Jakarta, Arina.id — Gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus memicu gempa susulan hingga Jumat (21/8/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.256 gempa susulan, sementara jumlah korban meninggal dunia mencapai 78 orang dan pengungsi melonjak menjadi 92.735 jiwa.
Gempa susulan tersebut tercatat sejak gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Dari ribuan gempa susulan itu, sebanyak 31 kejadian memiliki magnitudo di atas M5, sedangkan 118 gempa dirasakan oleh masyarakat.
Kondisi tersebut membuat warga di sejumlah wilayah terdampak memilih tetap berada di tempat pengungsian karena khawatir terhadap keselamatan mereka dan kondisi bangunan yang terdampak gempa.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan mengimbau masyarakat tetap waspada karena gempa susulan masih terjadi dengan kekuatan yang cukup besar.
“Dengan masih banyaknya gempa susulan dan tergolong besar, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada dan tetap siap siaga. Bagi warga di daerah terdampak, perlu dipastikan kondisi bangunan apabila akan memasuki bangunan tersebut,” ujar Berton dalam konferensi pers, Kamis (20/8/2026).
Korban Meninggal Capai 75 Orang
Berton menyampaikan hingga Kamis (20/8/2026) pukul 17.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa Flores mencapai 78 orang. Sementara itu, sebanyak 907 orang mengalami luka-luka.
Jumlah korban meninggal bertambah empat orang dibandingkan data sebelumnya. Tambahan korban masing-masing berasal dari Kabupaten Sikka sebanyak dua orang, Kabupaten Manggarai satu orang, dan Kabupaten Nagekeo satu orang.
“Bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sika bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, Nagekeo bertambah satu. Korban yang luka sebanyak 907 jiwa yang semula 898 jiwa,” ujar Berton.
Selain korban jiwa, kerusakan bangunan juga terus bertambah. BNPB mencatat sebanyak 36.163 unit rumah mengalami kerusakan, atau bertambah 7.187 unit dari data sebelumnya.
Pengungsi Tembus 92.735 Jiwa
Masih terjadinya gempa susulan dengan kekuatan cukup besar turut mendorong peningkatan jumlah warga yang mengungsi.
BNPB mencatat jumlah pengungsi mencapai 92.735 jiwa, meningkat 33.088 jiwa dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 59.647 jiwa.
“Dengan banyaknya gempa susulan yang tergolong besar saat ini pengungsi pun bertambah banyak, saat ini kami mencatat ada 92.735 jiwa, semula ada 59.647 jiwa sehingga di catatan kami bertambah 33.088 jiwa,” kata Berton.
Kabupaten Nagekeo menjadi daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 21.883 jiwa. Berikutnya Kabupaten Manggarai sebanyak 9.649 jiwa dan Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.556 jiwa.
Peningkatan jumlah pengungsi terjadi seiring kekhawatiran warga terhadap gempa susulan serta kondisi rumah yang mengalami kerusakan. Warga memilih meninggalkan bangunan dan bertahan di lokasi pengungsian untuk menghindari risiko jika terjadi guncangan berikutnya.
Layanan Kesehatan Tetap Berjalan
Di tengah kepanikan warga dan bertambahnya korban, layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak terus dilakukan. Rumah sakit daerah di Ruteng serta rumah sakit lapangan di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, menjadi salah satu fasilitas yang menangani korban gempa.
Berton menyampaikan rumah sakit lapangan di Ruteng telah melakukan operasi terhadap dua pasien dan memberikan layanan rawat jalan kepada lima orang.
Sementara itu, rumah sakit lapangan di Nagekeo telah melakukan operasi terhadap lima pasien. Sebanyak 24 pasien menjalani rawat inap dan 708 orang mendapatkan layanan rawat jalan.
“Jadi angka ini akan terus bertambah seiring dengan perkembangan nanti di lapangan karena masih banyak pasien-pasien yang membutuhkan layanan dari rumah sakit maupun rumah sakit lapangan,” ujar Berton.
Dengan masih berlangsungnya gempa susulan, BNPB mengingatkan masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap mengikuti arahan petugas dan memastikan keamanan bangunan sebelum kembali memasukinya.
Data korban, pengungsi, kerusakan, maupun kebutuhan layanan kesehatan juga masih dapat berubah seiring proses pendataan dan penanganan di lapangan.



Comments are closed.