Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Tani Alit, Inisiasi Perempuan di Ibu Kota Atasi Krisis Iklim

Tani Alit, Inisiasi Perempuan di Ibu Kota Atasi Krisis Iklim

tani-alit,-inisiasi-perempuan-di-ibu-kota-atasi-krisis-iklim
Tani Alit, Inisiasi Perempuan di Ibu Kota Atasi Krisis Iklim
service

Tak ada sinar matahari pagi itu. Cuaca mendung berkabut dan rintik hujan yang kian deras pun bersambut. Angin kencang menggoyang-goyang deret tanaman yang ditanam di pelataran rumah.

Sophie tampak bolak-balik memindahkan alat-alat mengomposnya supaya tidak basah terkena air hujan. Dia juga mulai menyiapkan ember-ember berwarna putih yang ia gunakan untuk mengambil sampah dapur sebagai bahan kompos. Dia mengambilnya dari warung sunda yang berjarak sekitar 2 km dari rumahnya. 

Di tengah rintik hujan yang masih mengguyur, Ia memacu motor listrik roda tiganya. Menembus kabut putih, yang nyaris susah dibedakan antara bagian dari mendung hujan atau polusi udara Jakarta. Karena itulah, Sophie hampir selalu menggunakan masker jika pergi ke luar. 

Di perkotaan seperti Jakarta, Sophie merasakan dampak krisis lingkungan memang nyata. Tidak hanya berdampak pada kesehatan sesak napas karena polusi. Tapi juga dampak lingkungan, seperti cuaca yang tak pasti hingga rusaknya ekosistem termasuk untuk lahan pertanian. 

Menurutnya, hal itu terjadi karena akumulasi sikap acuh dan pengabaian. Baik dalam skala industri besar kapitalistis yang memproduksi limbah kimia dan menyebabkan penyempitan lahan pertanian, sampai skala terkecil di ranah aktivitas individu sehari-hari.  

“Sayangnya berdampak ke krisis lingkungan. Hanya karena kita ignore (abai),” kata Sophie ketika berbincang dengan Konde.co ketika ditemui di kediamannya di Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (11/9). 

Baca juga: Padi Jadi Jagung, Cara Masyarakat Adat Kaluppini Bertahan dalam Perubahan Iklim

Sophie sambil terus memacu motor listriknya menuju warung tempatnya mengambil bahan kompos.  Sesampainya di sana, Ia menimbang sisa sayur mayur dan cangkang telur yang sudah dipilah pedagang warung. Pengambilan bahan kompos itu, Sophie lakukan setidaknya dua hari sekali. Belasan kg bisa didapat tiap pengambilan itu, yang dibeli Sophie dengan Rp 500 per kg. 

Sophie menimbang sisa sayur-mayur dari warung untuk bahan kompos. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Saat mengambil bahan kompos dari pedagang warung itu, Sophie juga tampak mengedukasi soal cara pemilahan bahan kompos. Dimana ember yang khusus untuk sisa potongan sayur mayur hijau. Dimana ember untuk cangkang telur. Semuanya itu tak boleh tercampur dengan sisa makanan matang, yang beda proses pembusukannya ketika di kompos. 

Sudah setengah tahun lebih, Sophie mengambil bahan kompos dari pedagang warung sekitar rumahnya. Setelah sebelumnya, dia mengolah dari bahan kompos dari sampah dapur dan pekarangannya sendiri. “Sampah dari dapur (sendiri) tidak cukup, makanya kerja sama dengan warung,” imbuhnya. 

Boks berisi pupuk organik vermicomposting. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.
Inisiasi Tani Alit

Perjalanan Tani Alit yang diinisiasi Sophie, bermula sejak pandemi tahun 2020. Sophie yang punya latar belakang hampir dua puluh tahun bekerja sebagai konsultan pemasaran produk, berpindah haluan. Sebelum menekuni dunia pertanian dan pengomposan, dia sempat bekerja di lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada isu lingkungan. 

