KABARBURSA.COM — Ambisi pengembangan energi terbarukan di Indonesia dinilai masih tertahan. Di tengah dorongan transisi energi, pelaku industri justru melihat laju pengembangannya belum benar-benar melesat.
Hal ini tercermin dari survei terbaru Petromindo Survey yang mengangkat pandangan pelaku industri energi terhadap perkembangan energi terbarukan di Tanah Air. Survei tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari produsen listrik swasta, penyedia teknologi, investor, hingga pengguna industri.
Hasilnya menunjukkan mayoritas responden menilai pengembangan energi terbarukan memang berjalan, tetapi belum mengalami percepatan berarti. Peneliti Petromindo Survey, Muna Suhailah, mengatakan sebagian besar pelaku industri melihat ada stagnasi dalam implementasi di lapangan.
“Temuan ini menunjukkan bahwa 56,8 persen responden menilai pengembangan energi terbarukan di Indonesia memang mengalami kemajuan, tetapi masih relatif stagnan, yang menunjukkan bahwa momentum yang ada belum mampu diterjemahkan menjadi implementasi dalam skala besar,” ujarnya dikutip dari Ecobiz Asia, Sabtu, 2 Mei 2026.
Survei ini dilakukan dalam rentang waktu 11 Februari hingga 26 Maret 2026 dengan mayoritas responden berasal dari kalangan profesional berusia 26 hingga 35 tahun. Sebagian besar bekerja di sektor penyedia teknologi dan EPC, serta terlibat tidak langsung dalam proyek energi terbarukan.
Di sisi lain, ada jarak yang cukup lebar antara harapan industri dengan kondisi aktual. Energi terbarukan dinilai sangat penting bagi masa depan bauran energi nasional dengan skor 4,74 dari 5. Namun, kerangka regulasi justru mendapat penilaian lebih rendah, hanya 3,33.
Kondisi ini mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha terhadap daya tarik investasi yang belum optimal. Regulasi yang belum pasti serta proses perizinan yang panjang masih menjadi hambatan utama dalam pengembangan proyek.
Selain itu, persoalan pendanaan juga menjadi tantangan serius. Tingginya risiko proyek serta ketidakpastian dalam perjanjian jual beli listrik membuat banyak proyek sulit mencapai kelayakan finansial.
Masalah ini tidak hanya dirasakan oleh pengembang dan investor, tetapi juga oleh pengguna industri, menunjukkan bahwa hambatan tersebut bersifat menyeluruh di dalam ekosistem energi.
Meski demikian, pelaku industri sebenarnya sudah memiliki pandangan yang relatif seragam terkait solusi yang dibutuhkan. Kejelasan regulasi, konsistensi kebijakan, serta penyederhanaan proses perizinan dinilai menjadi langkah paling mendesak untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan.
Dari sisi teknologi, tenaga surya dan panas bumi disebut sebagai sumber energi paling menjanjikan untuk dikembangkan dalam skala besar. Tenaga surya dinilai unggul karena biaya yang lebih rendah dan proses instalasi yang cepat, sementara panas bumi dianggap mampu menjadi sumber energi dasar yang stabil dalam jangka panjang.
Secara umum, optimisme terhadap masa depan energi terbarukan di Indonesia masih terjaga, meski dibarengi dengan kehati-hatian. Pelaku industri tetap percaya target net zero emission pada 2060 bisa tercapai, namun membutuhkan perbaikan kebijakan yang lebih konkret.
Survei ini menunjukkan bahwa ambisi energi terbarukan Indonesia sudah diakui, tetapi tanpa perbaikan regulasi dan eksekusi kebijakan, percepatan investasi dan transisi energi berpotensi terus tertahan.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.