Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. 5 Anjuran Memuliakan dan Menghormati Guru menurut Ulama

5 Anjuran Memuliakan dan Menghormati Guru menurut Ulama

5-anjuran-memuliakan-dan-menghormati-guru-menurut-ulama
5 Anjuran Memuliakan dan Menghormati Guru menurut Ulama
service

Arina.id – Belajar merupakan salah satu aktivitas paling mulia dalam Islam. Melalui kegiatan menuntut ilmu, seseorang diarahkan menuju pemahaman yang lebih mendalam, kedewasaan dalam berpikir, serta kemantapan rohani. Peserta didik yang memiliki kesungguhan, ketekunan, dan konsistensi dalam menjalani proses pendidikan memiliki kesempatan besar untuk menguasai ilmu yang dipelajarinya.

Akan tetapi, keberhasilan dalam menuntut ilmu tidak cukup ditentukan oleh kecerdasan dan ketekunan saja. Terdapat satu aspek penting yang kerap terabaikan, yakni adab terhadap guru. Seorang murid tidak pantas larut dalam semangat belajar hingga mengesampingkan kewajiban menghormati dan memuliakan gurunya. Hal ini dikarenakan keberkahan ilmu sangat bergantung pada sikap hormat dan adab kepada orang yang menyampaikan ilmu tersebut.

Terkait kemuliaan guru, Rasulullah SAW pernah bersabda:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya, serta seluruh makhluk di langit dan di bumi, sampai semut di dalam lubangnya dan ikan di lautan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR. At-Tirmidzi)

Hadits ini menegaskan tingginya kedudukan seorang guru dalam pandangan Islam. Oleh karena itu, para ulama sejak masa terdahulu hingga kini senantiasa memberikan penekanan khusus terhadap kewajiban memuliakan guru sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari proses menuntut ilmu.

Merujuk sejumlah penjelasan yang dikemukakan oleh para ulama, terdapat setidaknya lima anjuran utama dalam memuliakan dan menghormati guru sebagai berikut:

1. Meyakini Kemuliaan dan Kedudukan Guru 

Seorang murid hendaknya menanamkan keyakinan bahwa gurunya memiliki keutamaan dalam ilmu serta kedudukan yang layak untuk dimuliakan. Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat 591 H) dalam karyanya menegaskan bahwa ilmu tidak akan dapat diraih dan tidak pula memberikan manfaat apabila tidak disertai dengan sikap hormat kepada guru:

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ. قِيْلَ مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ اِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ اِلاَّ بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ 

Artinya: “Ketahuilah bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat mengambil manfaat darinya, kecuali dengan mengagungkan ilmu dan para ahlinya, serta mengagungkan dan menghormati guru. Dikatakan: Tidaklah seseorang mencapai (kedudukan ilmu dan keberhasilan) kecuali dengan menjaga kehormatan (adab), dan tidaklah seseorang terjatuh kecuali karena meninggalkan kehormatan dan sikap mengagungkan.” (Ta’lim Al-Muta’alim [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 45)

2. Bersikap Tawaduk dan Menjaga Adab

Sayyidina Ali karramallahu wajhah mengungkapkan bahwa seorang penuntut ilmu berkeharusan untuk memiliki sikap rendah hati dan menjaga adab terhadap gurunya, sekalipun guru tersebut lebih muda usianya, kurang dikenal, atau secara kedudukan sosial berada di bawah muridnya. Melalui sikap tawaduk inilah ilmu dapat diraih dan bernilai berkah.

Beliau pernah mengungkapkan pernyataan yang sarat dengan ketawadukan:

قَالَ عَلِيٌّ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا إنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ اسْتَرَقَّ 

Artinya: “Sayyidina Ali Karamallahuwajhah berkata: Saya adalah hamba sahaya bagi orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya jika ingin menjual, dan (juga) terserah jika ingin tetap menjadi hamba sahaya.” (Bariqah Mahmudiyah [Mesir: Mathba’ah Al-Halabi], vol. 5, h. 185)

Ungkapan ini mencerminkan tingginya penghormatan para sahabat Nabi terhadap guru dan ilmu pengetahuan. Mereka meyakini bahwa ilmu tidak akan dapat meresap ke dalam hati seseorang kecuali melalui jalan adab dan akhlak yang mulia.

