Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Tekanan Chip Global Hambat Produksi EV, Hilirisasi Nikel RI Terimbas?

Tekanan Chip Global Hambat Produksi EV, Hilirisasi Nikel RI Terimbas?

tekanan-chip-global-hambat-produksi-ev,-hilirisasi-nikel-ri-terimbas?
Tekanan Chip Global Hambat Produksi EV, Hilirisasi Nikel RI Terimbas?
service

KABARBURSA.COM – Lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI) yang menyedot kapasitas semikonduktor global mulai menciptakan tekanan biaya di industri otomotif. Jika tekanan ini berlanjut dikhawatirkan bakal memengaruhi produksi kendaraan listrik (EV). Jika produksi EV terhambat, dampaknya juga diprakirakan merembet ke rantai pasok baterai dan hilirisasi nikel Indonesia.

Mengacu data International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2025, penjualan mobil listrik global diproyeksi menembus lebih dari 20 juta unit pada 2025, atau setara lebih dari 25 persen total penjualan mobil dunia. Pada 2024, penjualan EV global tercatat melampaui 17 juta unit.

IEA juga memproyeksikan permintaan baterai EV dalam skenario kebijakan berjalan (STEPS) akan meningkat 4,5 kali lipat pada 2030 dibandingkan 2023. Artinya, kebutuhan mineral baterai tetap meningkat dalam jangka menengah, meski laju pertumbuhan bisa berfluktuasi.

Namun, struktur konsumsi nikel global menunjukkan baterai belum menjadi penyerap utama. International Nickel Study Group (INSG) dalam World Nickel Factbook 2024 mencatat sekitar 65 persen konsumsi nikel primer global pada 2023 masih didominasi stainless steel, sementara sektor baterai menyumbang sekitar 16 persen.

S&P Global Commodity Insights mencatat kontribusi baterai terhadap konsumsi nikel primer global sekitar 11,5 persen pada 2024 (sekitar 384.000 metrik ton nikel), dan diperkirakan naik menjadi 15,2 persen pada 2025 (sekitar 543.000 metrik ton).

Tekanan Chip dari AI

Tekanan biaya mulai terlihat dari sisi komponen elektronik. Dalam laporan Reuters Breakingviews pada 19 November 2025, analis Nomura menyebut industri chip tengah memasuki fase “triple super cycle” yang didorong oleh permintaan High Bandwidth Memory (HBM), DRAM, dan NAND untuk AI, dan diperkirakan berlanjut hingga 2027.

Laporan tersebut menyoroti bahwa kapasitas produksi semikonduktor global semakin condong ke segmen HBM bernilai tinggi, sehingga memicu keketatan pada memori konvensional yang juga digunakan di industri otomotif.

Dampaknya mulai dirasakan produsen mobil. Chief Performance Officer Nissan Motor, Guillaume Cartier, pada 29 Oktober 2025, mengatakan kepada Reuters bahwa persoalan pasokan chip kembali menjadi perhatian serius. “Ini masalah besar. Untuk saat ini kami belum memiliki visibilitas penuh,” ujar Cartier pada 29 Oktober 2025.

Pernyataan serupa datang dari Interim CEO Lucid, Marc Winterhoff, yang pada 5 November 2025 menyampaikan bahwa kendala pasokan, termasuk chip, memengaruhi proyeksi perusahaan.

“Kami kemungkinan akan berada di batas bawah dari kisaran target tersebut,” kata Winterhoff pada 5 November 2025, merujuk pada proyeksi produksi perusahaan.

S&P Global Mobility dalam publikasi akhir 2025 juga mencatat risiko keketatan pasokan chip kembali pada periode akhir 2025 hingga 2026, termasuk potensi kenaikan harga DRAM generasi lama untuk otomotif hingga 70–100 persen pada 2026 dibandingkan 2025.

Proyeksi Nikel Baterai Pernah Direvisi

Di sisi komoditas, Reuters dalam laporan konferensi logam global yang terbit pada 2025 mencatat proyeksi permintaan nikel untuk baterai pada 2030 pernah direvisi turun dari 1,5 juta ton menjadi sekitar 967.000 ton. Konsumsi 2024 disebut berada di kisaran 518.000 ton.

Revisi tersebut dipengaruhi oleh pergeseran kimia baterai ke LFP yang tidak menggunakan nikel serta dinamika pertumbuhan permintaan EV.

Jika tekanan biaya elektronik kendaraan berlanjut dan memengaruhi tempo produksi EV, maka pertumbuhan permintaan baterai berpotensi tidak seagresif proyeksi awal.

Taruhan Hilirisasi Indonesia

Bagi Indonesia, dinamika ini relevan. Pemerintah tengah mendorong penguatan rantai pasok baterai berbasis nikel.

Beberapa proyek yang berjalan antara lain:

  • Pabrik sel baterai kerja sama Indonesia–CATL dengan kapasitas awal 6,9 GWh yang ditargetkan beroperasi akhir 2026.
  • Kerangka kerja Antam–Indonesia Battery Corporation (IBC)–konsorsium Huayou senilai sekitar USD 6 miliar dengan target 20 GWh.
  • Total investasi ekosistem baterai yang disebut mencapai sekitar USD 9,8 miliar menurut BKPM.

Namun terdapat pula dinamika penyesuaian, seperti keputusan LG Energy Solution pada 2025 untuk menarik diri dari paket investasi baterai EV senilai USD 8,45 miliar.

Sementara itu, data World Bank WITS (UN Comtrade) menunjukkan ekspor ferro-nickel Indonesia mencapai sekitar USD 15,29 miliar pada 2023.

Struktur konsumsi global menunjukkan stainless steel masih menjadi jangkar utama permintaan nikel. Namun baterai tetap menjadi sektor dengan potensi pertumbuhan paling dinamis.

Boom AI yang menyerap silikon global, potensi kenaikan biaya elektronik kendaraan, serta perubahan teknologi baterai menjadi variabel baru dalam proyeksi permintaan nikel.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan hanya memperbesar kapasitas hilirisasi, tetapi memastikan strategi industri cukup fleksibel menghadapi perubahan teknologi dan siklus global.(*)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.