Hingga suatu kecelakaan kerja yang dialami Sophie jadi titik balik yang mengubah hidupnya. Dia mempertanyakan perjalanan hidupnya dari orang yang jadi pendorong orang bergaya hidup konsumtif, lalu insaf menjadi orang yang lebih sadar lingkungan, sampai mempertanyakan hidupnya: Apakah sudah berkontribusi nyata buat lingkungan? 

“Aku jadi konsultan bagi NGO lingkungan, dan aku tidak menghasilkan apapun untuk lingkungan? Aku merasa saat itu sudah melakukan sesuatu untuk lingkungan dengan menjadi konsultan bagi mereka, tapi gak mempraktikan. Cukup konkret gak sih?” Sophie mengenang kegelisahan yang muncul kala itu.

Depan rumah Sophie yang menjadi pekarangan untuk pertanian. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co

Hingga akhirnya, dia belajar secara mandiri soal pertanian. Dia mulai mengulik seputar organik dan anorganik. Dalam perenungan dan penggaliannya soal kontribusi lingkungan yang Ia lakukan, dia tercetuskan untuk tak hanya berkebun di rumah tapi juga mengompos. 

Sophie bersiap untuk melakukan vermicomposting. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Di situlah, Sophie juga belajar seputar cacing yang digunakan untuk mengompos. Ironisnya, dia tak banyak menemukan referensi soal kamus cacing ini di dalam negeri, dia justru banyak menemukan sumbernya dari luar negeri. Tepatnya, jurnal dari Inggris seputar cacing. 

Baca juga: Sudah Lansia dan Tak Bisa Ke Sawah, Perempuan Petani Tanam Rumput di Rumah

Salah satu yang menariknya adalah pengalaman menemukan pengetahuan seputar cacing Eudrilus Eugeniae, yang menyelamatkan lingkungan. Cacing ini banyak ditemukan justru di sekitaran septik tank yang memakan bakteri E Colli dan Salmonela. Cacing ini ternyata menyuburkan tanaman. 

“Ini gak boleh tau sendiri nih aku, makanya terbentuklah Tani Alit,” kata Sophie.  

Ia mengatakan, Tani Alit sebagai inisiasi aksi iklim melalui pertanian regeneratif yang berkelanjutan. Tak hanya berkebun di pekarangan rumah, tapi juga mengompos untuk memperbaiki struktur tanah utamanya di perkotaan. 

Pertanian regeneratif ini menggunakan metode tanam yang melindungi tanah. Pertanian yang berkelanjutan ini termasuk pendekatan yang mengurangi bahaya, sebuah perjalanan awal menuju pembentukan sistem keseluruhan yang meningkatkan kekayaan alam. 

Laporan terbaru PBB tentang keanekaragaman hayati menemukan, kegagalan negara untuk menghentikan perusakan lingkungan tidak cukup dengan menekan dampak negatif yang dihasilkan tanah. Tapi, kita mesti mendesain ulang sistem kebun yang meningkatkan kualitas keanekaragaman hayati dan menjaga karbon di tanah. 

Sophie menceritakan pengalamannya dan muasal berdirinya Tani Alit. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Sophie menerangkan di papan tulisnya, pentingnya untuk menerapkan konsep pertanian yang regeneratif ini. Perbaikan struktur tanah di perkotaan, salah satunya dengan vermicomposting yang dilakukannya, bisa menggemburkan tanah. Alhasil, apapun yang ditanam bakal tumbuh karena tanahnya sehat. 

“Aku pernah nanam kangkung itu bukan cuma lebat tanamannya, tapi sampai menghasilkan benih-benih karena saking suburnya,” kata Sophie yang kali pertama berhasil menemukan formula pertanian regeneratif dengan pengomposan vermicomposting.

Baca juga: ‘Seribu Bayang Purnama’: Ajak Petani Muda Terapkan Metode Alami, Tapi Perempuan Petani Minim Disorot

Sebaliknya, saat struktur tanahnya tidak sehat karena tidak adanya mikroorganisme di dalam tanah yang menggemburkan tanah misalnya karena sering disemprot pestisida. Maka tanaman yang tumbuh pun, akarnya akan dangkal. Dia tidak bisa tumbuh subur. 

