KEPUTUSAN Beijing memberlakukan tarif nol persen bagi hampir seluruh negara Afrika bukan sekadar manuver dagang rutin. Banyak pembaca di luar lingkaran kebijakan melihatnya sebagai gestur persahabatan atau diplomasi ekonomi biasa. Pembacaan seperti itu terlalu tipis. Langkah ini adalah strategi pembangunan eksternal yang konsisten dengan cara China membangun kekuatan ekonomi sejak era reformasi, yaitu membuka akses, menciptakan skala, lalu mengunci hubungan produksi jangka panjang. Jika dibaca dengan kacamata pembangunan, bukan kacamata kecurigaan geopolitik lama, kebijakan ini justru masuk akal dan koheren.
Selama beberapa tahun terakhir, arah kebijakan ekonomi global semakin proteksionis. Negara maju berbicara tentang perdagangan bebas tetapi menaikkan tarif, memperketat standar, dan memberi subsidi industri domestik secara agresif. Dalam situasi seperti itu, negara berkembang menghadapi penyempitan akses pasar. Banyak yang lupa bahwa hampir semua negara industri naik kelas lewat proteksi pada fase awal. Setelah kuat, barulah menyerukan liberalisasi. China membaca pola ini dengan jernih. Jika pintu Barat menyempit, maka membangun ruang pasar alternatif di antara negara berkembang menjadi langkah rasional.
Pendekatan ini sejalan dengan gagasan Justin Yifu Lin dalam buku New Structural Economics – A Framework for Rethinking Development and Policy. Lin berargumen bahwa pembangunan tidak lahir dari pasar bebas murni, tetapi dari kombinasi negara yang aktif, investasi infrastruktur, dan integrasi bertahap ke rantai nilai global sesuai keunggulan komparatif dinamis. Dalam kerangka itu, pembukaan akses pasar oleh negara yang lebih maju industrinya kepada negara yang sedang tumbuh bukanlah amal. Hal tersebut adalah cara mempercepat pembentukan struktur produksi baru di kedua sisi. Negara pengekspor komoditas mendapat permintaan stabil. Negara pengimpor mendapat pasokan dan ruang ekspansi industri hilir.
Relasi China dan Afrika dalam dua dekade terakhir menunjukkan pola tersebut. Perdagangan tumbuh cepat. Infrastruktur transportasi dan energi dibangun dalam skala yang sebelumnya sulit dibiayai lembaga Barat. Banyak kritik menyebut proyek tersebut sebagai ekspansi pengaruh. Kritik itu tidak sepenuhnya salah, tetapi sering berhenti di situ dan gagal membaca dimensi pembangunan. Jalan, rel, pelabuhan, dan jaringan listrik bukan simbol ideologis. Semua itu kapasitas material. Tanpa kapasitas material, tidak ada industrialisasi. Tanpa industrialisasi, tidak ada lompatan pendapatan.
Tarif nol persen memperkuat sisi permintaan dari persamaan itu. Infrastruktur tanpa akses pasar hanya menghasilkan kapasitas menganggur. Dengan jaminan akses, produsen di Afrika memiliki insentif memperbesar output. Apakah semua negara Afrika otomatis akan naik kelas industri? Tentu tidak. Kebijakan pasar tidak pernah bekerja otomatis. Namun tanpa akses pasar, peluang naik kelas hampir pasti tertutup. Dari sudut ini, kebijakan Beijing membuka opsi, bukan memaksa hasil.
Banyak analis Barat cenderung membaca setiap langkah China sebagai jebakan ketergantungan. Argumen itu perlu diuji dengan data, bukan asumsi. Struktur perdagangan China-Afrika memang masih berat di komoditas. Namun tren juga menunjukkan peningkatan ekspor manufaktur ringan dan produk olahan dari beberapa negara Afrika. Selain itu, ketergantungan bukan konsep satu arah. China juga semakin bergantung pada pasokan mineral strategis Afrika untuk transisi energi dan industri teknologi. Ketergantungan timbal balik menciptakan insentif stabilitas, bukan hanya dominasi sepihak.
Perlu juga diakui bahwa syarat politik tetap ada. Negara yang tidak mengakui Beijing tidak masuk skema tarif nol. Banyak pengamat menganggap ini bukti bahwa kebijakan dagang diperalat untuk tujuan diplomatik. Pernyataan itu benar, tetapi tidak unik. Semua kekuatan besar melakukan hal yang sama dengan instrumen berbeda, mulai dari sanksi, pembatasan teknologi, sampai kontrol sistem pembayaran. Setidaknya dalam kasus ini, instrumen yang dipakai adalah insentif ekonomi, bukan hukuman kolektif. Bagi banyak negara berkembang, wortel pasar lebih berguna daripada ancaman sanksi.