3. Memuliakan Guru Sebagai Bentuk Memuliakan Ilmu

Syekh Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi (wafat 1310 H) menjelaskan bahwa sikap memuliakan guru pada hakikatnya merupakan wujud pemuliaan terhadap ilmu itu sendiri. Seseorang yang tidak menghormati gurunya berarti ia tidak memuliakan ilmu yang sedang dipelajarinya. Dan barang siapa tidak memuliakan ilmunya, maka selama apa pun ia menekuninya, ia tidak akan pernah memperoleh esensi daripada ilmu tersebut:

كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضَا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ 

Artinya: “Jadilah kamu orang yang memuliakan serta mengagungkan pada gurumu. Karena sungguh, memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan memuliakan orang yang berilmu. Dan, jadilah kamu orang yang yakin pada kapasitas dan keunggulannya pada orang yang ada pada masanya.” (Kifayah Al-Atqiya wa Minhaj Al-Ashfiya [Beirut: Darul Kutub Ilmiah], h. 170)

4. Melayani Guru dengan Penuh Keikhlasan 

Bentuk pelayanan ini tidak selalu bersifat fisik, tetapi juga berupa kesiapan mendengar, patuh terhadap nasihat, dan menjaga nama baik guru. Syekh Burhanuddin Az-Zarnuji mengatakan bahwa seorang murid semestinya mengagungkan gurunya, memuliakannya, dan melayaninya dengan penuh adab, sebagaimana seorang hamba melayani tuannya:

وَيَنْبَغِي لِلطَّالِبِ أَنْ يُعَظِّمَ مُعَلِّمَهُ وَيُكْرِمَهُ وَيَخْدِمَهُ خِدْمَةَ الْعَبْدِ لِسَيِّدِهِ

Artinya: “Seyogyanya bagi seorang murid untuk mengagungkan gurunya, memuliakannya, dan melayaninya sebagaimana seorang budak melayani tuannya.” (Ta’lim Al-Muta’alim [Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah], h. 46)

Pernyataan demikian tidak dimaksudkan sebagai bentuk merendahkan diri secara berlebihan, melainkan sebagai simbol ketulusan niat, sikap tawaduk, serta penghormatan yang semestinya dijunjung tinggi dalam proses menuntut ilmu.

5.    Menjaga Hubungan Batin dan Doa kepada Guru

Menghormati guru tidak berhenti seiring berakhirnya proses pembelajaran, melainkan terus berlanjut sepanjang hayat melalui doa dan sikap penuh takzim. Oleh sebab itu, ikatan batin antara murid dan guru semestinya senantiasa terjaga, baik melalui upaya menjalin silaturahmi maupun dengan senantiasa memanjatkan doa kebaikan bagi mereka:

قَالَ بَعْضُهُمْ: سَبْعُونَ مِنْ مِائَةٍ إِنَّ الْعِلْمَ يُنَالُ بِسَبَبِ قُوَّةِ الرَّابِطَةِ بَيْنَ الْمُرِيدِ وَشَيْخِهِ

Artinya: “Sebagian orang salih berkata: 70 persen ilmu itu diperoleh dengan sebab kuatnya hubungan antara murid dan gurunya.” (Al-Fawaid Al-Mukhtarah [Tarim: Dar Al-Ilmi wa Ad-Da’wah], h. 40)

Kesimpulan

Dengan memuliakan guru, seorang penuntut ilmu tidak hanya meraih pengetahuan secara lahiriah, tetapi juga memperoleh keberkahan serta manfaat yang mendalam dari ilmu tersebut. Sebaliknya, sikap meremehkan guru justru menjadi penghalang masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

Oleh karena itu, memuliakan guru bukan sekadar etika dalam konteks pergaulan semata, melainkan jalan spiritual yang mengantarkan pada keberhasilan di dunia dan akhirat. Inilah warisan adab yang telah diteladankan oleh para ulama dan patut terus dijaga serta diamalkan oleh para penuntut ilmu di setiap zaman, utamanya di era krisis akhlak dan keteladanan seperti sekarang. Wallahu a’lam bish shawab.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=A. Zaeini Misbaahuddin Asyuari
Redaktur Keislaman Arina.id. Alumnus Program Marhalah Tsaniyah Ma’had Aly Lirboyo Kediri, Jawa Timur.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.