Dengarkan artikel ini:
Anies beberapa kali viral lewat meme, editan, hingga penggunaan bahasa ala Gen Z. Apakah semua ini bagian dari permainan panjang menuju 2029?
“Where memes proliferate, so does participation.”
– Limor Shifman, Memes in Digital Culture (2013)
Cupin membuka lini masa pagi itu dan menemukan Anies Baswedan kembali menjadi perbincangan. Kali ini bukan lewat pidato, melainkan lewat sebuah konten editan bergaya TikTok.
Dalam video tersebut, Anies tampak di tengah keramaian car free day Jakarta, dikelilingi warga yang antusias berswafoto. Video itu dibagi dua babak, “RAW” dan “EDITED”, lengkap dengan efek kucing terbang, emoji, dan tantangan ringan: “asah skill editing, coba rate hasilnya di kolom.” Template semacam ini populer di kalangan kreator muda, dan Anies memakainya persis seperti pengguna TikTok pada umumnya.
Bagi Cupin, unggahan itu terasa akrab karena bukan yang pertama. Ia teringat bagaimana Anies sebelumnya sempat memasang status “Open to Work” di LinkedIn usai tak lagi menjabat, yang seketika dibanjiri meme oleh warganet.
Pola serupa terus berulang sepanjang dua tahun terakhir. Anies pernah membalas ajakan belajar bahasa Gen Alpha dengan kalimat “siap belajar buat naikin aura points“, dan pernah menjawab pertanyaan podcast dengan slang “no cap“.
Puncaknya terjadi awal September 2026 lalu. Ketika Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan asap kebakaran hutan yang menyeberang ke negara tetangga dengan frasa “asap enggak ada KTP”, publik langsung teringat Anies.
Sebab, frasa “angin tak punya KTP” adalah kalimat Anies pada Debat Capres Desember 2023 yang dulu ramai ditertawakan. Anies pun merespons singkat dengan nada dingin, “harusnya dulu saya daftarkan hak cipta ya”, disertai catatan serius bahwa sumber polusi kali ini berada di bawah kendali pemerintah.
Cupin mengamati bahwa respons itu meraih ribuan suka hanya dalam hitungan jam. Yang menarik, Anies tidak marah dan tidak pula menyerang, melainkan memilih humor yang justru menambah simpati.
Rentetan peristiwa ini memunculkan sebuah pertanyaan yang menggelitik Cupin. Benarkah kefasihan Anies berbahasa Gen Z hanyalah kebetulan yang menyenangkan, ataukah ini sesuatu yang lebih terencana? Dan mengapa justru bahasa anak muda yang ia pilih sebagai medan?
Lingua Gen Z?
Untuk menjawabnya, Cupin menelusuri mengapa bahasa Gen Z kini menjadi lingua franca politik yang tak bisa diabaikan. Jawaban paling sederhana ada pada aritmetika pemilih.
Berdasarkan data pemilih Pemilu 2024, Gen Z dan Milenial menyusun sekitar 60 persen dari total pemilih Indonesia. Artinya, kelompok yang paling fasih membaca kode meme sekaligus adalah blok suara terbesar.
Fenomena ini punya landasan akademik yang kokoh. Limor Shifman, dalam bukunya Memes in Digital Culture, berargumen bahwa kita hidup dalam logika hypermemetic, ketika hampir setiap peristiwa publik melahirkan meme, dan meme itu sendiri menjadi bentuk sah partisipasi warga.
Shifman menjelaskan bahwa meme yang berhasil memiliki daya tiru tinggi dan menyebar melalui peniruan serta remix. Menariknya, alih-alih menjadi objek yang di-remix warganet, Anies justru mengambil peran sebagai penulis yang menyediakan bahan mentahnya sendiri.
Ada pula lensa lain yang relevan. Sosiolog Erving Goffman, dalam karyanya The Presentation of Self in Everyday Life, menyebut konsep pengelolaan kesan, ketika seorang aktor sosial mengatur “panggung depan” untuk membentuk citra yang diterima audiens.
Di era digital, panggung depan itu adalah kolom komentar dan lini masa. Bedanya, audiens Gen Z memiliki radar yang sangat peka terhadap hal yang dianggap cringe atau berusaha terlalu keras.