Kontras dengan pendekatan Amerika Serikat dalam periode yang sama memperjelas perbedaan filosofi. Ketika Washington menaikkan tarif dan mempersempit fasilitas dagang, Beijing menurunkan hambatan. Dari sudut pandang eksportir Afrika, pilihan praktis menjadi jelas. Arah arus barang mengikuti pintu yang terbuka. Dalam ekonomi politik, loyalitas mengikuti struktur insentif, bukan retorika nilai. Jika satu pasar menjadi lebih mudah diakses, orientasi produksi akan menyesuaikan.
Ada kritik bahwa skema seperti ini akan membanjiri pasar China dengan produk bernilai rendah dan tidak mengubah struktur ekonomi Afrika. Kritik itu setengah benar. Risiko reproduksi pola komoditas memang ada. Namun menyalahkan pembukaan akses pasar atas kegagalan diversifikasi industri adalah logika terbalik. Diversifikasi bergantung pada kebijakan domestik negara pengekspor, kualitas institusi, dan strategi industrinya. Pasar tujuan tidak bisa memaksa transformasi internal, tetapi bisa menyediakan ruang agar transformasi layak dikejar.
Dari sisi China sendiri, kebijakan ini juga bukan tanpa hitung-hitung keras. Membuka pasar berarti menerima persaingan di beberapa sektor. Keputusan tetap diambil karena manfaat strategis lebih besar. Pertama, pengamanan rantai pasok bahan baku. Kedua, perluasan jejaring mitra di Global South. Ketiga, internasionalisasi standar dan jaringan logistik yang terhubung dengan perusahaan China. Semua itu memperkuat posisi jangka panjang dalam kompetisi ekonomi global. Ini bukan diplomasi sentimental. Ini perencanaan struktural.
Narasi yang sering diulang bahwa China hanya mencari sumber daya dan membiarkan negara mitra terjebak utang juga perlu diperhalus. Studi Deborah Brautigam dalam buku The Dragon’s Gift – The Real Story of China in Africa menunjukkan bahwa komposisi pinjaman China di Afrika lebih beragam daripada yang sering diberitakan, dengan banyak proyek infrastruktur publik dan restrukturisasi ketika terjadi tekanan pembayaran. Tidak semua proyek berhasil. Tidak semua pinjaman sehat. Namun gambaran tunggal tentang jebakan sistematis tidak didukung bukti menyeluruh. Realitasnya campuran antara kepentingan, eksperimen, dan penyesuaian.
Bagi negara berkembang lain di luar Afrika, pelajaran penting dari kebijakan tarif nol ini bukan soal memilih kubu, tetapi memahami bahwa arsitektur perdagangan sedang berubah. Era globalisasi berbasis satu pusat pasar sudah lewat. Blok pasar, jaringan produksi, dan koalisi pembangunan sedang terbentuk. Negara yang mampu membaca perubahan dan menegosiasikan posisi akan mendapat ruang manuver. Negara yang hanya bereaksi ideologis akan terseret arus.
Mendukung pendekatan China tidak harus berarti menutup mata terhadap risiko. Ketergantungan berlebihan tetap berbahaya, siapa pun mitranya. Transparansi kontrak tetap penting. Kapasitas negosiasi negara mitra tetap menentukan hasil. Namun menolak langkah Beijing hanya karena berasal dari China juga tidak rasional. Jika satu kebijakan memperluas akses pasar, memperbesar permintaan, dan menciptakan peluang industrialisasi, maka kebijakan itu layak dinilai dari hasilnya, bukan dari prasangka geopolitik lama.
Perdagangan internasional tidak pernah netral, tetapi juga tidak harus sinis. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, membuka pasar bagi negara yang selama ini berada di pinggiran sistem bisa menjadi tindakan strategis sekaligus produktif. Tarif nol persen untuk Afrika menunjukkan bahwa strategi pembangunan eksternal masih mungkin dilakukan lewat ekspansi akses, bukan hanya proteksi. Itu bukan kelembutan. Itu kalkulasi. Dan justru karena berbasis kalkulasi, kebijakan seperti ini berpotensi bertahan lebih lama daripada slogan kerja sama yang kosong.
Virdika Rizky Utama
Direktur Eksekutif PARA Syndicate





Comments are closed.