● Masalah suhu panas di permukiman tidak bisa selesai dengan ‘gentengisasi’.
● Mengganti atap seng ke genteng bukan cuma soal perubahan bahan, tapi juga butuh perombakan rangka yang memerlukan anggaran besar.
● Solusi alternatif lebih murah dan efektif adalah teknologi atap dingin seperti cat reflektif, ditambah penanaman pohon dan menambah ruang hijau.
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana program baru ‘gentengisasi’ saat membuka rapat koordinasi dengan kepala daerah seluruh Indonesia di Sentul, Jawa Barat pada 2 Februari lalu.
Kata Prabowo, program nasional mengganti atap rumah berbahan seng menjadi genteng tersebut penting demi estetika dan menanggulangi udara panas di dalam rumah warga.
Prabowo menilai atap metal atau ‘seng’ kurang meredam panas, mudah berkarat, dan kurang estetik.
Secara kasat mata, tampilan genteng mungkin terlihat lebih sedap dipandang mata. Namun, persoalan hunian warga di Indonesia bukan cuma soal estetika. Solusinya pun tidak sesederhana mengganti bahan atap.

Sebagai akademisi yang mendalami ilmu arsitektur dan perencanaan kota, kami melihat program ini terlalu menyederhanakan isu struktural tanpa melihat persoalan warga sesungguhnya lebih mendalam.
Read more: Ketika kota makin panas dan orang miskin jadi korban utama, pemerintah di mana?
Rumah panas bukan cuma karena atap
Pertama, masalah panas di permukiman warga bukan sekadar urusan jenis atap.
Persoalan ini tidak terlepas dari dampak pemanasan global dan fenomena pulau bahang perkotaan (urban heat island)—kondisi ketika suhu di area perkotaan lebih panas dibanding wilayah sekitarnya.
Kepadatan bangunan, berkurangnya ruang hijau, hingga polusi membuat kota semakin gerah. Jakarta tercatat menjadi salah satu provinsi terpanas di Indonesia dengan intensitas efek pulau bahang perkotaan lebih panas hingga 2,5°C dibanding wilayah sekitar.
Kedua, mengganti atap seng dengan genteng memang bisa mengurangi panas, tetapi biayanya juga lebih mahal.
Selama ini masyarakat lebih banyak memilih atap seng karena harganya yang murah. Sebagai perbandingan, harga atap seng di pasaran berkisar Rp50 ribu per meter persegi, sementara harga genteng tanah liat di kisaran Rp65 ribu per meter persegi.
Selain bahannya yang murah, konstruksi rangka untuk atap berbahan seng juga lebih hemat. Sebab, rangka penyangganya bisa dibuat lebih jarang (jarak antar kuda-kuda 1,6-1,8 m dan jarak reng antara 60-90 cm) dengan kemiringan yang lebih landai (cukup 10–25°). Karena itu, kayu atau baja ringan yang dipakai sebagai rangka atap juga lebih sedikit, jadi biaya lebih murah.
Sementara atap genteng lebih berat dan berukuran kecil-kecil, sehingga membutuhkan material yang lebih banyak untuk konstruksi rangka atap.
Agar mampu menahan beban genteng dan tidak tempias saat hujan, kemiringan atap harus lebih curam (minimal 30°) dan penyangganya harus lebih rapat (jarak reng sekitar 25-30 cm). Artinya, biaya pun lebih besar.
Nah, jika sebuah rumah awalnya dirancang untuk atap seng, lalu ingin diganti menjadi genteng, maka rangka atapnya juga harus dirombak menyesuaikan konstruksi atap genteng, karena beban penutup atap bakal naik sekitar 35 kali lipat.
Perhitungan kami, estimasi biaya mengganti material atap dan rangka sekitar Rp265 ribu per meter persegi. Maka, satu rumah ukuran 36 meter persegi saja bisa membutuhkan biaya sekitar Rp 9,54 juta, belum termasuk upah tukang.
Jika pemerintah menyiapkan anggaran Rp1 triliun untuk program ‘gentengisasi’, maka dana tersebut hanya cukup untuk merenovasi sekitar 105 ribu rumah.
