Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. “Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua

“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua

“ini-juga-keluarga-kita”:-cerita-chef-prancis-di-dapur-pengungsian-cisarua
“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua
service

“Ini Juga Keluarga Kita”: Cerita Chef Prancis di Dapur Pengungsian Cisarua


“Ini bukan soal negara atau bahasa. Ini soal manusia,” kata David.

Seorang executive chef asal Prancis, David Caileba, turun ke dapur umum pengungsian Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Perannya bukan tamu, pengamat, ahli gizi, atau pengawas. David adalah relawan yang sama-sama bekerja dengan para relawan lain di dapur darurat milik Kementerian Sosial.

Dapur umum itu berada di halaman SD Negeri Pasirlangu. Sekolah dasar tersebut dialihfungsikan sementara jadi dapur umum untuk mendukung kebutuhan para pengungsi korban longsor.

Di sana, David turut serta menyiapkan ribuan porsi makanan untuk para penyintas. Ia terlibat langsung dalam proses memasak, mulai dari menyiapkan bahan hingga memastikan makanan siap dibagikan kepada warga terdampak.

Keputusan David untuk ke Cisarua bukan tiba-tiba atau tanpa alasan. Informasi tentang kebutuhan relawan dapur ia peroleh dari grup WhatsApp Indonesian Chef Association (ICA).

“Awalnya saya lihat informasi di grup, katanya butuh relawan untuk masak di sini,” ujar David, dikutip dari Kompas.com.

Jarak rumahnya di Dayeuhkolot ke lokasi bencana sekitar 33 kilometer. Tidak dekat sih, tapi masih masuk akal untuk ditempuh, bahkan saat hujan dan banjir menghalangi.

“Kalau tidak bisa lewat, saya pakai motor hingga 33 km untuk sampai di sini. Kadang hujan dan banjir, tetapi tidak apa-apa,” katanya.

Sebenarnya, siapa David Caileba?

Dalam keseharian profesionalnya, David adalah executive chef di hotel bintang lima. Posisi ini merujuk pada kepala dapur yang lebih banyak mengatur sistem, standar menu, hingga manajemen tim.

Chef David Caileba jadi relawan di dapur umum SD Negeri Pasirlangu

info gambar

Chef David Caileba jadi relawan di dapur umum SD Negeri Pasirlangu © kompas.com


Nah, di Cisarua, ia memastikan menu makanan bervariasi agar pengungsi tidak bosan. Setiap hari, dapur umum Cisarua menyiapkan sekitar 2.100 paket makanan. Proses memasak dilakukan satu kali untuk setiap waktu makan.

Kadang dapur menyajikan ayam saus Inggris, ayam bumbu manis, terong balado, dan sambal. Di hari lain, bahkan sempat ada tortilla khas Spanyol.

“Menunya beda-beda setiap hari. Kemarin bahkan ada tortilla khas Spanyol,” ujar David.

Meski berlatar kuliner Barat, David menyesuaikan masakannya. Ia pun sengaja membatasi penggunaan cabai walaupun ia paham masyarakat Indonesia gemar dengan rasa pedas.

“Saya masak makanan yang sehat saja. Jangan terlalu banyak cabai, saya khawatir nanti masyarakat banyak yang harus antre ke toilet,” katanya.

Sebab, di dapur darurat, isu utama adalah sanitasi. Sanitasi berarti kebersihan lingkungan sekaligus kebersihan peralatan agar makanan aman dikonsumsi. David memberi perhatian khusus pada hal ini.

Ia pun mengapresiasi relawan dan petugas yang menjaga kebersihan dapur. Mulai dari alur bahan mentah, pengolahan, hingga distribusi.

Bukan Pengalaman Pertama Menolong, tapi Pertama di Zona Bencana

Sebelum datang ke Cisarua, David sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan sosial. Selama dua bulan terakhir, ia rutin membuat roti dan makanan untuk program Jumat Berkah di sejumlah wilayah di Bandung. Aktivitas itu ia lakukan secara berkala, di luar pekerjaannya sebagai chef profesional.

Namun, pengalaman di Pasirlangu adalah kali pertama ia terjun langsung di lokasi bencana.

“Ini bukan soal negara atau bahasa. Ini soal manusia,” kata David.

Baginya, para penyintas bukan orang asing. Ia melihat mereka sebagai bagian dari keluarga besar yang sedang tertimpa musibah.

“Ini juga keluarga kita ya yang ada di bencana ini,” tambahnya.

Dedikasi David mendapat apresiasi dari Ketua Indonesian Chef Association (ICA) Bandung Barat, Rukanda Koswara. Menurut Rukanda, kontribusi David tidak hanya terlihat di dapur.

“Selain masak, beliau ini mencari donasi donatur untuk keperluan dapur,” ujar Rukanda.

Bagi dapur umum Pasirlangu, dukungan semacam itu terasa nyata saat bahan bisa kembali diolah dan makanan tetap dibagikan sesuai jadwal. David pun berencana bertahan di lokasi hingga operasi penanganan bencana dinyatakan selesai.

“Insyaallah kalau bisa sampai selesai, mungkin 10 hari lagi,” ujarnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.