Bak bambu yang berisi media tanam hasil pengomposan yang sudah mulai didatangi mikroorganisme kelabang. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Namun Sophie melihat, seringnya orang sebatas bicara soal komoditas pertanian, tapi minim bicara soal perbaikan struktur tanah. Padahal, di situlah persoalan yang seringkali ditemui di perkotaan: tanah yang tak bisa ditanami. 

Bukan saja ketersediaan lahan yang kian sempit oleh masifnya pembangunan, tapi juga karena menurunnya kualitas tanah. Ini bisa disebabkan karena pencemaran limbah industri, pestisida, hingga berimbas pada minimnya kandungan unsur hara yang penting untuk pertumbuhan tanaman. 

Inisiatif pertanian regeneratif yang memperbaiki struktur tanah yang dilakukan Sophie ini, seperti ‘jalan sunyi’. Banyak kaum urban yang ditemuinya masih awam.  

“Ternyata ngomongin perbaikan struktur tanah itu di kalangan kaum urban kayak beyond their imagination. Kebanyakan, udah di pot aja, polibag aja,” katanya. 

Baca juga: Pengalamanku Belajar dari Perempuan Petani: Kerja Keras, Memastikan Persediaan Pangan

Hal itulah yang mendorong Sophie, perempuan yang berkebun di area perkotaan Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk terus mengompos sampai kini. Tani Alit melakukan perbaikan struktur tanah dengan menggunakan metode vermikompos, yang produknya pupuk organik hasil penguraian bahan organik oleh cacing tanah dan mikroorganisme dalam pengomposan. 

Luwing yang membantu menggemburkan tanah yang dikompos. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Proses ini mengubah sisa-sisa sampah organik seperti sayur mayur dari sampah dapur dan halaman menjadi humus yang kaya nutrisi untuk tanaman. Ini tanpa menggunakan panas tinggi seperti halnya pengomposan tradisional. 

Edukasi Vermicomposting dan Berjejaring

Di rumah yang Ia sewa, Sophie melakukan proses pengomposan cacing. Dia melakukan semua prosesnya dari awal pencarian cacing, lalu “training” cacing supaya bisa beradaptasi untuk pengomposan, hingga mengolahnya jadi pupuk organik siap pakai. 

Jika pekarangan rumah Ia tanami aneka tanaman sayur dan buah, samping rumahnya ada ruangan sekitar 3 kali 5 meter yang digunakan untuk membudidayakan cacing untuk pengomposan. Prosesnya tak mudah, sebab cacing yang tak bisa beradaptasi akan mati atau turun dari wadah dan “melarikan diri”. Namun bagi cacing dan bertahan dan berkembang biak, dia siap diolah dalam proses pengomposan. 

Waste4change menjelaskan proses dasar vermicomposting cukup sederhana. Sampah organik, seperti kulit buah, sisa sayur, hingga kertas bekas, dikonsumsi oleh cacing tanah untuk diproses dalam tubuh dan diekskresikan menjadi suatu materi bernama casting. Casting inilah yang dijadikan sebagai pupuk kompos yang mengandung nutrisi penting, seperti magnesium, fosfor dan potasium, untuk pertumbuhan tanaman.

Proses tersebut menerapkan proses dasar penguraian, dimana suatu organisme dekomposer mengubah material organik menjadi material non-organik.

Perbedaannya, organisme dekomposer yang digunakan, yaitu cacing tanah, tidak menghasilkan byproduct metana saat melalui proses penguraian aerobik, sehingga teknik ini mengurangi produksi gas rumah kaca. 

Selain itu, cacing tanah menghasilkan kompos bernutrisi dari proses penguraian tersebut, sehingga vermicomposting dapat benar-benar mengembalikan unsur organik dalam sampah menjadi unsur hara dalam tanah untuk pertumbuhan tanaman.

Baca juga: Peringatan Hari Pangan, Sudahkah Hak Atas Pangan Masyarakat Terpenuhi?

Ada dua jenis cacing tanah yang penting untuk diperhatikan dalam proses vermicomposting, yaitu cacing tanah yang menggali dan yang tidak. Jenis cacing tanah yang tidak menggali adalah jenis yang paling efektif dalam mengurai dan menghasilkan casting karena mereka cenderung mengonsumsi material organik di permukaan daripada mengonsumsi tanah.

