Mubadalah.id – Sikap negatif suami atau istri dapat berkontribusi pada semakin keruhnya persoalan. Menikah adalah tentang berbagi, mempertimbangkan keberadaan pasangan, serta memahami dampak dari perbuatan, perkataan, dan sikap kita.
Tepo seliro, atau kemampuan mempertimbangkan perasaan pasangan, sangat penting agar pasangan dapat bertindak, berperilaku, dan berbicara dengan nyaman serta bijaksana.
Egoisme
Egoisme adalah kondisi seseorang yang menganggap dirinya lebih penting dari orang lain, serta tidak memikirkan orang lain dan kesejahteraan mereka.
Sikap egois dalam kehidupan keluarga akan sangat mengganggu relasi suami-istri, karena dalam perkawinan baik suami maupun istri memiliki kedudukan yang setara. Menikah sesungguhnya tidak lagi berbicara tentang kepentingan “saya”, tetapi berubah menjadi kepentingan “kita”.
Egoisme dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat, misalnya, dari sikap sulit menerima masukan orang lain karena merasa pendapat pribadi jauh lebih baik.
Selain itu, sikap egois juga dapat menghasilkan perilaku acuh tak acuh dan, secara tidak sadar, menyakiti orang lain. Misalnya, ketika sudah menikah, suami masih hanya memikirkan hobinya sendiri tanpa memperhatikan hobi istrinya.
Untuk menghindari sikap egois, seseorang perlu menumbuhkan rasa peduli kepada sesama serta menghilangkan prasangka buruk kepada orang lain.
Pasangan juga perlu menghindari kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain agar tidak tumbuh sikap iri, serta bersabar dalam menyikapi masalah. Selain itu, penting untuk belajar menerima masukan dari orang lain dan berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
A: Kamu ini mancing terus, kapan dong menuruti hobiku jalan-jalan.
B: Sesekali jalan-jalan yuk, biar gantian dengan hobiku. []
*)Sumber Tulisan: Buku Fondasi Keluarga Sakinah hlm 183-184





Comments are closed.