Jakarta, Arina.id — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 tidak berhenti pada satu kali guncangan. Hingga Rabu (9/9/2026) pukul 17.00 WIB, aktivitas gempa susulan masih berlangsung dengan jumlah yang mencapai 14.023 kejadian.
Data Stasiun Geofisika Kupang BMKG menunjukkan, dari ribuan gempa tersebut, magnitudo terbesar mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil 0,9. Sebanyak 38 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sementara 183 gempa susulan dirasakan masyarakat.
Peta sebaran gempa susulan menunjukkan aktivitas kegempaan terkonsentrasi di sekitar sumber gempa utama dan zona Flores Back-Arc Thrust. Data tersebut memperlihatkan bagaimana kerak Bumi masih mengalami penyesuaian setelah gempa utama terjadi.
Gempa Flores M7,7 sendiri terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Hasil analisis BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal pada kedalaman sekitar 15 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust fault) di zona Flores Back-Arc Thrust.
Bukan sekadar sisa energi
Lantas, mengapa setelah gempa besar masih muncul ribuan gempa lainnya?
Secara sederhana, gempa susulan terjadi karena kerak Bumi belum sepenuhnya mencapai kondisi keseimbangan baru setelah gempa utama. Ketika sesar mengalami pergeseran besar, distribusi tegangan pada batuan di sekitarnya ikut berubah.
Bagian sesar yang sebelumnya berada dalam kondisi relatif stabil dapat menerima tambahan tegangan. Jika tegangan tersebut cukup besar untuk mengatasi kekuatan batuan, bagian sesar itu dapat kembali mengalami pergeseran dan menghasilkan gempa.
Situs web USGS menjelaskan bahwa gempa susulan merupakan gempa yang terjadi di sekitar wilayah gempa utama setelah peristiwa besar tersebut. Menurut USGS, gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kembali pada bagian sesar yang mengalami pergeseran saat gempa utama, dan frekuensinya umumnya berkurang seiring waktu.
Artinya, gempa susulan bukan sekadar energi gempa utama yang keluar sedikit demi sedikit. Setiap gempa susulan merupakan peristiwa patahan tersendiri yang dipengaruhi oleh perubahan kondisi fisik di sekitar sumber gempa.
Mengapa jumlahnya bisa mencapai 14 ribu?
Besarnya jumlah gempa susulan tidak berarti seluruhnya merupakan gempa yang kuat atau dirasakan manusia.
Dalam data Flores hingga 9 September 2026, magnitudo gempa susulan berada pada rentang M0,9 hingga M6,2. Sebagian besar gempa bermagnitudo kecil sehingga hanya dapat dideteksi oleh instrumen seismograf dan tidak dirasakan masyarakat.
Hal tersebut penting karena istilah “14.023 gempa susulan” mencakup seluruh kejadian yang berhasil direkam jaringan seismometer, bukan 14.023 guncangan yang dirasakan manusia.
Sebagai perbandingan, pada 19 Agustus 2026 BMKG mencatat 2.768 gempa susulan dengan magnitudo M1,1–M6,2. Saat itu, terdapat 24 kejadian bermagnitudo lebih dari 5 dan 81 gempa dirasakan masyarakat. BMKG juga menyebut aktivitas gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu.
Dalam perkembangan hingga 9 September, jumlahnya telah meningkat menjadi 14.023 kejadian. Namun, kenaikan jumlah kumulatif tersebut tidak otomatis berarti aktivitas gempa semakin kuat.
Hal yang lebih penting untuk melihat kondisi rangkaian gempa adalah pola peluruhan aktivitasnya.
Grafik mulai menunjukkan pola penurunan
Data pemantauan BMKG hingga 9 September menunjukkan grafik peluruhan gempa susulan mulai memperlihatkan pola penurunan.
Fenomena tersebut sesuai dengan pola yang telah lama dikenal dalam ilmu seismologi, yakni Hukum Omori-Utsu. Hukum tersebut menggambarkan kecenderungan laju gempa susulan menurun seiring bertambahnya waktu setelah gempa utama.
Penelitian seismologi menunjukkan bahwa aktivitas gempa susulan pada umumnya sangat tinggi pada awal setelah gempa utama, kemudian berangsur-angsur menurun. Studi tentang gempa-gempa Jepang yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research: Solid Earth menjelaskan bahwa rangkaian gempa susulan secara umum mengalami penurunan aktivitas seiring waktu, bahkan dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun untuk gempa besar tertentu.
Penelitian lain dalam Geophyscal Research Letters juga menunjukkan bahwa hukum Omori menjadi salah satu pola yang relatif konsisten dalam menggambarkan penurunan aktivitas gempa susulan setelah gempa besar.
Dengan demikian, grafik peluruhan yang mulai menurun pada rangkaian gempa Flores merupakan indikasi bahwa aktivitas gempa susulan sedang memasuki fase penurunan. Namun, penurunan tersebut tidak berarti gempa susulan langsung berhenti.
Mengapa penurunannya tidak selalu lurus?
Masyarakat mungkin bertanya, jika gempa susulan semakin lama semakin sedikit, mengapa sesekali masih muncul gempa dengan magnitudo cukup besar?
