Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Penumpukan Sampah di Sungai, Antara Perilaku Warga dan Sistem Pengelolaan

Penumpukan Sampah di Sungai, Antara Perilaku Warga dan Sistem Pengelolaan

penumpukan-sampah-di-sungai,-antara-perilaku-warga-dan-sistem-pengelolaan
Penumpukan Sampah di Sungai, Antara Perilaku Warga dan Sistem Pengelolaan
service

Jakarta, NU Online

Penumpukan sampah di sungai dan drainase perkotaan yang kerap terlihat saat banjir kembali memunculkan. Tim Riset dan Pengkampanye Urban Berkeadilan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Wahyu Eka Setyawan menegaskan bahwa masalah tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai kesalahan warga semata.

“Penumpukan sampah itu kegagalan sistem atau perilaku? Bukanlah terutama akibat perilaku masyarakat, melainkan cerminan kegagalan negara dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh dan lemahnya pengawasan,” ujar Wahyu kepada NU Online pada Senin (26/1/2026).

Pemerintah, menurutnya, masih memandang sampah secara sempit sebagai urusan hilir di tempat pemrosesan akhir (TPA), tanpa menyentuh upaya pengurangan dan pengelolaan sejak dari sumbernya.

“Kegagalan ini diperparah oleh tidak terbangunnya sistem yang terintegrasi dengan edukasi publik yang memadai,” ucapnya.

Wahyu juga menyampaikan bahwa penegakan hukum lingkungan terhadap pembuangan limbah rumah tangga dan industri masih lemah serta berlangsung tanpa efek jera.

“Buruknya pengawasan lapangan dan sinkronisasi antar pemerintah daerah, termasuk di sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo, sehingga penumpukan sampah dan sedimentasi terus berulang,” terangnya.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya memicu banjir, tetapi juga menjadi indikator kebangkrutan ekologis dan salah urus tata ruang.

“Negara lebih memilih solusi teknis jangka pendek ketimbang pembenahan sistemik dan pemulihan lingkungan yang berkelanjutan,” katanya.

Wahyu menilai kegagalan paling serius juga terjadi secara berlapis dari hulu hingga hilir daerah aliran sungai (DAS).

“Di hulu, kegagalan utama berupa alih fungsi kawasan lindung dan resapan air menjadi properti, wisata, dan proyek infrastruktur,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa kerusakan zona penyangga ekologis akibat ekspansi kawasan terbangun terlihat, misalnya pada perubahan wilayah Semarang Atas dan bagian tengah DAS Babon yang berkembang menjadi permukiman padat dan kawasan komersial.

Sementara itu, di wilayah hilir, persoalan semakin diperparah oleh industrialisasi dan pendekatan teknis semata. Walhi menyoroti reklamasi pesisir dan hilangnya mangrove di Semarang dan Surabaya, penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah di kawasan industri pesisir, serta pendangkalan sungai akibat sedimentasi dari erosi hulu dan penumpukan sampah.

“Semuanya memperlihatkan bahwa krisis banjir di Jawa merupakan hasil akumulasi kegagalan tata kelola DAS dan telah mencerminkan kondisi kebangkrutan ekologis,” katanya.

Walhi mengkritik langkah mitigasi banjir yang masih bertumpu pada solusi teknis seperti normalisasi sungai, pembangunan tanggul, dan pembangunan giant sea wall.

“Solusi-solusi ini justru sebagai bukti gagalnya kebijakan pemerintah karena mengabaikan persoalan tata ruang,” tegas Wahyu.

Kebijakan yang memfasilitasi alih fungsi ruang, pembangunan yang menabrak batas-batas ekologis seperti alih fungsi ruang terbuka hijau (RTH), serta perubahan kawasan lindung termasuk hutan, dinilai memperparah krisis ekologis.

“Pemerintah juga tidak melihat upaya bernama ekosistem baik darat maupun di pesisir, sebagai bagian dari solusi jangka panjang penanganan banjir dan penumpukan sampah di sungai,” pungkas Wahyu.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.