Sebaliknya, jenis cacing tanah yang menggali lebih sering berada di dalam tanah sehingga lebih cenderung mengonsumsi tanah dibandingkan material organik di permukaan. Eisenia foetida dan Eisenia eugeniae adalah spesies cacing tanah merah yang diketahui efisien dalam menghasilkan kompos (Zafar dari Bio Energy Consult, 2018).

Nutrisi yang terkandung dalam kompos yang dihasilkan bergantung pada jenis sampah organik yang diproses dan jenis cacing tanah yang memproses.

Pattnaik dan Reddy (2010) dari jurnal Applied and Environmental Soil Science menemukan bahwa cacing tanah spesies Eisenia eugeniae menghasilkan kompos dengan kandungan nitrogen, pospor, potasium dan magnesium lebih banyak dibandingkan species Eisenia foetida. Selanjutnya, perbandingan kandungan C/N dalam kompos juga penting untuk diperhatikan karena mempengaruhi ketersediaan nutrisi dalam kompos untuk tanaman. Kedua spesies cacing tanah yang dibahas dapat menghasilkan kompos dengan perbandingan C/N yang ideal, yaitu 20:1.

Saat ini, Sophie mengenalkan pengomposan dengan cacing ini ke berbagai kanal. Tidak hanya media sosial Youtube, IG, Tiktok, dll. 

@tani_alit

🌿🌿 Vermicomposting 101: Wadah …..#permakultur #biodynamics #permaculture #sayurorganik #kebunorganik #organik #kebunrumah #lestari #rumahlestari #pilihpilahpaketin #vermicomposting #olahsampah #nofoodwaste #urbanfarmingindonesia #sampahsisamakanan #pilahsampah #pupukorganik #pupukalami #urbangarden #nolsampah #ecofriendly #kompos #sisamakananbisadiolah #sustainability #sampah #pilahsampahdarirumah #nolsampahrumah #zerowaste

♬ original sound – Tani_Alit – tani.alit

Dia juga mengedukasi masyarakat utamanya kalangan urban lewat marketplace. Dari awalnya bertanya-tanya soal pembelian, mereka biasanya bisa menjalin relasi yang lebih dekat dengan berbagi minat yang sama. Bahkan ada yang kemudian menjadi rekanan dan berkolaborasi. 

“Mereka yang punya minat sama (vermicomposting) ketarik lewat algoritma,” katanya.  

https://www.tokopedia.com/tanialit/kascing-tanaman-daun-pupuk-organik-vermicomposting-tani-alit

Selarasa, Jalin Koneksi Petani di Jagakarsa
Dapur Selarasa yang ada di area Gudskul, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Tani Alit yang diinisiasi Sophie, terlibat dalam jejaring petani Jagakarsa yang kini saling terhubung di Kelompok tani Selarasa – Jagakarsa Food Lab. Mereka hadir untuk menghidupkan pertanian di tengah masifnya ambisi infrastruktur ibu kota. 

Kelompok tani yang juga melibatkan perempuan muda secara aktif ini bertahan mengembangkan pertanian di tengah kondisi Jakarta dengan polusi yang marak, kualitas udara dan air yang buruk, keterbatasan lahan, dan sebagainya. Keterbatasan lahan akibat pembangunan tak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti. Bertani adalah cara mereka memperjuangkan keadilan pangan di tengah kota.

Sejak tahun 2017, Julian bersama kawan-kawannya, Risya, Anita, Bellina dan Tahlia, menginisiasikan Selarasa, komunitas yang menjadi penghubung sesama petani ataupun petani dengan konsumen di Jagakarsa. Mereka punya kesamaan sebagai orang-orang yang bergiat di dunia pangan mulai dari hulu ke hilir. 

Mereka juga suka menjadikan pangan sebagai medium seni. Misalnya, Julian bikin lagu, kawannya yang lain bikin instalasi, ada yg bikin artistik. Dan semua itu berhubungan dengan pangan.