Jawabannya karena proses peluruhan gempa susulan bukanlah garis lurus yang berarti setiap hari jumlah gempa pasti lebih sedikit dibandingkan hari sebelumnya.
Dalam kenyataannya, aktivitas dapat mengalami fluktuasi. Bisa terjadi satu periode relatif tenang, kemudian muncul kembali beberapa gempa yang lebih banyak atau lebih kuat.
Model Omori-Utsu menggambarkan kecenderungan statistik, bukan jadwal pasti kapan gempa berikutnya akan terjadi. Penelitian menunjukkan parameter peluruhan dapat berbeda antara satu rangkaian gempa dengan rangkaian lainnya.
Karena itu, meskipun grafik Flores sudah menunjukkan kecenderungan penurunan, masih mungkin terjadi gempa susulan yang dirasakan masyarakat.
Ada proses lain di dalam kerak Bumi
Perubahan tegangan bukan satu-satunya mekanisme yang diteliti ilmuwan untuk menjelaskan gempa susulan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan tekanan fluida di dalam pori-pori batuan juga dapat berperan. Studi yang diterbitkan di Nature Communications pada 2025 menemukan bahwa difusi tekanan pori berkaitan erat dengan pola ruang dan waktu gempa susulan setelah gempa M8,2 Iquique di Chile pada 2014.
Para peneliti menyimpulkan bahwa peningkatan tekanan pori dapat membuat berbagai sesar menjadi lebih dekat dengan kondisi gagal.
Selain itu, kerak Bumi juga dapat mengalami proses afterslip, yakni pergeseran lanjutan setelah slip utama saat gempa. USGS menjelaskan bahwa setelah gempa besar, kerak Bumi tidak langsung berhenti bergerak. Sebagian pergeseran dapat berlangsung dalam bentuk gempa maupun gerakan lambat yang tidak terasa manusia.
Dengan demikian, rangkaian gempa susulan merupakan hasil interaksi berbagai proses fisik yang berlangsung setelah gempa utama.
Apakah gempa susulan bisa lebih besar?
Secara umum, gempa susulan lebih kecil daripada gempa utama. Namun, secara terminologi, sebuah gempa baru disebut aftershock setelah ada gempa yang dianggap sebagai mainshock.
USGS menjelaskan bahwa istilah foreshock, mainshock, dan aftershock bersifat relatif. Jika kemudian terjadi gempa yang lebih besar, gempa yang sebelumnya dianggap sebagai gempa utama dapat dikategorikan kembali sebagai foreshock.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi resmi meskipun grafik aktivitas gempa susulan sudah menunjukkan kecenderungan menurun.
Tiga hingga empat minggu bukan berarti berhenti tepat pada waktunya
Pada 18 Agustus 2026, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, “Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3–4 minggu ke depan.”
Perkiraan tersebut perlu dipahami sebagai estimasi berdasarkan pola aktivitas saat itu, bukan kepastian bahwa pada hari ke-21 atau ke-28 tidak akan ada lagi gempa.
Apalagi, data terbaru menunjukkan hingga 9 September—sekitar 25 hari setelah gempa utama—aktivitas susulan masih tercatat. Namun, grafik peluruhan mulai menunjukkan kecenderungan penurunan.
Dengan kata lain, perkembangan terbaru justru perlu dibaca sebagai proses peluruhan aktivitas, bukan sebagai tanda bahwa seluruh gempa susulan sudah berhenti.
Tetap waspada meski aktivitas menurun
Sebanyak 14.023 gempa susulan memang terdengar sangat besar. Namun, angka kumulatif tersebut perlu dibaca bersama magnitudo dan frekuensi kejadiannya.
Sebagian besar gempa berukuran kecil dan tidak dirasakan. Hingga 9 September pukul 17.00 WIB, dari 14.023 kejadian, terdapat 183 gempa yang dirasakan masyarakat.
Meski demikian, gempa susulan tetap berpotensi membahayakan, terutama bagi bangunan yang sebelumnya telah mengalami kerusakan akibat gempa utama. USGS menegaskan bahwa meskipun sebagian besar gempa susulan lebih kecil, gempa tersebut tetap dapat menimbulkan kerusakan atau bahaya tambahan.
Masyarakat di wilayah terdampak tetap perlu mengikuti informasi BMKG dan tidak memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman.
Rangkaian 14.023 gempa susulan Flores menunjukkan bahwa kerak Bumi membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri setelah gempa M7,7. Grafik yang mulai menurun memberikan indikasi aktivitas sedang mengalami peluruhan, sesuai pola yang dikenal dalam ilmu seismologi.
Namun, peluruhan bukan berarti aktivitas langsung berhenti. Selama sistem sesar masih mengalami penyesuaian, gempa susulan masih mungkin terjadi dengan kekuatan dan frekuensi yang berfluktuasi.
Data terbaru BMKG menjadi penting karena memberikan gambaran bahwa rangkaian gempa Flores kini memasuki fase yang berbeda: bukan lagi ledakan aktivitas seperti pada hari-hari awal, melainkan fase peluruhan yang secara statistik bergerak menuju kondisi kegempaan normal.





Comments are closed.