Dengarkan artikel berikut:
Mereka tidak mencoba meyakinkan anda. Mereka hanya perlu meyakinkan Anda bahwa semua orang lain sudah setuju. AI akan mengambil posisi Buzzer Konvensional. Mereka tidak bergerak dengan ratusan akun, mereka bergerak dengan ribuan atau jutaan akun. Manusia biasa tidak mungkin bisa melakukannya. Selamat Datang di fenomena AI SWARM.
Pada Juli 2024, Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan pembongkaran sebuah operasi yang namanya terdengar teknis: “AI-enhanced bot farm.” Yang tidak teknis adalah cara kerjanya. Sembilan ratus enam puluh delapan akun di platform X, semuanya berpura-pura menjadi warga Amerika biasa. Semuanya berkomentar tentang politik dengan nada yang terasa hangat dan manusiawi. Semuanya berkoordinasi satu sama lain. Dan semuanya dikendalikan oleh AI, tanpa seorang operator manusia yang mengatur pun yang perlu duduk di depan layar dan memberi instruksi.
Angka 968 terdengar kecil. Tapi sebuah riset yang diterbitkan di jurnal Science pada Januari 2026 oleh 22 peneliti lintas negara memperkirakan satu dari lima akun dalam percakapan publik besar sudah otomatis. Bukan proyeksi untuk masa depan. Kondisi sekarang.
Bayangkan angka itu di negara dengan 167 juta pengguna media sosial aktif, di mana 75,5 persen warganya tidak tahu bahwa yang namanya buzzer pun ada.
Yang sudah pernah merasa heran kenapa sebuah tagar bisa meledak dalam hitungan menit tapi tidak pernah bisa menemukan siapa yang pertama kali menyalakannya, sahabat pembaca perempuan dan laki-laki di Indonesia,
Pasukan yang Tidak Pernah Tidur
Buzzer lama, yang sudah kita kenal lebih dari satu dekade, bekerja dengan logika pabrik. Ada operator, ada koordinator, ada struktur hierarki yang bisa dilacak. Penelitian LP3ES menemukan bahwa seorang koordinator yang mengelola 200 akun bisa menghasilkan Rp15 juta sebulan. Investigasi Kompas 2024 menemukan dokumen transaksi seorang operator senilai Rp6 miliar untuk satu siklus isu politik. Tujuh klaster jaringan buzzer aktif bekerja selama Pemilu 2024, masing-masing dengan pemimpin opini, operator teknis, dan ratusan akun anonim. Pabrik ini butuh buruh, dan buruh punya keterbatasan: mereka lelah, mereka bisa salah baca konteks, dan mereka tidak bisa hadir di seribu percakapan sekaligus.
AI swarm bekerja dengan logika yang berbeda sepenuhnya.
Swarm bukan sekadar bot tunggal yang menyalin-tempel pesan. Ia adalah armada persona sintetis, masing-masing dengan identitas yang persisten, riwayat percakapan yang terjaga, dan kemampuan menyesuaikan nada dengan komunitas yang dituju secara otomatis. Swarm bisa berbicara seperti ibu rumah tangga Surabaya kepada satu segmen dan seperti mahasiswa aktivis Bandung kepada segmen lain, dalam waktu bersamaan, tanpa koordinator manusia di tengahnya.
Sebuah perusahaan AS bernama Doublespeed, didukung oleh firma venture capital Andreessen Horowitz, sudah secara terbuka menjual layanan untuk “mengorkestrasi tindakan pada ribuan akun sosial dan meniru interaksi manusia pada perangkat fisik agar terlihat organik”.
Dan yang membuat swarm berbeda dari botnet lama bukan kecerdasannya, tapi koordinasinya. Seribu akun yang masing-masing mengatakan hal sedikit berbeda, bergerak ke arah semantik yang sama, dengan timing yang tersebar alami, jauh lebih sulit dideteksi daripada seribu akun yang menyalin satu pesan. Pola lama bisa ditangkap dengan mencari salinan. Pola baru hanya bisa ditangkap dengan memantau perilaku jaringan secara keseluruhan dan tidak ada satu pun lembaga di Indonesia yang sedang melakukan itu.
Satu Operator, Seribu Suara, Sekarang Jutaan Suara
Indonesia punya keistimewaan yang tidak dimiliki banyak negara lain: infrastruktur untuk operasi semacam ini sudah selesai dibangun dari dalam, tanpa perlu diimpor.
