Tangsel, Arina.id—Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) Kementerian Agama berhasil mengefisienkan anggaran pengembangan kompetensi sebesar Rp8,6 triliun selama tahun 2025. Efisiensi tersebut diperoleh melalui pemanfaatan layanan digital dalam pelaksanaan pelatihan dan pengembangan kompetensi aparatur serta masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Pusbangkom SDM Kemenag, Mastuki, di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (15/1/2026).
Mastuki menjelaskan bahwa transformasi digital dalam pengembangan kompetensi telah mengubah secara signifikan pola pelatihan konvensional yang selama ini membutuhkan biaya besar, terutama untuk akomodasi, transportasi, konsumsi, dan penggunaan sarana fisik.
Melalui pemanfaatan platform pembelajaran digital MOOC Pintar, proses peningkatan kompetensi dapat dilakukan secara efisien, luas, cepat, dan dan efektif tanpa mengurangi kualitas pembelajaran.
“Pengembangan kompetensi melalui MOOC Pintar ini sangat efisien, nilainya mencapai Rp8,6 triliun,” jelasnya.
Mastuki mengungkapkan, angka rp8.6 triliun itu adalah nilai manfaat jika pengembangan kompetensi dilaksanakan dengan pola tatap muka.
Rinciannya, selama tahun 2025, peserta pengembangan kompetensi sebanyak 1.532.242 orang. Jika dilakukan secara tatap muka, maka membutuhkan 51.074 kelas. Jika satu kelas membutuhkan biaya rata-rata sebesar Rp170 juta, maka total biaya yang dibutuhkan adalah Rp8.682 triliun.
“Pengambangan kompetensi dengan pola konvensional berbiaya sangat mahal dan membutuhkan effort yang sangat besar. Tapi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, semua bisa dilakukan dengan biaya yang sangat murah,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, tambah Mastuki. Pengembangan kompetensi dengan pola digital ini juga sangat ramah dengan lingkungan, karena semua dilakukan tanpa menggunakan kertas, paperless.
Mastuki merinci, jika pengembangan kompetensi dilakukan secara tatap muka, maka per kelas membutuhkan rata-rata tiga rim kertas. Jika satu batang pohon menghasilkan rata-rata 16 rim kertas, maka 51.074 kelas membutuhkan 153.222 rim kertas.
“153.222 rim kertas itu setara dengan 9.576 batang pohon. Dengan konsep paperless, pohon sebanyak itu tidak perlu ditebang,” rincinya.
Mastuki mengungkapkan rasa syukurnya atas capaian digitalisasi ini. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan komitmen Kementerian Agama dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan penguatan ekoteologi, yakni kesadaran keberagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan.
“Transformasi digital tidak hanya soal efisiensi dan efektivitas kerja, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dan ekologis institusi negara,” ujarnya.
Mastuki menambahkan, layanan digital memungkinkan pengembangan kompetensi dilakukan secara lebih inklusif dan merata. Aparatur dan masyarakat dari berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil, kini memiliki akses yang sama terhadap sumber belajar berkualitas tanpa terkendala jarak dan waktu. Hal ini dinilai memperkuat keadilan akses sekaligus mempercepat peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Mastuki mengajak, ke depan, Pusbangkom SDM Kementerian Agama akan terus memperluas dan menyempurnakan layanan digital pengembangan kompetensi, tidak hanya dalam bentuk pelatihan, tetapi juga melalui klinik pengetahuan, knowledge sharing, berbagi praktik baik, dan penguatan ekosistem pembelajaran berkelanjutan.
“Digitalisasi adalah ikhtiar strategis untuk membangun SDM yang unggul, berakhlak, dan responsif terhadap tantangan zaman,” pungkas Mastuki.





Comments are closed.