Jika memaksakan konstruksi rangka atap yang tidak sesuai dengan standar, atap berisiko ambruk dan membahayakan keselamatan penghuninya.
Oleh karena itu, evaluasi kelayakan rangka penting dilakukan sebelum melakukan ‘gentengisasi’, terlebih lagi pada rumah-rumah swadaya yang sering dibangun tanpa perhitungan struktur yang ketat.
Solusi alternatif lebih murah
Sebenarnya ada solusi alternatif yang lebih murah dan aman untuk mengurangi panas, juga menambah estetika pada bangunan-bangunan berbahan atap metal, yakni dengan teknologi atap dingin (cool roof) seperti cat reflektif.
Cat berwarna putih dengan bahan khusus ini bekerja dengan cara memantulkan radiasi matahari (solar radiation), sehingga mengurangi penyerapan panas pada atap bangunan.
Cat ini bisa menurunkan suhu permukaan atap dan otomatis mengurangi suhu ruangan dalam bangunan.
Kota-kota besar di dunia seperti New York di Amerika Serikat sudah lama menerapkan teknologi ini untuk melawan fenomena pulau bahang perkotaan dan efisiensi energi pada bangunan-bangunan.
New York menginisiasi proyek NYC CoolRoofs sejak 2009. Pemerintah kota di sana bahkan menawarkan pengecatan dan perawatan gratis bagi bangunan publik seperti organisasi nonprofit, perumahan sosial atau perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, sekolah dan kampus, rumah sakit dan klinik, serta bangunan-bangunan kebudayaan seperti museum dan teater.
Di Indonesia, produk-produk cat reflektif ini sebenarnya juga sudah diproduksi dan mudah ditemui di pasaran. Estimasi harga material cat reflektif per meter persegi sekitar Rp31 ribu. Maka untuk rumah 36 meter persegi hanya membutuhkan biaya sekitar Rp1,12 juta.
Sebuah riset (2025) membuktikan cat reflektif mampu menurunkan panas permukaan atap metal antara 5-15°C dan menurunkan suhu ruangan di bawahnya antara 1-3°C.
Organisasi PBB UN-Habitat dan Bank Dunia juga sudah menetapkan teknologi atap dingin dan cat reflektif sebagai salah satu solusi yang efektif bagi upaya adaptasi pemanasan suhu yang terjadi pada area permukiman dan perkotaan.
Aplikasinya lebih mudah dan umumnya tidak membutuhkan penguatan struktur, sehingga lebih murah dari segi biaya. Faktor ini tentu penting menjadi pertimbangan di tengah agenda efisiensi pemerintahan saat ini.
Pendekatan alami juga penting
Selain solusi teknologi, pendekatan berbasis alam sangat krusial untuk mengurangi suhu panas di area permukiman. Pendekatan ini bisa dilakukan dengan menanam pohon dan menambah ruang terbuka hijau.
Idealnya dalam sebuah kota, warga bisa melihat minimal tiga pohon dari rumah dan sekitar 30% wilayah kota tertutup kanopi pohon di lingkungan tempat tinggalnya.
Selain itu, akses ke ruang terbuka hijau (RTH) seperti taman atau lapangan hijau semestinya harus bisa dijangkau tidak lebih dari 300 meter dari rumah. Jika kita melihat kondisi Jakarta saja, misalnya, tentu sangat jauh dari bayangan ideal itu.
Read more: Mungkinkah kota di masa depan punya ruang hijau yang ideal?
Tugas utama pemerintah adalah melindungi keselamatan dan kesehatan warga dari suhu panas ekstrem, bukan hanya membuat kota terlihat indah. Memikirkan estetika boleh saja, tapi setelah hak dasar masyarakat terpenuhi.
Persoalan suhu panas di permukiman ini tidak bisa selesai hanya dengan mengganti atap (gentengisasi). Suhu panas ekstrem adalah dampak nyata krisis iklim yang menuntut solusi jangka panjang dan berbasis ilmu pengetahuan.
Dalam hal ini, kebijakan adaptasi iklim yang berpihak pada keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan semestinya menjadi fokus utama pemerintah.





Comments are closed.