Tue,8 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Bukan KDM, Khofifah Nirambisi?

Bukan KDM, Khofifah Nirambisi?

bukan-kdm,-khofifah-nirambisi?
Bukan KDM, Khofifah Nirambisi?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Khofifah justru lempar isu keracunan MBG Sidoarjo ke wakilnya, beda dari KDM yang rajin bersuara. Benarkah Khofifah telah kehabisan ambisi? 


PinterPolitik.com

“Ambition must be made to counteract ambition.” 

– James Madison, The Federalist Papers: No. 51 (1778)

Awal September 2026, kabar buruk datang dari Tanggulangin, Sidoarjo. Ratusan santri dan siswa dilarikan ke rumah sakit setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), dengan total korban yang akhirnya tercatat lebih dari lima ratus orang.

Cupin, yang pagi itu membaca linimasa sambil menyeruput kopi, menyangka gubernur akan segera turun tangan di garis depan. Namun, yang muncul di hampir seluruh pemberitaan justru Wakil Gubernur Emil Dardak, yang sekaligus menjabat Ketua Satgas MBG Jawa Timur.

Emil-lah yang meninjau RSUD Notopuro hingga dini hari, membuka data korban, dan memastikan biaya perawatan ditanggung negara. Sementara itu, nama Khofifah Indar Parawansa nyaris tidak terdengar dalam pusaran isu tersebut.

Bagi Cupin, kontrasnya terasa tajam bila dibandingkan dengan Dedi Mulyadi alias KDM di seberang pulau. Gubernur Jawa Barat itu dikenal nyaris selalu bersuara di setiap isu prominen nasional, hadir dengan komentar dan gestur yang cepat menjadi bahan perbincangan.

Khofifah memilih jalan yang berbeda sepenuhnya. Ia melempar penanganan isu panas itu kepada wakilnya, dan tetap dengan ritme kerjanya yang tenang: menyapa masyarakat, menghadiri acara, serta menyematkan penghargaan.

Pola ini bukan kejadian tunggal, melainkan corak yang konsisten sepanjang periode keduanya. Tidak ada gebrakan yang meledak, tidak ada manuver yang mengejutkan, dan tidak ada perebutan sorotan.

Padahal, Khofifah bukan kepala daerah biasa yang minim jam terbang. Ia pernah menjadi Wakil Ketua DPR di usia muda, menteri di dua era presiden yang berbeda, sekaligus salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama.

Dengan rekam jejak sebesar itu, keheningannya justru terasa semakin ganjil di mata Cupin. Ia teringat, tokoh sekaliber Khofifah biasanya menjadi magnet berita, bukan pihak yang memilih menepi dari sorotan.

Maka, publik pun mulai bertanya-tanya soal makna di balik keheningan itu. Apakah gubernur dua periode ini memang sudah kehilangan gairah politiknya?

Cupin pun belum yakin harus menyimpulkan apa, sebab kekaleman itu bisa jadi pertanda tokoh yang meredup, atau justru model kepemimpinan lain yang sedang ia praktikkan. Lalu, jika diam memang bisa menjadi pilihan sadar, adakah figur pemimpin dunia yang pernah membuktikannya?

Kalem ala Merkel, Bukan Riuh KDM

Pertanyaan Cupin membawanya pada satu nama dari Eropa: Angela Merkel. Kanselir Jerman selama hampir dua dekade itu justru dikenal karena gaya yang lirih, minim retorika, dan enggan tampil meledak-ledak.

Merkel membangun reputasi lewat pendekatan yang kerap disebut leading from behind, yaitu memimpin dari belakang layar. Kekuatannya tidak terletak pada kegaduhan, melainkan pada ketenangan yang justru menumbuhkan kepercayaan.

Di titik inilah arketipe Khofifah dan Merkel bertemu. Keduanya menunjukkan bahwa kalem tidak identik dengan lemah, dan bahwa keheningan bisa menjadi merek kepemimpinan itu sendiri.

Untuk memahami mengapa modal semacam ini bertahan, konsep sosiolog Prancis Pierre Bourdieu sangat membantu. Dalam bukunya Distinction, Bourdieu menjelaskan bahwa kekuasaan tidak hanya bersumber dari jabatan formal, tetapi juga dari akumulasi modal sosial dan modal simbolik berupa jaringan, legitimasi, dan kepercayaan.

Dalam kerangka itu, aktivitas Khofifah yang tampak “hanya” menyapa umat dan hadir di acara keagamaan sesungguhnya bermakna strategis. Ia sedang merawat modal simboliknya di basis Nahdlatul Ulama dan Muslimat, sebuah aset yang tidak akan menguap ketika masa jabatan berakhir.

Modal inilah yang membedakan tokoh berakar kuat dari sekadar pejabat musiman. Sebagaimana ditegaskan Robert Putnam dalam bukunya Bowling Alone, jaringan sosial dan kepercayaan adalah sumber daya yang dapat dikonversi menjadi kekuatan riil di kemudian hari.

