukan sekadar janji politik.

“Negara memang berkewajiban menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa. Tetapi, caranya harus melalui kajian mendalam, bukan proyek jangka pendek,” katanya.

Lebih lanjut, Ika menyarankan jika pemerintah sungguh ingin melanjutkan program MBG, pelaksanaannya perlu diarahkan ke daerah yang memang membutuhkan, khususnya di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) atau kawasan kumuh perkotaan.

Sementara itu, Rose Marry, Relawan Komunitas Anak Bumi Dwipantara, menambahkan bahwa kekhawatiran masyarakat semakin besar seiring bertambahnya kasus di lapangan, salah satunya di Yogyakarta (Jogja).

“Di Jogja sendiri, ada beberapa sekolah yang menolak menerima MBG karena mereka tidak berani mengambil risiko jika terjadi sesuatu,” ungkap Rose.

“Harapannya, jika ada ruang dialog, termasuk melibatkan anak-anak, mungkin itu juga mendorong mereka untuk berpartisipasi agar proses atau mekanisme MBG ini lebih aman, kemudian lebih nyaman, dan tidak menimbulkan trauma bagi anak-anak yang mendapatkan MBG,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.