Karena itu, kegagalan dan keberhasilan berbahasa Gen Z hanya berjarak setipis nada. Seorang tokoh bisa terlihat autentik atau justru memalukan, tergantung ketepatan waktu dan konteks.
Cupin menilai keberhasilan Anies justru terletak di titik ini. Balasan-balasannya menuai pujian “aura bertambah 1000”, bukan cibiran, sebuah tanda bahwa ia lolos dari ujian keaslian yang ketat itu.
Pola semacam ini bukan monopoli Indonesia. Cupin membandingkannya dengan Zohran Mamdani, politikus muda yang memenangi kursi Wali Kota New York dengan strategi video pendek yang sangat platform-native.
Kampanye Mamdani dikenal lewat konten multibahasa dan humor yang mudah dibagikan, hingga menggaet 75 hingga 78 persen pemilih muda. Para analis menyebut kekuatannya justru pada konsistensi, sebab ia memperlakukan video sosial sebagai strategi utama, bukan sekadar tempelan sesaat.
Namun, Cupin melihat satu perbedaan penting. Mamdani intensif di dalam siklus kampanye, sedangkan Anies justru menanam citranya jauh di luar musim pemilu.
Perbandingan ini membawa Cupin pada dua pertanyaan lanjutan. Jika bahasa Gen Z memang panggung strategis, lalu bagaimana Anies mengubah kefasihan ini menjadi modal jangka panjang? Dan konsep apa yang bisa menjelaskan kesabaran semacam itu?
Long Game Menanam Aura?
Cupin menemukan bahwa istilah yang paling pas justru berasal dari kamus Gen Z sendiri, yaitu aura farming. Istilah ini merujuk pada tindakan membangun karisma secara sengaja namun tampak effortless, dikumpulkan sedikit demi sedikit layaknya poin dalam permainan.
Menariknya, istilah aura farming mendunia pada 2025 justru lewat Indonesia. Video Rayyan Arkan Dikha, bocah penari haluan perahu Pacu Jalur asal Riau, menjadi ikon global tren tersebut.
Maka, penguasaan idiom ini bermuatan ganda bagi Anies. Ia terasa gaul sekaligus menyentuh rasa bangga kultural, sebuah kombinasi yang sulit ditandingi baliho konvensional.
Logika ekonominya pun masuk akal. Herbert Simon, ekonom peraih Nobel, pernah merumuskan bahwa kelimpahan informasi menciptakan kelangkaan perhatian.
Dalam pasar ketika perhatian menjadi mata uang, komentar tujuh kata yang mudah dibagikan mengalahkan siaran pers tujuh paragraf. Setiap kali Anies “berkebun aura”, ia sesungguhnya membeli aset perhatian dengan harga sangat murah untuk ditagih kelak.
Inilah inti dari long game tersebut. Momen “hak cipta” pada September 2026 bukanlah lelucon spontan, melainkan panen dari benih yang ditanam sejak akhir 2024.
Setiap unggahan sebelumnya berfungsi seperti tabungan kecil yang perlahan menumpuk. Ketika momentum yang tepat tiba, seluruh simpanan itu cair sekaligus menjadi gelombang simpati.
Meski demikian, Cupin mencatat strategi ini bukan tanpa risiko. Keaslian tidak bisa dipalsukan dua kali, dan begitu upaya ini terbaca sebagai kalkulasi belaka, aura yang dikumpulkan bertahun bisa runtuh seketika.
Selain itu, aura bukanlah tata kelola. Meme memenangi siklus perhatian, tetapi daya tahan sebuah gagasan pada akhirnya tetap bersumber dari substansi dan kebenaran di baliknya.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Anies barangkali lebih tepat disebut permainan panjang yang kebetulan paling fasih dibaca oleh Gen Z. Intinya bukan semata soal generasi, melainkan disiplin menanam dan kesabaran menunggu waktu yang tepat, sebuah keterampilan komunikasi politik yang kini menjadi penanda lanskap digital menuju 2029, ketika ruang publik Indonesia justru menunjukkan kematangannya melalui gagasan yang mampu melintasi batas kubu. (A43)





Comments are closed.