Tue,8 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Di Ujung Ketidakpastian, Warga Terdampak Bencana Bangun Gubuk Darurat Jelang Ramadhan

Di Ujung Ketidakpastian, Warga Terdampak Bencana Bangun Gubuk Darurat Jelang Ramadhan

di-ujung-ketidakpastian,-warga-terdampak-bencana-bangun-gubuk-darurat-jelang-ramadhan
Di Ujung Ketidakpastian, Warga Terdampak Bencana Bangun Gubuk Darurat Jelang Ramadhan
service

Bireuen, NU Online

Dua bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November lalu. Namun bagi sebagian warga terdampak, waktu seolah berhenti di titik yang sama: tenda pengungsian, lumpur yang belum sepenuhnya dibersihkan, serta rumah yang belum tergantikan. Menjelang bulan suci Ramadhan, kekhawatiran kian menguat, bukan hanya soal ibadah, tetapi juga martabat hidup.

Di Desa Pante Lhong, Kabupaten Bireuen, Aceh, sejumlah warga memilih langkah yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya: membangun gubuk darurat secara mandiri. Kayu sisa banjir, papan bekas, dan terpal plastik menjadi bahan utama. Gubuk-gubuk itu berdiri sederhana dan rapuh, namun sarat makna, sebuah ikhtiar keluar dari ketidakpastian yang terlalu lama.

Asmiati (42), salah seorang warga, memutuskan meninggalkan tenda pengungsian dan menempati gubuk kecil yang ia bangun bersama suaminya. Menurutnya, tinggal terlalu lama di pengungsian terasa semakin berat, terutama menjelang Ramadhan.

“Kami sudah dua bulan di tenda. Mau puasa, rasanya berat kalau terus di pengungsian,” ujarnya.

Atap gubuk tersebut hanya berupa terpal biru yang diikat dengan tali, dengan dinding papan yang tak seragam. Namun bagi Asmiati, ruang sempit itu menghadirkan ketenangan yang tidak ia rasakan di tenda pengungsian.

“Di tenda susah masak, susah jaga aurat, apalagi kalau Ramadhan. Di sini, walau sempit, kami merasa punya rumah,” katanya.

Kisah Asmiati mencerminkan kegelisahan banyak warga terdampak lainnya. Pengungsian yang awalnya menjadi tempat perlindungan darurat kini berubah menjadi ruang yang melelahkan secara fisik dan psikologis. Keterbatasan air bersih, sanitasi, serta ruang privat membuat aktivitas sehari-hari, termasuk ibadah, menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi perempuan, lansia, dan anak-anak.

Menjelang Ramadhan, kebutuhan akan ruang tinggal yang lebih layak menjadi semakin mendesak. Bagi warga terdampak, Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi juga momentum kebersamaan keluarga: sahur, berbuka, dan menjalankan salat tarawih. Kekhawatiran menjalani bulan suci di tenda pengungsian mendorong mereka mengambil risiko dengan membangun gubuk seadanya.

Mantan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bireuen, Haris Munandar atau akrab disapa Gus Atok, menilai fenomena tersebut sebagai ekspresi kelelahan sekaligus keteguhan warga.

“Ini potret kesedihan sekaligus ketabahan. Warga tidak ingin mengeluh, tetapi mereka butuh kepastian. Ramadhan membuat kebutuhan itu terasa semakin nyata,” ujarnya, Selasa pekan lalu.

Menurutnya, pembangunan gubuk darurat merupakan simbol daya juang masyarakat di tengah keterbatasan. Namun kondisi tersebut, kata dia, tidak boleh dinormalisasi.

“Ketabahan warga jangan dijadikan alasan untuk memperlambat penanganan. Negara harus hadir memberi solusi, bukan membiarkan mereka bertahan sendiri,” tegasnya.

Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong masih terasa kuat. Bantuan material datang dari para dermawan, tetangga, dan relawan. Kayu, terpal, serta bahan makanan dibagikan sebisanya. Warga saling menguatkan dengan membersihkan sisa lumpur, memperbaiki akses, dan berbagi cerita tentang masa depan yang mereka harapkan.

Organisasi kemasyarakatan dan tokoh agama juga berupaya menjaga semangat warga melalui pengajian, doa bersama, serta pendampingan psikososial di pengungsian dan desa-desa terdampak. Harapannya sederhana: agar warga tidak kehilangan harapan di tengah penantian.

Namun, di balik semangat bertahan tersebut, pertanyaan besar terus menggantung: kapan kepastian hunian datang? Dua bulan pascabencana, banyak warga masih menunggu realisasi hunian sementara dan hunian tetap. Setiap hari tanpa kepastian memperpanjang kehidupan dalam kondisi darurat, terlebih saat Ramadhan semakin dekat.

Bagi warga Pante Lhong dan desa-desa terdampak lainnya, Ramadhan tahun ini menjadi ujian kesabaran. Di antara gubuk darurat dan tenda pengungsian, mereka menata niat dan harapan. Kesedihan akibat kehilangan bercampur dengan tekad untuk bertahan.

“Yang kami inginkan sederhana,” kata Asmiati menutup ceritanya. “Kami ingin Ramadhan yang tenang, punya tempat berteduh, dan bisa beribadah dengan layak.”

Di situlah Aceh hari ini berdiri, di antara duka dan daya tahan. Dua bulan pascabencana, kesedihan belum sepenuhnya reda, tetapi semangat bertahan tetap menyala. Di bawah terpal biru dan kayu sisa banjir, harapan itu terus dipelihara, menunggu kepastian yang tak lagi tertunda.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.