Selama sepuluh tahun, jaringan buzzer Indonesia merekam apa yang bekerja di ruang publik digital kita. Framing isu apa yang efektif di kalangan pemilih. Kata apa yang menyulut kemarahan di komunitas Agama. Nada seperti apa yang membuat kelas menengah Jakarta merasa terancam lalu bereaksi. Setiap percakapan yang berhasil diarahkan, setiap tagar yang berhasil meledak, meninggalkan jejak data yang kini bisa dipakai untuk melatih model AI dengan pemahaman konteks Indonesia yang sangat spesifik.
Pemilu 2024 memberi kita gambaran awalnya. Avatar kartun Prabowo Subianto yang diproduksi dengan AI generatif meraih 19 miliar tayangan di TikTok.Tim kampanye mengakui memakai AI untuk menghindari regulasi larangan anak-anak dalam iklan politik. Prabowo menang dengan 60 persen suara Gen Z, sebagian besar dari pemilih yang mengenalnya hanya dari layar, bukan dari sejarah.
Para buzzer yang satu dekade lalu mengetik komentar demi komentar di kamar kos mereka tidak hanya kehilangan pekerjaan kepada AI. Mereka adalah orang-orang yang tanpa sadar membangun peta pikiran politik Indonesia. Peta yang kini berada di tangan mesin yang jauh lebih efisien dari mereka.
Indonesia adalah ekosistem sempurna untuk digunakannya buzzer dengan tipe AI Swarm. Cukup satu orang mengendalikan “pelatuk” AI Swarm dengan jutaan akun bot AI akan melakukan aktivitasnya buzzernya sendiri.
Menuju Demokrasi yang Semu akibat Buzzer AI
Ada satu hal yang membuat AI swarm berbeda dari semua bentuk propaganda sebelumnya, dan hampir tidak pernah dijelaskan kepada publik dengan jelas.
Ia tidak bekerja dengan cara meyakinkan Anda akan sesuatu. Ia bekerja dengan cara membuat Anda percaya bahwa semua orang lain sudah yakin. Manusia memperbarui keyakinannya berdasarkan persepsi tentang apa yang dianggap normal oleh orang-orang di sekitarnya. Ketika ribuan akun bergerak ke arah semantik yang sama dengan nada berbeda dan waktu tersebar, otak manusia membacanya sebagai konsensus, bukan sebagai serangan. Swarm tidak mengubah pikiran Anda. Ia mengubah estimasi Anda tentang berapa banyak orang yang sepikiran dengan Anda.
Para peneliti menyebut ini “synthetic consensus” konsensus yang tidak pernah ada di dunia nyata, tapi terasa lebih nyata dari yang nyata karena kita melihatnya di mana-mana dan dari siapa-siapa.
Jean Baudrillard pernah menulis bahwa simulasi paling berbahaya bukan yang menggantikan realitas, tapi yang menjadi realitas itu sendiri. Pemilu 2024 Indonesia membuktikannya dengan cara yang tidak pernah Baudrillard bayangkan. Pemilu berjalan lancar. Partisipasi tinggi. Pemenang legitimate. Mahkamah Konstitusi bersidang, presiden dilantik tepat waktu, institusi berfungsi. Dari luar, demokrasi bekerja persis seperti yang seharusnya.
Sementara setidaknya satu dari lima suara di ruang publik digitalnya mungkin bukan milik manusia.
Ancaman AI terhadap demokrasi bukan bahwa ia akan menghancurkan pemilu. Ancamannya adalah bahwa ia akan menjalankan pemilu dengan sangat baik, dengan prosedur yang terpenuhi dan legitimasi yang utuh, sementara kehendak rakyat yang menggerakkannya semakin sulit dibedakan dari produk mesin yang tidak pernah tidur dan tidak punya kepentingan pribadi apapun kecuali kepentingan operator yang menyewanya.
Buzzer lama pensiun karena ia tidak bisa bersaing secara ekonomi. Bukan karena dikalahkan secara moral, bukan karena ada yang menghentikannya.
Yang ia tinggalkan bukan kekosongan. Ia meninggalkan peta lengkap tentang cara pikiran politik Indonesia bekerja, dimana letak tombol emosi kita, kata apa yang membuka pintu kepercayaan, tagar apa yang membuat orang merasa mereka adalah bagian dari sesuatu yang besar. Satu dekade industri buzzer Indonesia adalah, tanpa yang pernah menyadarinya, satu dekade pembangunan manual untuk mesin yang kini bekerja sendiri.
AI itu tidak tahu bahwa yang ia lakukan adalah manipulasi.
Dan kita mungkin tidak tahu bahwa kita telah dimanipulasi. (A99)





Comments are closed.