Mon,20 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

menyelami-puisi-kritis-joko-pinurbo-bersama-anak-anak
Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak
service

Mubadalah.id – Pagi tadi, saya meminta siswa kelas enam melakukan satu hal sederhana yaitu memilih satu puisi yang menurut mereka menarik, menyalinnya di buku masing-masing, lalu membacakannya di depan kelas. Tidak ada target rumit. Saya hanya ingin mereka bertemu puisi secara personal kemudian membaca, merasakan, lalu berpikir.

Dari sekian puisi yang terpilih, satu puisi tiba-tiba menghentikan kelas kami. Tukang Cukur karya Joko Pinurbo.

“Bu… Puisi ini sepertinya bermaksud lain. Bukan tukang cukur beneran. Masa sejahat itu tukang cukur?” Tanya siswa saya dengan kritis.

Kalimat itu menjadi pintu. Karena semua penasaran, maka kami sepakat untuk memaknai puisi Jokpin bersama.

Tukang Cukur sebagai Metafora

Kami membaca puisi itu bait demi bait. Tidak ada benar salah dalam menafsirkan puisi. Saya memantiknya dengan pertanyaan: siapa tukang cukur ini? apa yang ia cukur? mengapa terasa menakutkan?

Sejak bait awal, tukang cukur tergambarkan datang dengan alatnya yaitu pisau, gunting, dan tindakan yang tampak rapi. Namun anak-anak segera menangkap satu hal penting bahwa yang dicukur oleh tukang cukur bukan sekadar rambut.

“Puisi ini membahas tentang apa, teman-teman?”

“Hutan!”

Siswa saya yang lain menyambung,

“Tanah yang dicukur, Bu!”

Dari sanalah makna puisi mulai tumbuh.

Bait Pertama:

Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur
di kepalaku. Ia membabat rasa damai
yang merimbun sepanjang waktu.

Secara literal, bait ini tampak seperti aktivitas mencukur rambut. Namun Joko Pinurbo menggeser makna rambut menjadi lanskap alam: padang rumput, tumbuh subur, merimbun.

Dalam kajian semiotik (Riffaterre), ini kita sebut pengalihan makna. Kepala bukan lagi tubuh manusia, melainkan wilayah hidup. Rambut bukan sekadar rambut, melainkan sesuatu yang tumbuh alami dan lestari.

Kalimat “Ia membabat rasa damai” menjadi titik penting bagi anak-anak. Mereka memahami bahwa yang dirusak bukan hanya fisik, tetapi ketenteraman hidup.

Bait Kedua:

Di bekas hutan ini akan kubangun bandar, hotel,
dan restoran. Tentunya juga sekolah,
rumah bordil, dan tempat ibadah.

Bait ini adalah jantung kritik sosial puisi. Kata bekas hutan menandakan bahwa perusakan telah terjadi sebelum janji pembangunan terumumkan.

Daftar bangunan yang disusun secara ironis, sekolah berdampingan dengan rumah bordil, tempat ibadah berdiri di atas bekas kehancuran menunjukkan narasi pembangunan yang menutupi kekerasan.

Seorang siswa bertanya polos,

“Bu, kok sekolah dibangun di bekas hutan? Maksudnya hutannya dirusak terus diganti bangunan baru?”

Pertanyaan itu membuat saya tersenyum megah. Jelas menunjukkan bahwa anak-anak tidak sekedar membaca teks, tapi mulai membaca dunia.

Dalam perspektif Islam, tindakan ini bertentangan dengan prinsip rahmatan lil ‘alamin. Al-Qur’an secara tegas mengingatkan, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya” (QS. Al-A’raf: 56). Merusak alam dan rasa damai berarti mengkhianati amanah sebagai khalifah di bumi.

Bait Ketiga

Ia menyayat-nyayat kepalaku.
Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku.

Kekerasan di bait ini menjadi personal. Kata menyayat-nyayat menggambarkan luka yang berulang, sementara mengkapling-kapling adalah bahasa administratif yang kerap digunakan dalam praktik perampasan tanah.

Tanah pusaka nenekmoyangku menghadirkan konteks masyarakat adat, bahwa tanah adalah identitas, bukan sekadar aset ekonomi. Anak-anak merasakan empati. Yang terampas bukan hanya tanah, tetapi hubungan manusia dengan asal-usulnya.

Dalam Islam, tanah adalah amanah, bukan kepemilikan absolut. Ketika tanah terampas dari mereka yang menggantungkan hidup dan martabatnya di sana, yang terjadi bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi pelanggaran moral dan spiritual. Anak-anak merasakan empati di bagian ini: yang dirampas bukan hanya tanah, tetapi hubungan manusia dengan asal-usulnya.

Bait Keempat:

“Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu.
Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu.”
Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku.

Ancaman di bait ini terdengar lembut, tetapi menakutkan. Inilah gambaran kekuasaan yang bekerja lewat intimidasi psikologis.

Suara gunting yang mengganggu tidur menandakan trauma. Kekerasan tidak berhenti saat tindakan selesai, ia menetap dalam ingatan.

Sastra sebagai Alat Kritik

Dengan keseluruhan bait ini, jelas bahwa tukang cukur dalam puisi Joko Pinurbo bukan sembarang tukang cukur. Ia adalah simbol kekuasaan yang datang, kemudian merusak atas nama kerapian dan pembangunan, lalu meninggalkan trauma.

Joko Pinurbo menggunakan bahasa sehari-hari untuk membicarakan pembalakan, perampasan tanah adat, dan kekerasan struktural. Sastra bekerja sebagai kritik yang pelan, tetapi mengakar.

Sebagai guru, hari itu saya belajar banyak dari murid-murid saya sendiri. Saya menyadari bahwa anak-anak tidak kekurangan kemampuan berpikir. Mereka hanya sering kekurangan ruang untuk bertanya dan mereka percaya.

Puisi membuka ruang itu. Ia membuat kelas menjadi tempat aman untuk ragu, untuk tidak langsung sepakat, untuk berbeda tafsir. Saya melihat mata mereka berbinar bukan karena menemukan jawaban yang benar, tetapi karena merasa pendapatnya terdengar.

Saya juga belajar bahwa pembelajaran sastra bukan soal menghafal pengertian majas atau struktur puisi. Ia adalah proses membangun kepekaan pada ketidakadilan, pada penderitaan orang lain, pada luka yang tidak selalu tampak. Saya tahu bahwa puisi telah bekerja melampaui kurikulum. Ia menyentuh wilayah paling manusiawi.

Hari itu saya pulang dengan keyakinan yang semakin kuat bahwa sastra, ketika kita ajarkan dengan hati, tidak hanya membentuk pembaca yang cakap, tetapi manusia yang peka dan berani berpikir. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.