Bincangperempuan.com- Akun Tiktok Plenger Family sedang jadi topik perdebatan di antara netizen. Keluarga ini secara terbuka membagikan keseharian mereka yang menerapkan unschooling—sebuah model pendidikan alternatif di mana anak belajar secara alami berdasarkan minat dan rasa ingin tahunya, tanpa mengikuti kurikulum sekolah formal.
Lewat konten-konten yang mereka unggah, Plenger Family kerap menampilkan gaya hidup pendidikan yang berpusat pada anak. Namun, sorotan publik tidak berhenti pada konsep unschooling itu sendiri. Perdebatan justru menguat ketika aktivitas harian anak mereka, Jane, lebih banyak ditampilkan di rumah, seperti membuat cookies, memasak, hingga menjual hasil karyanya.
Hal inilah yang memicu kritik tajam dari sebagian netizen. Tidak sedikit yang mempertanyakan apakah praktik tersebut masih bisa disebut sebagai proses belajar, atau justru mendekati bentuk eksploitasi anak. Apalagi Jane diketahui masih berusia sekitar 11 tahun.
Dari sini, diskusi pun melebar. Bukan hanya soal pilihan pendidikan, tetapi juga menyentuh isu hak-hak anak, batasan pengawasan orang tua, serta etika menampilkan kehidupan anak di media sosial. Kampanye unschooling yang pun berubah menjadi perdebatan, apakah ini benar-benar pendidikan alternatif yang berpihak pada anak, atau justru romantisasi kerja anak dengan bungkus kebebasan belajar?
Baca: Dark Side : Fakta Pendidikan Kedokteran Indonesia yang Penuh Cerita Bullying
Apa Itu Unschooling?
Unschooling adalah metode belajar yang membebaskan anak dari sistem pendidikan formal dan kurikulum baku. Namun, penting ditegaskan bahwa unschooling bukan berarti anak tidak belajar sama sekali. Sebaliknya, anak justru belajar melalui kehidupan sehari-hari, pengalaman nyata, dan dorongan rasa ingin tahu yang datang dari dalam dirinya.
Karena prinsipnya tersebut, unschooling kerap disebut juga sebagai child-led learning, natural learning, atau self-directed education. Istilah unschooling pertama kali diperkenalkan oleh John Holt, seorang penulis dan advokat pendidikan alternatif, pada 1970-an. Holt meyakini bahwa sekolah bukan satu-satunya ruang belajar, dan bahwa sistem pendidikan formal kerap justru mematikan rasa ingin tahu alami anak.
Konteks Plenger Family, pilihan unschooling juga tidak muncul begitu saja. Sang ibu diketahui pernah berprofesi sebagai guru, sementara ayahnya memiliki pengalaman sebagai dosen. Lewat sejumlah unggahan, mereka kerap menyampaikan kritik terhadap sekolah formal yang dianggap mahal, penuh tekanan akademik, rentan perundungan, serta tidak selalu menjamin kesuksesan di masa depan. Berangkat dari pengalaman dan pandangan tersebut, mereka memilih untuk tidak menyekolahkan Jane secara formal.
Dampak Positif Unschooling
Peneliti pendidikan Gina Riley, dalam paper-nya mengaitkan unschooling dengan teori self-determination. Teori ini menunjukan ada tiga kebutuhan psikologis dasar anak seperti merasa kompeten, memiliki otonomi, dan merasa terhubung dengan lingkungan sekitarnya.
Lingkungan belajar yang memberi kebebasan memilih apa yang ingin dipelajari dinilai dapat memenuhi ketiga kebutuhan tersebut. Anak tidak belajar karena tuntutan nilai atau ujian, melainkan karena dorongan intrinsik. Pembelajaran pun berpotensi menjadi lebih bermakna karena anak terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan.
Praktiknya, anak yang menjalani unschooling sering disebut memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi dan kesadaran diri terhadap minatnya. Melalui pendampingan orang tua yang memadai, metode ini dapat mendorong kreativitas, kemandirian, serta kemampuan problem solving sejak dini.