Julian menceritakan pada masa itu Gudskul baru pindahan, yang sebelumnya komunitas seniman banyak yang berkumpul di Gudang Sarinah. Mereka yang sering nongkrong di Gudskul dan dipertemukan dalam festival seni, akhirnya berinisiatif untuk membuat kolektif. Selain wadah berkomunitas, mereka juga melakukan itu untuk berkenalan dengan tetangga sekitar. 

Dari sisi personal, ketertarikan Julian terhadap isu pangan meskipun dia seniman juga berangkat dari pengalaman pribadinya. Dia yang berasal dari Makassar, pernah mencari cara untuk pengobatan ibunya yang sakit asma. Hingga akhirnya dia menemukan bahan pangan dengan oksidan yang tinggi yaitu pada buah bit. Ia bukan hanya memulihkan kondisi ibunya, tapi juga membudidayakannya sebagai tanaman obat. 

Baca juga: Menanam dan Menggugat, Cara Perempuan Pulau Pari Melawan Kerakusan Korporasi dan Krisis Iklim

“Di tahun 2019 kita beneran masak ide kita tuh. Kita sadar, bertetangga itu menjadi hal yang sudah sangat terakulturasi,” ujar Julian ketika berbincang dengan Konde.co, Rabu (11/9). 

Dari situ, Julian bersama kawan-kawan mulai menelusuri bagaimana rantai makanan di Jakarta. Hingga mengerucutkan skupnya di area Jagakarsa. Mereka menelisik peta kedatangan bahan pangan yang ada di beberapa induk pasar di area itu. 

“Dari pencarian-pencarian itu, ternyata kita ngangkat dari sudut pandang budaya nih. Banyak banget catatan, jurnal, ada beberapa tulisan yang menceritakan tentang Jagakarsa itu sebagai lumbung pangan,” lanjutnya. 

Penemuan informasi bahwa Jagakarsa sebagai episentrum pangan itulah, yang mengantarkan Julian menemui Eyang Tamin, seorang keturunan Pangeran Eyang Jagakarsa. 

Ia bercerita jika di Jagakarsa dari ujung Utara, Timur, Selatan, dan Barat ada keterhubungan para petani. Namun, jalinan itu putus di anak cucu keturunan mereka. Dari situlah, Julian berupaya menghadirkan Selarasa sebagai upaya menghubungkan kembali jalinan para petani di Jagakarsa itu. 

Memang tak mudah di awal, namun seiring berjalannya waktu, pendekatan Selarasa yang mengajak untuk ‘saling mengunjungi’ menumbuhkan kepercayaan. Banyak dari mereka yang tertarik untuk berjejaring di Selarasa. 

Pemetaan terbaru Selarasa, petani Jagakarsa yang saat ini saling terhubung ada 27 titik pertanian mandiri dan berbagai produk pangan olahan rumahan yang tersebar di Jagakarsa. Mereka rutin menggelar berbagai kegiatan mulai dari Pasar Selaras, Majelis Sayur, hingga Kultum (Kuliah Tumbuhan). 

Baca juga: Edisi Kemerdekaan: Perempuan Muda Atasi Krisis Iklim dan Lingkungan (1)

Pasar Selaras merupakan program yang diinisiasi saat pandemi. Program itu untuk menampung hasil pangan dari petani untuk disalurkan atau disumbangkan kepada masyarakat. 

Sedangkan Majelis Sayur adalah ruang diskusi dan saling mengunjungi kediaman sesama petani di Jagakarsa untuk saling terkoneksi. Mereka bisa melakukan banyak aktivitas mulai dari belajar ilmu menanam dan mengompos, saling mengisi bibit sampai bertukar peluang pengembangan produk sayur. 

Majelis Sayur yang diikuti Sophie bersama komunitas petani di Selarasa Jagakarsa Food Lab. Dok. Selarasa.
Dampak dan Resiliensi Terhadap Krisis Iklim

Persoalan krisis iklim menjadi tantangan pertanian di ibu kota. Julian memaparkan cerita yang dialami oleh kolektif Selarasa. Mereka paling sering mengeluhkan masalah ketika musim hujan tiba atau perubahan cuaca yang tak menentu yang menyebabkan banjir. Imbasnya, air bah menenggelamkan tanaman pertanian mereka.  

