Arina.id – Gelombang demonstrasi besar-besaran di Iran menyebabkan kerusuhan hampir di seluruh provinsi. Kepolisian setempat mengatakan telah menangkap lebih dari 200 provokator kerusuhan di berbagai provinsi di Republik Islam tersebut, Minggu 25 Januari 2026.
Seperti dilaporkan kantor berita Tasnim, lebih dari 150 orang dilaporkan telah ditahan di Kota Yazd. Selain itu, polisi juga menahan 19 demonstran di Provinsi Semnan, termasuk 15 orang di Kota Shahrud yang dituding telah merusak kantor pemadam kebakaran, bank cabang dan kendaraan penegak hukum.
Tasnim juga melansir bahwa petugas intelijen telah mengamankan 40 perusuh di Provinsi Golestan utara. Para tahanan dilaporkan kedapatan membawa berbagai senjata dan barang-barang lainnya.
Sebelumnya, demonstrasi besar-besaran di Iran ini sudah terjadi sejak Desember 2025 di tengah kekhawatiran atas meningkatnya inflasi yang dipicu oleh melemahnya mata uang lokal, rial. Media-media barat mengulas demostrasi ini, dan menyebut ribuan demonstran tewas sejak pertama kali protes di lakukan.
Hal ini kemudian memicu serangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Trump meminta Iran tidak mengeksekusi mati para demonstran. Tensi ketegangan Amerika-Iran pun terus naik. Respons Trump pun meninggi pula dengan mengirim militer besarnya ke kawasan Timur Tengah.
Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, dalam kunjungan singkatnya ke Israel, mengatakan pasukan Amerika telah ditumpuk di Timur Tengah dan disebar ke berbagai wilayah. Cooper tiba di Timur Tengah untuk mengatasi perkembangan terbaru di Suriah, khususnya, pengambilalihan wilayah yang sebelumnya dipegang oleh Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi.
Selain itu, seperti dikutip dari Aljazeera, kedatangan Cooper juga dalam rangka pemindahan ribuan tahanan kelompok teror Negara Islam (ISIS, dilarang di Rusia karena terorisme) dari Suriah ke Iran. Pada Kamis, dua hari sebelumnya, Donald Trump mengatakan bahwa sejumlah besar kapal militer AS telah bergerak menuju Iran “untuk berjaga-jaga.”
Kemudian dalam dua hari terakhir, tiga pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat juga terlihat dipindahkan dari Jerman ke negara-negara di Timur Tengah, termasuk Kuwait dan Qatar. Pemindahan pesawat militer AS ini nampak dalam laporan data Flightradar24.
Menurut layanan pelacak penerbangan tersebut, sebagaimana dilaporkan Sputnik, sebuah pesawat tanker Boeing KC-135R Stratotanker mendarat di Qatar pada Minggu sekitar pukul 18.23 GMT (Senin, 01.23 WIB). Kemungkinan besar pesawat itu berangkat dari Pangkalan Angkatan Udara AS Ramstein di Jerman.
Selain itu, pada Sabtu sekitar pukul 20.40 GMT (Minggu 03.40 WIB), sebuah pesawat angkut militer Boeing C-17A Globemaster III mendarat di Kuwait, dengan titik keberangkatan tercatat dari Trier, Jerman. Terakhir, Sabtu sekitar pukul 21.54 GMT (Minggu, 04,52 WIB), pesawat C-17A lainnya yang berangkat dari Pangkalan Udara AS Spangdahlem di Jerman menghilang dari radar di wilayah selatan Kuwait.
Lebih lanjut, berdasarkan data Flightradar24, AS juga mengerahkan pesawat angkut militer Lockheed Martin C-130J Hercules dari Bahrain ke wilayah Kuwait tengah. Selain itu, sekitar pukul 01.54 GMT (08.54 WIB) pada 25 Januari, sebuah pesawat tanker KC-135R AS mendarat di Qatar.





Comments are closed.