Tapi… Gimana dengan Aspek Sosial?
Di sinilah kritik paling sering diarahkan. Banyak netizen mempertanyakan bagaimana anak yang menjalani unschooling dapat bersosialisasi jika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah tanpa berinteraksi dengan teman sebaya di sekolah.
Berbagai riset menunjukkan bahwa pengalaman anak di luar rumah—seperti bermain dengan teman, mengikuti klub, atau terlibat dalam kegiatan komunitas—berkorelasi kuat dengan perkembangan keterampilan sosial dan emosional. Kemampuan berbagi, bekerja sama, hingga mengelola konflik biasanya terasah lewat interaksi rutin dengan teman sebaya.
Anak unschooling yang minim paparan lingkungan sosial berisiko mengalami keterbatasan dalam latihan interaksi kelompok. Kesempatan untuk belajar menghadapi konflik antar teman juga bisa menjadi lebih sedikit, padahal pengalaman tersebut penting dalam tahap perkembangan awal.
Namun, kondisi ini tidak bersifat mutlak. Keluarga yang menerapkan unschooling tetap dapat menutup celah tersebut dengan cara aktif mengajak anak bergabung dalam komunitas belajar, kelompok unschooling, klub hobi, atau kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga tim.
Baca juga: Mengapa Pendidikan Seks Inklusif Itu Penting?
Aspek Psikologis: Antara Kebebasan dan Tantangan
Unschooling juga sering dikaitkan dengan isu kesehatan mental anak. Di satu sisi, metode ini menawarkan kebebasan dari tekanan prestasi akademik, dan tuntutan nilai yang sering memicu stres bahkan burnout pada anak. Anak memiliki ruang untuk mengembangkan minatnya dengan ritme sendiri, yang berpotensi membuat mereka merasa lebih nyaman, dihargai, dan termotivasi secara internal.
Namun, tantangan muncul ketika berbicara soal kesiapan anak menghadapi struktur sosial yang lebih teratur, baik dalam pendidikan lanjutan maupun dunia kerja. Anak dengan pengalaman sosial terbatas dapat mengalami kesulitan beradaptasi di lingkungan yang menuntut struktur, disiplin waktu, dan kerja kolektif.
Pilihan unschooling pada akhirnya merupakan keputusan personal setiap keluarga. Tetapi penting untuk memahami dampaknya secara menyeluruh baik positif maupun negatif. Dan memastikan pilihan tersebut benar-benar berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Unschooling sah secara filosofis dan berpotensi memberikan dampak psikologis yang positif, terutama dalam hal motivasi belajar dan kemandirian. Meski begitu, kritik publik soal potensi isolasi sosial bukanlah kekhawatiran tanpa dasar. Berbagai sumber menyebutkan interaksi anak dengan teman sebaya di luar rumah memegang peran penting dalam perkembangan sosial dan emosional.
Dari kasus Plenger Family, perdebatan yang muncul seharusnya tidak berhenti pada pro dan kontra semata. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kebebasan belajar tidak bergeser menjadi beban tanggung jawab yang terlalu dini bagi anak, serta bahwa hak anak untuk tumbuh, bermain, dan bersosialisasi tetap terpenuhi.
Referensi:
- Riley, G. (2018). Unschooling: A direct educational application of Deci and Ryan’s (1985) self-determination theory and cognitive evaluation theory. European Journal of Alternative Education Studies, 3(1). https://doi.org/10.46827/ejae.v0i0.1482
- Volodina, A. (2023). Home learning environment and out-of-home activities: Their relations to prosocial behaviour and peer relationships in primary school children. Current Psychology, 42, 23619–23633. https://doi.org/10.1007/s12144-022-03410-6
- BetterHelp Editorial Team. (n.d.). How does unschooling impact the mental health of children? BetterHelp. https://www.betterhelp.com/advice/current-events/how-does-unschooling-impact-the-mental-health-of-children/





Comments are closed.