“Kiriman air dari Bogor itu meningkat. Yang biasanya petani-petani tradisional atau konvensional itu pasti tenggelam (tanamannya),” kata Julian. 

Tak hanya itu, luapan air sungai yang datang membawa air juga menghanyutkan tanaman. Terlebih di Jagakarsa bersinggungan dengan aliran Kali Ciliwung dan Kali Krukut. 

“Para petani-petani yang berada di pinggiran kali (sungai) itu pasti kena. Cabainya hanyut, sayurannya hilang, bahkan saungnya hancur dan terendam air yang cukup tinggi.” 

Merespons persoalan banjir ini, para petani di Jagakarsa biasanya bergotong royong untuk mencari celah atasi krisis iklim dari keterbatasan ruang. Ada kelompok tani yang meninggikan lahan mereka, ada pula yang menanam tanamannya di atap rumah atau area yang lebih tinggi. 

Untuk mengantisipasi angin kencang dan hujan deras yang bisa mengancam kerusakan tanaman, Sophie misalnya juga berinisiatif memasang jaring-jaring sejajar dengan atap. Ini untuk mengurangi guncangan angin dan air hujan yang turun. 

Jaring-jaring untuk mengamankan tanaman dari angin dan hujan di pekarangan pertanian Sophie. Dok. Nurul Nur Azizah/Konde.co.

Masalah lainnya soal kualitas tanah pertanian di perkotaan. Julian bilang, banyak tanah yang sulit ditanami. Di tengah keterbatasan lahan di tengah pembangunan infrastuktur dan perumahan, tanah pertanian di perkotaan juga banyak yang tanah urukan. Bahkan banyak yang berbatu atau mengandung unsur plastik-plastik dan limbah. 

Baca juga: Edisi Kemerdekaan: Perempuan Muda Atasi Krisis Iklim dan Lingkungan (2)

Untuk menyiasati ini, banyak petani-petani di ibukota yang akhirnya membuat bedeng-bedeng (tanah yang ditinggikan) untuk diisi dengan tanah yang sudah digemburkan. Cara lainnya, seperti halnya yang dilakukan Sophie di Tani Alit dengan perbaikan struktur tanah melalui pengomposan cacing.  

Khas masalah perkotaan yang diselimuti kabut dari polusi, intensitas pencahayaan menjadi minim. Ini menjadikan pertanian mereka juga kurang sinar matahari. Belum lagi jika mereka bertani di area yang tertutup gedung-gedung yang menjulang tinggi. Di hari biasanya, mereka baru dapat sinar terbaik pada pukul 11 sampai 1 siang. 

“Akhirnya mereka merespons dengan rooftop-nya,” lanjutnya. 

Sebagai ruang perawatan yang menguatkan, Selasara jadi wadah para petani ini untuk saling mengurai masalahnya. Selanjutnya, mereka bisa bergotong royong untuk memberikan solusi bahkan saling membantu dalam aksi di lapangan. 

Budaya seperti itulah yang menurut Julian, berupaya terus ditumbuhkan di Selarasa. Para petani di Jagakarsa bisa beresiliensi dalam menghadapi krisis iklim saat ini. Semangat inilah, yang sebenarnya menjadi nilai yang leluhur pangan Jagakarsa lakukan sejak dulu. 

“Selarasa itu merasa jadi harus menjadi bagian yang merawat dan melindungi ini semua,” kata dia. 

Tak hanya di ekosistem pangan, Selarasa sebenarnya juga sudah menjadi agensi yang saling berjejaring dengan lintas komunitas. Selarasa juga terhubung dengan gerakan perlawanan dan perlindungan hak hidup dan pelestarian alam. Misalnya mereka juga terkoneksi dengan Jatam, gerakan perempuan, hingga jaringan masyarakat sipil. 

Itu juga merupakan cara mereka beresiliensi dalam gerakan mengatasi krisis iklim. Di tengah masifnya narasi “pembangunan” yang nyatanya destruktif terhadap pelestarian alam.  

“Kita terkoneksi sama mereka, yang punya konteks dan semangat untuk merawat, melindungi, menjaga,” pungkasnya. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.