Cara Merkel mengelola kekuasaan pun sejalan dengan logika ini. Ia jarang mendahului panggung, tetapi kerap menjadi penentu ketika semua pihak sudah kehabisan jalan tengah.

Ketenangan semacam itu membutuhkan rasa percaya diri yang matang. Seorang pemimpin yang gelisah cenderung mengisi setiap ruang dengan suara, sementara pemimpin yang mapan tahu kapan sebaiknya membiarkan orang lain berbicara lebih dahulu.

Bagi Cupin, cara pandang ini membalik logika awal. Kekaleman Khofifah bukanlah kekosongan, melainkan pemeliharaan aset yang paling tahan cuaca.

Namun, perbandingan dengan Merkel juga menyimpan celah yang menggelitik. Merkel adalah ketua partai yang menguasai penuh rumah politiknya sendiri, sedangkan posisi Khofifah tidak sepadan dalam hal itu.

Di sinilah rasa penasaran Cupin belum tuntas, sebab jika Khofifah memang punya modal sekuat itu, mengapa ia tidak melangkah lebih jauh ke panggung nasional? Lalu, apakah keheningannya benar-benar menandakan tiadanya ambisi, atau sebenarnya ada kalkulasi yang tengah dimainkan?

Nirambisi atau Strategi Sang Matriark?

Untuk menjawabnya, teori ambisi politik menawarkan lensa yang jernih. Ilmuwan politik Joseph Schlesinger dalam bukunya Ambition and Politics membedakan tiga jenis ambisi, yaitu discrete yang selesai seusai satu jabatan, static yang ingin bertahan di posisi sama, dan progressive yang ingin naik lebih tinggi.

Poin terpentingnya, ambisi bukanlah sifat bawaan yang menyala terus-menerus. Ia adalah respons terhadap struktur peluang, sehingga seorang aktor rasional hanya akan mengejar posisi lebih tinggi ketika jalannya benar-benar terbuka.

Di sinilah kondisi Khofifah menjadi relevan untuk dibaca ulang. Ia adalah tokoh berbasis massa besar, tetapi tidak memiliki partai yang sepenuhnya menjadi rumahnya sendiri, sebab kendaraan politik yang selama ini dekat dengan basisnya dipimpin figur lain.

Selain itu, ia kini menjalani periode kedua yang sekaligus menjadi periode terakhirnya sebagai gubernur. Dalam ilmu politik, kondisi ini memunculkan dinamika lame duck, yaitu meluruhnya daya tekan seorang pejabat yang tidak bisa dipilih kembali menjelang akhir masa jabatan.

Maka dari itu, menahan diri dari gebrakan berbiaya tinggi justru menjadi perilaku yang diprediksi teori, bukan penyimpangan darinya. Cupin mulai melihat bahwa “diam” Khofifah lebih mirip langkah catur yang irit ketimbang tanda menyerah.

Pola menepi untuk kelak melompat ini pun bukan hal baru dalam politik dunia. Kontras menarik justru datang dari Yuriko Koike, Gubernur Tokyo, yang ketika merasa terkurung oleh struktur partai lama memilih membangun kendaraan politiknya sendiri.

Perbandingan itu menajamkan pilihan yang terbentang di hadapan Khofifah. Ia bisa tetap menjadi tokoh besar yang meminjam kendaraan orang lain, atau suatu saat menemukan cara untuk memiliki rumahnya sendiri.

Ada pula opsi ketiga yang tidak kalah kuat, yakni mengukuhkan diri sebagai matriark Nahdlatul Ulama. Dalam peran ini, seorang tokoh senior tetap berpengaruh sebagai rujukan moral lintas faksi tanpa harus menggenggam jabatan formal.

Bagi Cupin, justru inilah lintasan yang paling tahan cuaca. Modal keumatan tidak mengenal batas periode, dan pengaruhnya bisa bertahan jauh setelah kursi gubernur ditinggalkan.

Yang jelas, membaca Khofifah sebagai sosok yang “habis” adalah kesimpulan yang terburu-buru. Seorang tokoh dengan basis massa sebesar itu, yang sedang aktif merawat modal simboliknya, sejatinya adalah aktor yang pilihannya masih terbuka lebar.

Bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, keselarasan Khofifah pun menjadi aset yang berharga. Kepala daerah yang tenang, kolaboratif, dan berakar kuat di kalangan Nahdlatul Ulama merupakan mitra yang memperkuat agenda pembangunan nasional serta stabilitas yang tengah dijaga bersama.

Pada akhirnya, jawaban atas pertanyaan di judul tulisan ini tampaknya bukan hitam-putih. Khofifah agaknya bukan sosok yang nirambisi, melainkan tokoh yang membaca dengan cermat batas-batas struktural di sekelilingnya, dan memilih merawat kepercayaan umat sebagai bidak yang tak akan pernah hangus. Dalam politik, figur yang paling sadar akan batas papan caturnya sering kali justru adalah figur yang paling siap ketika batas itu, pada suatu hari, bergeser. (A43)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.