Mon,7 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Gelar Konferensi Internasional, UNU Blitar Tekankan Penempatan Nilai Kemanusiaan pada Perkembangan Teknologi

Gelar Konferensi Internasional, UNU Blitar Tekankan Penempatan Nilai Kemanusiaan pada Perkembangan Teknologi

gelar-konferensi-internasional,-unu-blitar-tekankan-penempatan-nilai-kemanusiaan-pada-perkembangan-teknologi
Gelar Konferensi Internasional, UNU Blitar Tekankan Penempatan Nilai Kemanusiaan pada Perkembangan Teknologi
service

Blitar, NU Online

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin masuk ke dunia pendidikan. Teknologi ini dapat membantu pembelajaran, penelitian, hingga pekerjaan administratif. Namun, di tengah perkembangan tersebut, muncul persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan teknologi tetap membantu manusia, bukan justru menggantikan peran dan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan?

Pertanyaan itu menjadi salah satu perhatian dalam The 1st International Conference on Eco-Innovation, Education, and Islamic Studies (ICEEIS) 2026 yang diselenggarakan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar secara daring melalui virtual, Sabtu (5/9/2026).

Konferensi yang menjadi bagian dari rangkaian Harlah ke-10 UNU Blitar tersebut mempertemukan 32 presenter dari empat negara. Selain AI dan pendidikan, forum ini membahas inovasi ekologis, keberlanjutan, kearifan lokal, serta kajian Islam.

Saat membuka konferensi, Sekretaris BPP UNU Blitar Rudiyanto Hendra Setiawan menekankan pentingnya menempatkan nilai kemanusiaan dalam merespons perkembangan teknologi.

“Perkembangan teknologi harus kita respons dengan tetap menempatkan nilai dan kemanusiaan sebagai pijakan pendidikan,” ujar Rudiyanto.

Ketua LPPM UNU Blitar sekaligus Ketua Panitia ICEEIS 2026, Ahmad Saifudin, mengatakan forum tersebut diharapkan menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan akademik untuk membaca perubahan yang sedang berlangsung.

“ICEEIS menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan akademik dalam menjawab tantangan pendidikan di era perubahan teknologi,” kata Saif.

Salah satu pembicara kunci, Moses Adeleke Adeoye, mengingatkan bahwa perubahan teknologi tidak dapat dipisahkan dari persoalan etika dan kepemimpinan. Menurut dia, AI dapat menjadi mitra pendidikan, baik dalam pembelajaran, administrasi akademik, maupun penelitian.

Penggunaan AI dapat mengurangi pekerjaan rutin sehingga pendidik dan peneliti memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan penalaran, pendampingan, dan pengambilan keputusan.

Di sisi lain, teknologi tersebut juga membawa risiko, mulai dari bias, persoalan privasi, berkurangnya peran manusia, hingga kesenjangan akses. Karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu memperhatikan keadilan, transparansi, akuntabilitas, inklusivitas, dan keberlanjutan.

Persoalan nilai dan keberlanjutan juga dibawa Hanafi Hussin dari Universiti Malaya, Malaysia. Ia membahas Eko-Islam dan kearifan lokal sebagai sumber bagi pendidikan berkelanjutan. Menurut materi yang disampaikannya, tradisi, ritual, dan pengetahuan masyarakat dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan dan identitas budaya.

Sementara itu, Muhammad Mujab membahas tantangan perguruan tinggi Islam di tengah perkembangan AI. Teknologi dapat membantu mencari, menerjemahkan, dan mengolah sumber pengetahuan keislaman. Namun, AI tetap memiliki keterbatasan dalam memahami metodologi, konteks sosial-historis, dan dimensi nilai.

Risiko halusinasi, yakni munculnya informasi yang tampak meyakinkan tetapi keliru, membuat hasil yang diberikan AI tetap membutuhkan verifikasi.

Presenter konferensi berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan luar negeri, antara lain IAIN Pontianak, Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi, IAI Al-Fatimah Bojonegoro, Universitas Tulungagung, UNU Blitar, The Islamia University of Bahawalpur, dan University of the Punjab, Lahore, Pakistan.

Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, ICEEIS 2026 diarahkan menghasilkan Proceeding ICEEIS. Peserta juga memperoleh Letter of Recommendation (LoR) untuk mendukung publikasi pada jurnal internasional bereputasi.

Kontributor: Wijianto

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.